Kamis, November 26, 2009

Shalat Jumat di Hari ‘Ied

Mustadrak Al Hakim, nomor 1063
Dari Iyas bin Abi Ramlah As Syamy, beliau berkata : Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abu Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam :
هَلْ شَهِدْتَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيْدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ كَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمْعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ (هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه وله شاهد على شرط مسلم)
“Apakah engkau menyaksikan di masa Rasulullah saw. dua ‘ied yang keduanya berkumpul dalam satu hari ?”.
Zaid bin Arqam menjawab : “Ya”.
Mu’awiyah bertanya :“Apa yang dilakukan Rasulullah saw.?“.
Zaid bin Arqam menjawab : “Rasulullah saw shalat ‚ied selanjutnya memberikan keringanan untuk shalat Jumat“, selanjutnya beliau berkata : “Barangsiapa yang akan shalat, maka shalatlah“.
(Hadits ini sanad-nya shahih tetapi tidak dikeluarkan oleh Bukhary dan Muslim tetapi memenuhi syarat shahih Imam Muslim)

Shahih Muslim, nomor 878
Dari Nu’man bin Basyir, beliau berkata :
كَانَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ، فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ، {سَبّحِ اسْمَ رَبّكَ الأَعْلَىَ} و{هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ}.
قَالَ: وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ، فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضاً فِي الصّلاَتَيْنِ.
“Dahulu Rasulullah saw. membaca pada dua shalat ‘Ied dan shalat Jum’at ; sabbihisma rabbikal a’laa dan hal ataaka haditsul ghasyiyah“. Beliau berkata : “Dan apabila berkumpul dua ‘Ied dan Jum’at di dalam satu hari, beliau membaca keduanya juga di dalam dua shalatnya“. Baca selanjutnya......

Rabu, September 09, 2009

Billaah Setelah Lillaah...

KELIRUMOLOGI Pasal 3

Bagi Ki Shadri, pelaksanaan puasa tidaklah memberatkannya karena ketika ia masih berada di alam jahiliyah, ia sudah sering melaksanakan puasa. Bahkan menurut pengakuannya, puasa yang ia lakukan terkadang lebih berat dibandingkan cara-cara puasa yang ia lakukan di masa keislamannya. Ia pernah berpuasa selama tiga hari tiga malam dengan tidak makan dan tidak minum selain air putih. Ia pernah berpuasa tidak bicara dengan siapapun selama satu minggu tanpa putus. Bahkan ia pernah berpuasa tidak memakan makanan jenis hewani dan makanan pokoknya yakni nasi selama empat puluh hari tanpa terputus.

Memang cara berpuasa Ki Shadri di masa jahiliyahnya itu berbeda dengan cara berpuasa yang ia lakukan di masa keislamannya. Demikian pengalaman yang dipaparkan Ki Shadri di Majlis ta’lim Ustadz Mursyid sore itu yang didengarkan oleh murid-murid Ustadz Mursyid yang lainnya. Kata Ki Shadri, dari puasa-puasa yang pernah ia lakukan di masa jahiliyahnya itu, hasilnya adalah ia telah mencapai tingkatan tertentu di dalam urusan ilmu kanuragan. Konon, dahulu Ki Shadri bisa pergi ke suatu tempat yang jauh hanya dalam sekejap, ia bisa menembus dinding untuk memasuki suatu tempat, ia bisa tidak terlihat oleh mata kepala, ia tidak bisa dibinasakan hanya dengan senjata tajam dan ada beberapa kelebihan Ki Shadri lainnya.

Ya iya lah… secara namanya juga Ki Shadri, berasal dari bahasa arab, shadr berarti dada dan shadri berarti dadaku, maksudnya adalah hati manusia yang menembus waktu, menembus jarak, gaib dan untouchable… – pen.

Kembali ke kisah Ki Shadri yang sedang memaparkan pengalamannya di majlis Ustadz Mursyid. Kemudian Ki Shadri menjelaskan bahwa puasanya saat ini jelas berbeda dengan puasanya di masa lalu. Ia telah mengetahui dua syarat agar ibadah diterima oleh Allah. Syarat pertama yaitu suatu ibadah harus ikhlas yakni hanya diniatkan sebagai pengabdian kepada Allah, menjalankan perintah-Nya serta tidak menyertakan sesuatu apapun selain Allah di dalam tujuan ibadah. Dan yang kedua, ibadah harus mengikuti contoh dari Rasulullah saw, tidak mengikuti contoh dari yang lain apalagi hasil karangan sendiri. Dengan jelas Ki Shadri memaparkan hadits-hadits shahih yang mendasari hal-hal tersebut sekalipun yang ia sampaikan hanyalah terjemahannya. Maklum, ia belum banyak tahu bahasa arab bahkan masih belajar membaca huruf arab.

Namun kemudian Ustadz Mursyid, sang guru yang selalu memantau perkembangan prestasi Ki Shadri, termasuk perkembangan kelurusan hati sang murid, menyela pembicaraan Ki Shadri. “Shadri, antum masih belum memenuhi dua syarat diterimanya amal yang antum sebutkan tadi”, kata Ki Mursyid sambil menatap tajam Ki Shadri. Sambil agak tersentak Ki Shadri bertanya : “Apa kekurangan amal saya guru? Saya sudah sesuaikan aturan puasa ini dengan contoh dari Rasulullah saw. sebagaimana hadits-hadits yang engkau terangkan. Selain itu saya sudah ikhlaskan tujuan puasa saya hanya untuk Allah. Tidak ada lagi tujuan-tujuan puasa seperti yang pernah saya lakukan dulu. Saya tidak lagi berniat dengan puasa agar mendapatkan kekebalan dari senjata tajam, tidak ada lagi tujuan agar diperlancar mencari rejeki ataupun niat yang lainnya, puasa saya sekarang hanya untuk menjalankan perintah Allah dan akan menghasilkan peningkatan ketakwaan”. Ki Shadri menghela napas sebentar, kemudian melanjutkan pembicaraannya, “Bahkan sekalipun beberapa minggu lalu dokter mengatakan kepada saya bahwa saya ada masalah dengan kolesterol, tidak ada di dalam hati saya dengan puasa ini agar mendapat kesembuhan dari suatu penyakit. Puasa saya hanya ditujukan bagi Allah. Saya sudah benar meluruskan niat dan cara-cara ibadah saya”, demikian kata Ki Shadri.

Lantas sambil tersenyum namun masih tetap menatap Ki Shadri, Ustadz Mursyid berkata, “OK… kesalahan antum adalah sifat ‘ujub, dengan menganggap kemampuanmu ibadah dengan baik sekarang ini adalah hasil dari kerajinanmu belajar dariku, bukan sebagai pertolongan dan karunia dari Allah. Memang benar, niat antum sudah ikhlas beramal hanya karena Allah (lillah) tetapi antum tidak merasa bahwa kemampuan beramalmu itu hanya atas pertolongan-Nya (billah), padahal segala apapun yang terjadi, terjadi atas kekuasaan dan kehendak-Nya, jangan sekutukan dia dengan sesuatu apapun apalagi dengan dirimu sendiri ………….”.

Wallahu a’lam
Baca selanjutnya......

Rabu, September 02, 2009

BISAKAH BATAL PUASA SEBELUM PERJALANAN DIMULAI ?

KELIRUMOLOGI – PART 2


Suatu hari di saat sahur, di mesjid kampung Ki Shadri terasa sepi. Tak terdengar suara Ki Shadri yang biasanya rajin membangunkan orang-orang di kampungnya melalui pengeras suara mesjid. Orang-orang di kampungnya kemudian bertanya-tanya, kemana Ki Shadri?. Apakah dia masih tidur? Atau jangan-jangan dia sakit?

Setelah shalat shubuh usai, sebagian jamaah mesjid mendatangi rumah Ki Shadri untuk mencari tahu Ada apa dengan Shadri. Sesampainya di rumah Ki Shadri, wah… apa yang mereka lihat ? Ternyata Ki Shadri sedang makan nasi goreng, nikmat banget kayaknya… . Tapi anehnya, saat ia tertangkap basah sedang makan di pagi hari bulan puasa, ia malah menyapa orang-orang yang mendatangi rumahnya dengan wajah innocent.

Setelah para tamunya bertanya, kenapa di pagi hari bulan puasa Ki Shadri malah melahap nasi goreng, sebagai orang yang sekarang sudah mulai nyantri di pengajiannya Ustadz Mursyid dia menjawab dengan menggunakan dalil. “Bukankah kalian tahu firman Allah dalam Al Baqarah 184 dan diulang lagi di 185 yang berbunyi, “…Maka barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain….”. Begitulah kata Ki Shadri, kemudian ia melanjutkan penyampaian hujjah-nya. “Nah… hari ini aku mau curi start mudik, supaya gak ikutan terjebak macet. Makanya aku tidak puasa hari ini dengan dasar dalil yang kusebutkan tadi yang membolehkan seorang musafir tidak berpuasa saat di perjalanan”.

“Tapi kan… “, inilah kalimat pertama yang diungkapkan sahabat-sahabat Ki Shadri yang kemudian memicu perdebatan sengit di antara mereka. Sehingga Ustadz Mursyid, satu-satunya orang yang didengar suaranya oleh Ki Shadri harus turun tangan untuk melerai perdebatan di antara mereka.

Kejadian di atas merupakan salahsatu dari kejadian yang dimuat di dalam Kamus Kelirumologi yang kebetulan belum dicetak dan penyusunannya juga belum selesai.

Dimulailah penjelasan Ustadz Mursyid dengan membacakan sebuah kitab tafsir untuk menjelaskan kalimat “… atau dalam perjalanan…” (Al Baqarah 184 & 185).
“Para ulama bersepakat bahwa musafir (orang yang melakukan perjalanan) di bulan Ramadhan tidak diperbolehkan membatalkan puasanya sebelum perjalanannya dilakukan. Karena seseorang itu tidak dianggap sebagai musafir jika ia baru berniat akan melakukan perjalanan. Ia baru disebut musafir jika perjalanannya itu telah dimulai. Berbeda dengan muqim (orang yang berada di daerah tempat tinggalnya), ia tidak perlu melakukan apapun untuk bisa disebut sebagai muqim karena ketika ia berniat akan tinggal di daerahnya, maka pada saat itu pula ia sedang berada di daerahnya”. (Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh Al Anshary Al Khazrajy Syamsuddin Al Qurthuby (wafat 671H), Al Jami’ li Ahkaam al Quran / Tafsir Al Qurthuby 2/278)
Baca selanjutnya......

Kamis, Agustus 20, 2009

BELAJAR IHSAN MELALUI PUASA

…. Orang itu berkata : “Engkau benar, kemudian jelaskan kepadaku tentang Ihsan”.
Nabi saw. menjawab : “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, tapi apabila engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”
….

Itulah penggalan percakapan Nabi saw. dengan Jibril yang mendatanginya dengan bentuk manusia dan disaksikan para sahabat sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab shahih-nya.

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al ‘Abbad di dalam Fath al Qawy al Matiin, Syarh hadits Arba’iin menjelaskan bahwa Ihsan memiliki derajat yang paling tinggi, ia berada di atas derajat Islam dan Iman. Hadits ini menjelaskan ketinggian derajat ihsan ini. Karena orang yang melakukan ibadah seolah-olah dia berada di hadapan Allah, berarti telah beribadah secara sempurna. Tetapi jika belum merasakan hal ini hendaknya orang itu merasakan kalau dirinya itu sedang diawasi oleh Allah, sehingga dia takut apabila melakukan sesuatu yang dilarang-Nya dan dia akan melakukan segala yang diperintahkan-Nya.

Ketika seseorang sedang menyendiri di dalam rumah di siang hari bulan Ramadhan, sesungguhnya ia bisa saja makan atau minum karena tidak akan ada orang lain yang melihatnya. Tetapi orang-orang yang benar-benar berkeinginan menjalankan ibadah puasa tidak akan melakukan hal itu sekalipun bisa. Dalam hatinya ia berkata, “Aku memang tidak dilihat manusia, tetapi aku dilihat oleh Allah”.
Maka puasa merupakan latihan agar bisa bersikap ihsan sebagaimana hadits di atas.

Bayangkan jika semua umat islam negri ini puasanya sukses dan terbentuk sikap ihsan pada setiap dirinya. Maka tidak akan ada lagi korupsi, manipulasi, kolusi, prostitusi, aborsi dan hal-hal maksiat lain baik yang berakhiran “si” atau pun tidak. Karena semua akan merasa selalu dilihat oleh Allah.

Tetapi jika puasa kita tidak sukses, maka kita khawatir dengan apa yang disabdakan Nabi saw. “Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi dari puasanya itu tidak ada hasil apapun kecuali lapar dan dahaga”.

Semoga saya dan juga anda bisa menghasilkan kesuksesan dari ibadah puasa bulan Ramadhan tahun ini. Amien…

SELAMAT BERIBADAH DI BULAN RAMADHAN…
Baca selanjutnya......

Rabu, Agustus 05, 2009

JALAN CINTA RABI'AH

Karena cinta dia merasa kecil tetapi karena itu pula dia dianggap besar. Karena cinta dia rela menderita tetapi karena itu pula dia sangat bahagia. Karena cinta dia mengasingkan diri, tetapi karena itu pula namanya tertulis dengan tinta emas sampai saat ini. Dia adalah orang yang meyakini kebenaran, keindahan dan keagungan cintanya hingga tak ada sedikit pun ruang di hatinya yang terisi oleh selain kecintaan kepada Kekasihnya. Dia campakkan apapun yang ada di Bumi dan di Langit karena perasaan cinta kepada Kekasihnya itu.

Di antara syair masyhurnya berbunyi:
Bagaimanapun kekasihku tidak sama dengan kekasih yang lain. Tidak ada yang memiliki satu tempat pun di hatiku selain Dia. Sekalipun Dia gaib dari penglihatan bahkan dari diriku sekalipun, tetapi Ia tidak pernah gaib dari hatiku walau sedetik pun”.

Dia adalah Rabi’ah binti Isma’il Al ‘Adawiyyah Al Bashriyah atau lebih dikenal dengan Rabi’ah Al ‘Adawiyah, ibu para sufi besar dunia. Dilahirkan di Bashrah Irak pada awal abad ke dua hijriyah atau awal abad ke 8 masehi.

Di masa Rabi’ah dilahirkan, umat Islam berada di bawah dinasti pemerintahan Bani Umayah. Tetapi masyarakat Islam yang sebelumnya terkenal dengan ketakwaan mereka kepada Allah, pada masa itu telah mulai memudar. Mereka berlomba-lomba mencari kekayaan, kemaksiatan menyebar luas dan pesta-pesta begitu diagungkan, keimanan mulai tumpul. Akhlak hidup wara’ dan zuhud sudah mulai lenyap. Maka kemudian lahirlah gerakan tashawuf Islam dipimpin Hasan Al Bashry untuk mengatasi perbudakan hawa nafsu yang melanda masyarakat muslim saat itu.

Setelah ditinggal kedua orang tuanya, Rabi’ah yang masih kecil jatuh ke tangan orang yang kejam, yang menjualnya sebagai budak belian dengan harga sangat murah. Setelah bebas dari perbudakan, Rabiah pergi ke tempat- tempat sunyi untuk menjalani hidup terpisah dari manusia lain dan mendekatkan diri hanya kepada Tuhannya.

Di dalam kesunyian malam Rabi’ah berkata :
Oh Tuhanku… bintang-bintang bersinar gemerlap, manusia tertidur nyenyak, raja-raja menutup pintunya dan tiap pecinta sedang asyik bersama kekasihnya. Tapi di sinilah aku sendirian bersama Engkau.

Dan ketika fajar tiba, Rabi’ah pun berkata :
Ya Tuhanku, malam telah berlalu dan siang pun menjelang. Seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesraan dengan-Mu. Tuhanku, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kau tolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depannya karena cintaku telah terikat dengan-Mu.

Lantas ketika Rabiah membuka jendela kamarnya sambil memandang alam lepas ia pun berbisik :
Tuhanku, ketika kudengar margasatwa bersuara dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Ketika kudengar desiran angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu”.

Sejak saat itu, seluruh hidupnya diabdikan hanya kepada Allah swt. Hanya doa dan dzikir yang menjadi hiasan hidupnya. Ia lalaikan dunia demi cita-cita akhiratnya. Meskipun banyak pelamar datang, ia tak mau untuk menerimanya. Termasuk lamaran dari orang suci terkenal Hasan Al Bashry. Ia berlaku seperti ini, hanya karena ingin mencurahkan cintanya hanya kepada satu Kekasihnya. Untuk hal ini ia berkata :
Perkawinan itu memang perlu bagi orang yang mempunyai pilihan. Adapun aku tidak mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan aku di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa pun.

Rabi’ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan kepada-Nya sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulai pemahaman sufinya dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah dikatakannya :
Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar hati yang mencintai-Mu, lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?

Selama tiga puluh tahun ia selalu menjerit dalam doanya :
Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tidak ada satu pun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.

Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain selain Allah. Dia tidak mempunyai tujuan selain untuk mencapai keridlaan-Nya. Rabi’ah telah mempertalikan seluruh pikiran dan perasaannya hanya kepada akhirat semata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya.

Cinta Rabi’ah tak dapat disebut sebagai cinta yang mengharap balasan. Justru, yang dia tempuh adalah perjalanan mencapai ketulusan. Ia berkata, “Jika aku menyembah-Mu karena takut pada api neraka maka masukkan aku di dalamnya! Jika aku menyembah-Mu karena tamak kepada surga-Mu, maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu, maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku kesempatan untuk melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.

Begitulah keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah (801M) ketika itu usianya menjangkau 80 tahun. Semoga Allah meredlainya, amin …..
Baca selanjutnya......

Kamis, Juli 09, 2009

ISLAM UNTUK POLITIK ATAU POLITIK UNTUK ISLAM

Sekitar pertengahan 1997, sebelum krisis moneter melanda negeri ini, suasana politik sudah menghangat. Di antaranya, beberapa tokoh politik dan mahasiswa kembali menyuarakan demokrasi mengkritik pemerintah saat itu yang dinilai tidak demokratis. Kasus 27 Juli terjadi di tahun ini, kasus penangkapan mahasiswa tokoh PRD di tahun ini juga dan ada beberapa peristiwa lainnya.

Ada satu peristiwa yang saya ingat di pertengahan tahun 1997 ini. Saat itu saya sedang bertugas mengerjakan proyek di Bali. Ketika saya bersama teman-teman keluar dari Bandara Ngurah Rai, kami melihat di jalan-jalan banyak spanduk yang isinya hujatan dari masyarakat Bali kepada seorang tokoh sebuah partai Islam (ingat, saat itu di Indonesia hanya ada 3 partai, yakni satu partai pemerintah, satu partai mewadahi aspirasi umat Islam ??? dan satu lagi partai nasionalis non-pemerintah ???). Karena penasaran, kemudian saya update berita dari orang-orang yang saya jumpai.

Ternyata gara-garanya, karena tokoh partai Islam itu, sebut saja Mr. S, mengatakan bahwa Ibu M agamanya tidak jelas. Padahal Ibu M itu sangat dikagumi oleh masyarakat Bali dan saat itu sudah menjadi tokoh sebuah partai yang terus menyelenggarakan mimbar dekmokrasi di Jakarta, mengkritik pemerintah bahkan disebut-sebut akan dijadikan sebagai calon presiden. Kata mereka, ketika ibu M berkunjung ke Bali, tokoh masyarakat Bali memintanya untuk mengikuti upacara di sebuah Pura. Upacara itu berisi pamitan Ibu M mewakili neneknya yang warga asli Bali yang ketika pergi meninggalkan Bali dulu belum mengadakan upacara sebagaimana yang biasa dilakukan orang Bali apabila akan meninggalkan kampung halamannya. Kehadiran beliau di upacara itulah, yang dikritik Mr. S dengan mengatakan bahwa Ibu M agamanya tidak jelas sehingga bagaimana mungkin bisa dicalonkan menjadi presiden.

Saya tidak tahu, apakah perkataan Mr. S. itu dalam rangka menggunakan agama untuk kepentingan politiknya atau tidak. Sebagaimana saya pun tidak tahu, apakah kehadiran Ibu M di sebuah upacara keagamaan di Bali itu untuk kepentingan politik juga atau alasan lainnya?.

Namun isu agama yang dikaitkan dengan kepentingan politik jelas sering kali kita temui. Pada Sidang Umum MPR 1999, kita saksikan ketika seorang wanita dijegal untuk menjadi presiden bukan dengan isu kapabilitas, tetapi dengan dalil agama, katanya wanita tidak boleh menjadi pemimpin. Tapi lucunya sekitar tiga tahun kemudian ketika malah wanita yang menjadi presiden, eh…. yang menjadi wakilnya malah ketua umum sebuah partai Islam, yang dulu habis-habisan menyerukan anti presiden wanita.

Sekarang kita temui isu tentang kerudung, bagi capres atau istri-istri capres, isu satu-satunya capres yang belum pernah beribadah haji, isu istri capres yang katanya tidak beragama Islam, isu hanya ada satu-satunya capres/cawapres yang lancar membaca Al Quran (ayo tebak siapa...?) ... etc.

Sudahlah Bos… jangan peralat agama untuk tujuan politik sempit anda. Tapi jika anda berpolitik untuk kepentingan agama, maka anda layak dapat bintang. “…dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa”. (Al Baqarah : 41)
Baca selanjutnya......

Selasa, Mei 12, 2009

Ada Apa Dengan Doa

Seorang anak kecil meminta ice cream kepada ibunya. Namun ibunya tidak mau memberikan karena saat itu anaknya sedang sakit batuk. Anak itu terus merengek hingga menangis. Tapi tangisan anak itu tidak sedikitpun menggeser keyakinan Sang Ibu untuk tidak menuruti permintaan anaknya. Sekalipun anaknya itu berteriak mengatakan kalau ibunya itu orang yang pelit, ibunya hanya tersenyum kecil, karena dia yakin atas kebenaran tindakannya sebagai perwujudan sikap sayang kepada anaknya.

Kisah ini pernah melenyapkan sebuah kegelisahan dalam hati saya setelah lama bertanya-tanya tentang doa yang rasanya tidak dipenuhi oleh Allah. Kenapa berulang-ulang sebuah doa saya sampaikan, tetapi rasanya tidak pernah dipenuhi oleh-Nya. Padahal bukankah Dia berfirman :
“Dan Tuhan kalian berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian …”. (Al Mukmin : 40)

Hingga kegelisahan itu hampir saja menggoyang keimanan saya terhadap firman-Nya. Tidak mungkin firman-Nya itu salah, namun faktanya, terkadang keinginan yang dihantarkan dalam doa seperti tidak terjawab.

Alhamdu lillah kisah sederhana di atas menjawab seribu tanya tentang doa yang rasanya belum terjawab. Bahwa terkadang kita meminta sesuatu yang menurut kita baik bagi diri kita, padahal menurut Allah, apa yang kita pinta itu akan berakibat buruk bagi diri kita.
“Dan manusia berdoa untuk (meminta) keburukan seolah-olah dia meminta kebaikan, dan manusia itu bersifat tergesa-gesa”. (Al Israa : 11)
Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita dibanding diri kita sendiri. Kita hanya menduga-duga, menilai sesuatu dengan keterbatasan pengetahuan atau bahkan disertai dorongan hawa nafsu.
“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Al Baqarah : 216)

Allah Yang Maha Kaya akan memberikan apapun yang kita minta, namun Dia pun Maha Penyayang dan Maha Mengetahui, sehingga Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita dibandingkan diri kita sendiri. Ketika apa yang kita minta tidak baik bagi diri kita, mungkin Dia memberikan penggantinya atau menangguhkan pemberiannya.

Doa kita pasti dipenuhi oleh Allah apabila memenuhi syarat-syarat ijabah doa. Muhammad bin Shalih bin Muhammad Al ‘Utsaimin di dalam bukunya Syarh Riyadl as Shalihiin menjelaskan syarat-syarat bagi ijabah doa sebagai berikut :
1. Ikhlash, tidak syirik (menyekutukan) Allah ketika berdoa dan tidak bersikap riya atau sum’ah (ingin dipuji orang yang melihat atau mendengar doa kita).
2. Berdoa tidak melampui batas dalam cara maupun isinya.
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (Al A’raaf : 55)
Maka jika seorang hamba meminta sesuatu yang diharamkan, maka doanya tidak akan diterima. Begitupun jika berdoa meminta sesuatu yang bertentangan dengan ketetapan Allah, seperti jika seseorang meminta agar dirinya dijadikan sebagai seorang Nabi, maka doanya pasti ditolak.
3. Yakin bahwa Allah akan memberikan apa yang diminta. Berdoa sambil ada keraguan di dalam hati, tidak akan di-ijabah oleh-Nya.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan beriman kepada-Ku, agar mereka berada dalam kebenaran”. (Al Baqarah : 186)
4. Harus disampaikan dengan penuh kesungguhan. Hanya Allah yang bisa memenuhi kebutuhan kita dan Dia tidak membutuhkan kita.
5. Tidak memakan makanan yang haram. Diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah :
"…. Kemudian Rasulullah saw. menyebut tentang seorang pemuda yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, mukanya berrdebu dan dia mengangkat tangan ke langit: Wahai Tuhanku...wahai Tuhanku... sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram. Dan dia dibesarkan dengan memakan makanan haram maka bagaimana mungkin doanya akan di-ijabah”.
Wallahu a’lam

Baca selanjutnya......

Rabu, April 01, 2009

MENYIKAPI TAQDIR

Dalam setengah bait sya’ir pada sebuah buku tentang tauhid bernama Jauharah at Tauhiid disebutkan :
وَالْقُدْرَةُ بِمُمْكِنٍ تَعَلَّقَتْ
"Qudrah (kekuasaan) Allah itu berkaitan dengan sesuatu yang mungkin terjadi".

Dengan kata lain, taqdir di dunia ini selalu terjadi melalui al asbab al ‘adiyah, sebab-sebab yang logis.

Jika anda sehabis shalat berdoa memohon kepada Allah agar di depan rumah anda ada pohon mangga berbuah lebat, maka yakinilah sesungguhnya Dia Maha Kuasa mewujudkannya secara langsung pada saat doa anda selesai, bahkan lebih cepat dari itu. Namun perlu diketahui bahwa sesungguhnya Allah telah men-taqdir-kan hukum-hukum yang berlaku di atas permukaan bumi. Jika anda berada di Surga, insya Allah apa yang anda minta akan segera hadir di hadapan anda. Tetapi taqdir Allah di dunia menetapkan bahwa pohon mangga berbuah lebat yang anda inginkan itu harus anda tanam dan pelihara terlebih dahulu, ada proses yang harus dilalui. Kemudian apabila akhirnya pohon mangga itu tumbuh sesuai harapan anda, maka itulah taqdir dari-Nya melalui sebab anda menanam dan memelihara dengan baik serta didukung sebab-sebab lainnya. Namun jika pohon mangga itu kemudian tidak tumbuh sesuai harapan anda, itu pun taqdir dari-Nya yang tentunya bisa juga dijelaskan sebab-sebab logisnya.

Allah menciptakan alam semesta ini beserta taqdir bagi mereka. Allah taqdir-kan matahari terbit di timur dan terbenam di barat, Allah taqdir-kan setiap benda jatuh ke bawah, tidak ke atas, bumi mengelilingi matahari, bulan mengelilingi bumi, siang dan malam silih berganti, bernafas menghirup oxygen dan mengeluarkan CO2, ikan hidup di air, manusia hidup di darat dan banyak lagi hukum-hukum yang sudah di-taqdir-kan oleh-Nya di muka bumi ini. Perhatikan firman-Nya :
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah taqdir Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah men-taqdir-kan bagi bulan tempat-tempat singgah, sehingga (setelah dia sampai ke tempat singgah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua”.
(Yasin : 38-39)

Taqdir, ketetapan atau hukum-hukum Allah yang ditetapkan bagi alam semesta ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh seluruh makhluknya. Semua tunduk kepada ketetapan-Nya ini. Dan ketetapan Allah bagi alam semesta ini, kemudian dianggap orang-orang sebagai sesuatu yang logis alias mungkin atau wajar terjadi pada alam semesta ini. Jika benda jatuh ke bawah disebut logis, tetapi tidak logis jika jatuh ke atas. Padahal jika sejak pertama Allah menetapkan benda-benda jatuh ke atas, maka hal inilah yang menjadi logis. Begitupun ketika matahari terbit di timur, kejadian ini tidak dianggap aneh karena sejak dahulu ditetapkan oleh-Nya seperti itu. Tetapi jika terjadi kondisi sebaliknya, maka orang-orang akan menganggap aneh. Padahal bagi Allah, menerbitkan matahari dari barat sama mudahnya dengan menerbitkannya dari timur.

Jika seorang teman anda bertanya, “Kenapa si Fulan meninggal dunia ?”. Jika anda menjawab “Karena taqdir”, maka jawaban anda benar tetapi bukan jawaban yang itu yang diharapkan si penanya, karena kalau jawabannya seperti itu, si penanya juga sudah tahu. Tentunya teman anda mengharapkan anda menjawab mengenai penyebabnya. Mungkin jawaban anda, “Karena dia sakit kanker”, misalnya. Jadi takdir meniggal bagi orang yang sedang dibicarakan, melalui satu sebab logis yaitu penyakit kanker.
Tapi perlu juga diingat, bahwa menderita penyakit kanker yang menjadi sebab meninggalnya orang itu, merupakan taqdir pula. Sehingga bisa saja kemudian muncul lagi pertanyaan, “Kenapa dia sakit kanker?”. Dan jawaban untuk pertanyaan ini selain “Karena taqdir”, bisa juga dijawab dengan penyebabnya, misalnya saja “Karena dia banyak merokok”. Lalu, “Kenapa dia banyak merokok ?”, tentunya ‘banyak merokok’ itu merupakan taqdir, tetapi taqdir tersebut ada penyebabnya juga, misalnya “Karena lingkungan perokok mempengaruhinya”.
Jadi, “hasil” bersama “proses”, keduanya merupakan taqdir dari-Nya. Allah swt. berfirman :
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.
(Ash Shaaffaat : 96)

Kemudian muncul pertanyaan, apakah Allah mungkin berkehendak menetapkan sesuatu yang tidak logis di dunia ini ? Jawabannya, kenapa tidak? Jika Dia berkehendak siapa yang bisa menghalanginya.
“Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.
(Al Buruuj : 16)
Dan buktinya, kejadian-kejadian khawaariqul ‘aadah (kejadian di luar kebiasaan) atau irrasional sudah sering terjadi.
Kita mengenal kejadian di luar kebiasaan yang terjadi pada para Rasul, yang disebut mukjizat. Ada orang saleh yang akhirnya diberi keistimewaan luar biasa yang disebut karamah atau ma’unah. Baik mukjizat, karamah maupun ma’unah, semuanya datang dengan tiba-tiba dari Allah, atas kehendak-Nya tanpa diusahakan atau dipelajari sebelumnya. Dan adapula kejadian irasional yang sengaja diusahakan oleh seseorang dan bukan anugrah dari Allah atas kesalehannya, ini namanya sihir.
----------
Taqdir hanya diketahui setelah terjadi, sebelum terjadi, manusia tidak mengetahui taqdir bagi dirinya. Maka tugas kita adalah bekerja keras dan berdoa untuk mendapatkan hal yang terbaik. Setelah itu, apapun hasilnya, maka itulah taqdir buat kita. Maka orang yang menerima taqdir, tidak akan menjadi sombong ketika mengalami kesuksesan. Dan dia pun tidak akan putus asa ketika mengalami kegagalan. Karena dia menyadari bahwa semuanya terjadi atas kekuasaan dan kehendak-Nya.
Perhatikan firman Allah swt. :
“Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah." Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”.
(An Nisaa : 78-79)
Pada An Nisaa : 78 di atas sangat tegas disebutkan bahwa "Semuanya (datang) dari sisi Allah.". Namun mungkin ada yang bertanya, kenapa ayat 79 (“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”.), sepertinya bertentangan dengan ayat 78.
Ayat 78 berbicara tentang kebenarannya bahwa "Semuanya (datang) dari sisi Allah." Sebagaimana dalil-dalil lain menguatkannya. Adapun ayat 79 bimbingan tentang etika, jangan selalu menghubung-hubungkan keburukan kepada Allah, sedangkan kebaikan selalu dihubungkan kepada diri sendiri. Seperti terkadang ada orang yang berkata ketika dia sakit, “Saya sedang diberi musibah oleh Allah, ini adalah taqdir-Nya”, tetapi ketika mendapatkan kesuksesan dia berkata, : “Nah… beginilah hasilnya kalau kita mau bekerja keras”. Semuanya datang dari Allah, tetapi contoh kata-kata orang tadi adalah terbalik, seharusnya dia menghubungkan kebaikan yang diterimanya kepada Allah dan musibah yang diterimanya kepada dirinya.
Menunjukkan kepada pemahaman ini adalah akhir ayat 78, .”Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?”. Maka berbicara itu harus beretika, apalagi berhubungan dengan Allah.
----------
Ketahuilah bahwa sesuatu yang dinilai baik oleh kita belum tentu sebenarnya baik menurut Allah. Begitupun sebaliknya, sesuatu yang dirasakan tidak enak, bisa jadi adalah baik bagi kita menurut Allah. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi, ia hanya menduga-duga.
“Bisa saja kalian membenci susuatu padahal hal itu baik bagi kalian. Dan bisa saja kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”
(Al Baqoroh – 216)

Maka perlu adanya sabar, mampu menahan diri dari segala hal yang dirasakan tidak enak, tawakkal : menyerahkan segala urusan kepada Allah, husnudz dzann : berbaik sangka kepada Allah, ridla : merasa senang dengan apa yang diberikan-Nya, kemudian syukur : berterima kasih atas segala yang diberikan-Nya.

Wallahu a'alam
Baca selanjutnya......

Jumat, Maret 06, 2009

MAKNA TAUHID

معني التوحيد
Makna tauhid secara bahasa adalah :
إِفْرَادُ الشَّيْءِ عَنْ غَيْرِه
Artinya menyendirikan, mengasingkan atau memisahkan sesuatu dari yang lainnyaِ.
Sedangkan makna tauhid menurut syara’ adalah :
إِفْرَادُ اللهِ تَعَالى بِالْعِبَادَةِ
Artinya mengesakan Allah swt dalam ibadah.

Tauhid terdiri dari tiga macam, yaitu :
1. Tauhid Rububiyyah توحيد الربوبية
2. Tauhid Uluhiyyah توحيد الألوهية
3. Tauhid Asma wa Sifaat ( توحيد الأسماء والصفات )



dari I'anah al Mustafiid,
Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan

Baca selanjutnya......

Tauhid Rububiyyah

Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, pemberian rizki, menghidupkan, mematikan dan pengaturan seluruh makhluk. Dengan tauhid rububiyyah ini, berarti tidak ada yang menciptakan, tidak ada yang memberi rizki, tidak ada yang menghidupkan, tidak ada yang mematikan, tidak ada yang memberikan kebaikan ataupun keburukan kecuali Allah swt.

Tauhid rububiyyah ini mengesakan Allah dalam hal pekerjaan-Nya (af’al). Berarti tidak ada sesuatu atau seseorang pun yang menyertai Allah dalam penciptaan, pemberian rizki, menghidupkan dan mematikan.
أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَإِلهٌ مَعَ اللهِ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ [النمل ٦٤

“Atau siapakah yang memulai penciptaan (manusia), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah ada tuhan (yang lain) bersama Allah?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".
(An Naml : 64)

Untuk tauhid rububiyyah ini, banyak orang yang mengakuinya padahal mereka bukanlah seorang muslim sebagaimana dijelaskan Allah di dalam banyak ayat di dalam Al Quran. Di antaranya :
وَ لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ الله ُقُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ أَرَادَنِيَ الله ُبِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِيْ بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ الله ُعَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُوْنَ [الزمر ٣٨

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?”. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”.
(Az Zumar : 38)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُوْلُوْنَ الله ُفَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُوْنَ [يونس ٣١

“Katakanlah: "Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” “.
(Yunus : 31)

Masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan dan yang mematikan. Padahal meskipun mereka mengakui hal ini mereka bukanlah muslim. Hal ini terjadi karena mereka memiliki tauhid rububiyyah tetapi tidak memiliki tauhid uluhiyyah.

Tidak ada orang yang mengingkari tauhid rububiyyah ini kecuali orang-orang yang bersikap keterlaluan, orang itu mengingkari Allah secara lahiriyah, tetapi di dalam lubuk hatinya dia meyakini-Nya. Di antara orang yang seperti ini adalah Fir’aun. Sekalipun dia menentang adanya Tuhan dengan perkataannya : “Akulah tuhan yang maha tinggi” (An Nazi’at : 24), tetapi di dalam lubuk hatinya dia mengakui bahwa dirinya bukanlah tuhan, dia mengakui bahwa dirinya bukan pencipta dan bukan pemberi rizki. Di dalam hatinya dia mengakui bahwa Allah adalah yang menciptakan dan memberikan rizki. Demikian pula orang-orang atheis di zaman ini, penentangan mereka kepada Tuhan itu hanyalah bersifat lahiriyah. Karena setiap orang yang berakal mengetahui bahwa alam ini tidak akan ada tanpa adanya Pencipta, Pengatur dan Yang mengadakan. Setiap orang berakal mengenal tauhid rububiyyah ini.
Baca selanjutnya......

Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Sehingga tidak ada yang disembah selain Allah swt. Seseorang tidak shalat, tidak berdoa, tidak berkurban, tidak melakukan nadzar, tidak beribadah haji, tidak ber’umrah, tidak menunaikan zakat, tidak bersahadaqah dan tidak melakukan semua ibadah yang lainnya, kecuali hanya karena Allah.

Di dalam hal inilah pertentangan yang terjadi antara para rasul dengan umat-umatnya. Umat-umat terdahulu telah mengakui bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan, yang mematikan dan yang mengatur segala hal. Tetapi mereka tidak mengesakan Allah dalam hal ibadah.

Tauhid Uluhiyyah hanya diakui oleh orang-orang yang beriman yakni orang-orang yang mengikuti ajaran para rasul. Adapun orang-orang kafir, mereka mengingkari tauhid uluhiyyah. Dengan pengertian bahwa mereka tidak mengesakan Allah dalam ibadah sekalipun mereka mengakui tauhid rububiyyah.

Dengan demikian, ketika Nabi saw mengajak orang-orang musyrik untuk membaca
Laa Ilaaha illallah , tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah), mereka menolaknya, sebagaimana firman Allah :
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلهًا وَاحِدًا إِنَّ هذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ . وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوْا وَاصْبِرُوْا عَلي آلِهَتِكُمْ إِنَّ هذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ . مَا سَمِعْنَا بِهذَا فِيْ الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ . أَأُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْ ذِكْرِيْ بَلْ لَمَّا يَذُوْقُوْا عَذَابِ . أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّك العزيز الوهاب
[٥٩ ص ]
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”.
“Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya Ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki”.
“Kami tidak pernah mendengar hal Ini dalam agama yang terakhir. Ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan”
“ “Mengapa Al Quran itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Quran-Ku, dan Sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku”.
“Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu yang Maha Perkasa lagi Maha pemberi ? “.

(Shaad : 5-9)

Orang-orang musyrik itu menolak untuk mengucapkan kalimah Laa Ilaah illallah, mereka mengenal tauhid rububiyyah tetapi menolak tauhid uluhiyyah. Mereka mengatakan bahwa perantara-perantara mereka itu akan menolong mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah :
أَلَا ِللهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ، وَالَّذِيْنَ ا تَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَي اللهِ زُلْفًي [الزمر : ٣]
“Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya” “.
(Az Zumar : 3)

Orang-orang musyrik tidak mau meninggalkan tuhan-tuhan mereka, sebagaimana dijelaskan di dalam Al Quran tentang perkataan kaum nabi Nuh a.s. :
وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًا [نوح :٢٣]
“Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr *)".
(Nuh : 23)
*) Wadd, suwwa', yaghuts, ya'uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh.

Kesimpulannya, tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam beribadah dan tidak melakukan penyembahan kepada selain Allah. Inilah ajaran yang dibawa oleh para Rasul dan terdapat di dalam kitab-kitab suci, sebagaimana firman Allah swt :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلًا أَنِ اعْبُدُوْا اللهَ وَاجْتَنِبُوْا الطَّاغُوْتَ [النحل :٣٦]

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut*) ”.
(An Nahl : 36)
*) Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

Orang-orang musyrik menentang tauhid uluhiyyah, mereka adalah penduduk bumi terbesar dari dulu sampai sekarang. Mereka menolak untuk meninggalkan tuhan-tuhan mereka dan menolak untuk mengesakan Allah dalam ibadah dan memurnikan agama hanya kepada Allah. Mereka menduga bahwa perantara-perantara mereka bisa menolong mereka di sisi Allah dan akan mendekatkan mereka kepada Allah :
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَكَانُوْا مُسْتَبْصِرِيْنَ [العنكبوت :٣٨]
“Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam”.
(Al Ankabut : 38)
Baca selanjutnya......

Tauhid Asmaa wa Shifaat

Pengertian tauhid asmaa wa shifaat ( توحيد الأسمآء والصفات )adalah kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah saw. tanpa adanya pembelokkan makna (tahrif), pengingkaran (ta’thiil), penggambaran (takyiif) dan peyerupaan(tamtsiil) sesuai dengan firman-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ [الشوري ١١]
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”.
(Asy Syuuraa : 11)

Maka kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah swt. sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah saw. seperti sifat ‘ilmu (mengetahui), Rahm (mengasihi), Sama’ (mendengar), Bashar (melihat) dan lain-lain. Begitupun sifat-sifat dzat-Nya, seperti wajah dan tangan.

Kita tidak perlu terlalu memperdalam pembahasan nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan menggunakan akal, pendapat dan pemikiran kita. Tetapi kita mengatakan bahwa Allah swt memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya. Memang pada diri makhluk terdapat nama-nama dan sifat-sifat, tetapi kesamaan nama dan pengertiannya tidak berarti merupakan kesamaan hakikatnya. Tidak ada yang mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah selain Allah swt. Maka janganlah menyerupakan-Nya dengan makhluk, karena Yang Menciptakan (Al Khaliq) tidak sama dengan yang diciptakan (makhluk).

Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah swt. tidaklah berarti menyerupakan-Nya dengan makhluk seperti yang dikhawatirkan oleh orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah (mu’aththilah) dan orang-orang yang biasa men-takwil (menafsirkan) nama-nama dan sifat-sifat Allah. Karena sesungguhnya sangatlah jelas perbedaan antara makhluk (yang diciptakan) dengan khaliq (Yang Menciptakan).
Sebagai contoh, diri setiap makhluk memiliki perbedaan-perbedaan. Seperti gajah tidaklah sama dengan kucing dan tidak sama pula dengan lalat sekalipun di antara mereka terdapat kesamaan di dalam beberapa sifat. Baik gajah, kucing maupun lalat, semuanya memiliki sifat mendengar dan melihat. Tetapi kesamaan sifat di antara mereka ini tidak berarti mereka sama. Gajah, kucing dengan lalat, meskipun mereka memiliki kesamaan dalam beberapa sebutan dari sifat-sifat mereka, tetapi hakikat dan maknanya tetap berbeda.
Apabila perbedaan ini terjadi di antara para makhluk maka apalagi antara khaliq (Yang Menciptakan) dengan makhluk (yang diciptakan).

Kita semua membedakan nama-nama dan sifat-sifat Allah swt. yang telah ditetapkan oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya saw. dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk. Terhadap nama-nama dan sifat-sifat itu, kita tidak melakukan pengingkaran (ta’thiil), pembelokkan makna (tahriif), penggambaran (takyiif) ataupun penyerupaan (tamtsiil).

Firman Allah pada surat As Syuraa ayat 11 yang dituliskan di atas (“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”.), menegaskan tidak adanya keserupaan antara Allah dengan seluruh makhluk, tetapi bersamaan dengan itu Allah swt. menetapkan sifat mendengar (sama’) dan melihat (bashar) pada dzat-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa sifat mendengar, melihat dan sifat-sifat Allah swt lainnya itu tidak bisa diserupakan dengan sifat mendengar dan melihatnya para makhluk. Allah swt. berfirman :
فَلَا تَضْرِبُوْا ِللهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ الله َيَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ [النحل ٧٤]
Maka janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui”.
(An Nahl : 74)
Baca selanjutnya......

Selasa, Februari 24, 2009

Memilih Jalan Kumbakarna atau Wibisana

Karena Rahwana, Raja Alengka menculik Dewi Shinta istri Sri Rama dari Ayodya, dan sebelumnya Rahwana pun pernah mengadu domba kakak beradik Prabu Sugriwa dan Prabu Subali, maka Sri Rama dibantu pasukan Prabu Sugriwa menggempur Negara Alengka. Awalnya masalah pribadi, tetapi karena menyangkut pribadi para elit suatu negara maka rakyat yang tak berdosa menjadi korban juga.

Hanya sedikit dari saudara ataupun rakyat Rahwana yang setuju terhadap tindakannya. Namun mereka yang tidak setuju, tidak berdaya dan tidak berani berkonfrontasi dengan Sang Diktator Dzalim dan suka bertindak sewenang-wenang ini yang telah berhasil membuat sistem dzalim serta memutarbalikkan kebatilan seolah-olah kebenaran.

Adalah Raden Wibisana, adik bungsu Rahwana yang dengan tegas membantah sistem pemerintahan Rahwana. Suatu ketika Rahwana meminta Wibisana untuk ikut berperang melawan Sri Rama dan pasukan kera dari Gua Kiskenda pimpinan Prabu Sugriwa. Namun permintaan Rahwana itu ditolak mentah-mentah oleh Wibisana, malah ia meminta Rahwana untuk mengembalikan Dewi Shinta ke pangkuan Sri Rama. Sejak saat itulah, Rahwana marah besar kepada Wibisana dan mengusirnya dari istana. Lalu, Wibisana mengambil keputusan untuk meninggalkan Negaranya dan bergabung dengan Sri Rama, musuh bebuyutan kakaknya.

Mungkin keputusan Wibisana ini adalah keputusan yang sangat berat dan kontroversial. Banyak orang yang menuduh dia sebagai penghianat negara. Tetapi mungkin keputusan Wibisana ini didasari atas ijtihadnya bahwa tidak wajib taat kepada siapa pun di dalam hal kedzaliman. Wibisana lebih memilih meninggalkan negara dzalim lalu berhijrah ke Negara yang adil, meskipun harus berada di pihak musuh negaranya.

Lain halnya dengan adik Rahwana yang lain, Kumbakarna, yang sama-sama sudah sangat kesal dengan segala tindakan kakaknya itu. Ia memilih untuk tetap tinggal di negaranya. Namun cara yang ditempuh oleh Kumbakarna adalah tidur sepanjang waktu, bangun beberapa hari untuk makan kemudian tidur lagi. Begitulah seterusnya ia lakukan sebagai cara untuk mengingkari dengan hati atas sistem bejad yang selalu ia lihat di depan matanya.

Ketika peperangan telah menelan banyak korban dari pihak Alengka dan banyak ksatria yang gugur di medan perang, Rahwana mencoba membangunkan Kumbakarna untuk memohon agar ia mau memimpin pasukan ke medan perang. Konflik batin pada diri Kumbakarna pun berkecamuk. Satu sisi dia tidak menyetujui kedzaliman kakaknya. Namun pada sisi lain dia bersedih karena ketika dia bangun dari tidur panjangnya, dia melihat kehancuran yang dialami negaranya serta banyaknya tentara, rakyat dan para ksatria yang telah menjadi korban.

Maka Kumbakarna memutuskan untuk pergi berperang. Namun dia meminta pasukannya agar meluruskan niat, bahwa perangnya itu bukanlah untuk membela kedzaliman Rahwana, tetapi untuk membela negaranya yang sudah digempur oleh pasukan musuh. Setidaknya kehadiran Kumbakarna bisa mengurangi kehancuran yang diderita negara dan rakyatnya.

Di Medan perang, Kumbakarna bisa bertemu Wibisana, adik yang dicintainya. Kedzaliman kakak merekalah yang membuat mereka harus bertemu terakhir kalinya di dalam situasi penuh kesedihan. Hingga akhirnya Kumbakarna gugur oleh tangan Sri Rama. Dan setelah Rahwana tewas, Sri Rama sebagai penakluk Alengka menyerahkan kelanjutan kepemimpinan Alengka kepada Wibisana.

Begitulah kedzaliman pemimpin, akan menelan korban orang-orang yang tidak berdosa dan membuat kesulitan orang-orang di sekitarnya. Ketika itu, orang-orang baik yang tidak sejalan dengan sistem Rahwana, mungkin akan memilih jalannya Kumbakarna atau jalannya Wibisana …

Ingin dikirim tulisan baru? masukkan address email :

Delivered by FeedBurner


Baca selanjutnya......

Jumat, Februari 20, 2009

FATWA TOGOG TENTANG GOLPUT

Togog, saudaranya Semar dari dulu memang bernasib malang. Ratusan tahun mengabdi kepada raja-raja, tetapi raja-raja yang menjadi majikannya itu selalu saja raja yang dzalim. Berbagai nasihat senantiasa meluncur dari mulutnya, tetapi selama bertentangan dengan keinginan Sang Raja, maka nasihatnya itu tak ada bedanya dengan noise yang keluar dari pesawat radio butut. Hanya nasihat yang sesuai dengan keinginan Sang Raja yang akan diterima. Terkadang dia terpaksa menahan sebagian nasihatnya. Bahkan mungkin terkadang ia mengupayakan pembenaran terhadap keinginan Sang Raja sekalipun bertentangan dengan hatinya, hanya karena takut atau cari aman. Demikian kemalangan Togog.

Rakyat di Negri Togog hampir sulit mempercayai tokoh-tokoh mereka. Mereka sulit menghilangkan su-udz dzann kepada kaum intelektual, birokrat, pengusaha bahkan tokoh agama. Sebagai contoh, pernah terjadi di suatu masa, kawan-kawan Togog yang menjadi wakil rakyat hanya tahu nyanyian “Setuju” seperti pada lagunya Bang Iwan Fals. Setelah masa itu terlewati, para wakil rakyat bisa berbicara bebas menyampaikan pendapat bahkan mengkritik dengan keras. Tetapi sayang sebagian dari mereka memanfaatkan kebebasan ini untuk mencari keuntungan pribadi sehingga kemudian rakyat tidak mempercayai mereka lagi.

Togog sebagai penasihat spiritual, sering mendapatkan tanggapan sinis dari rakyat di negrinya. Dahulu, Sang Raja mempunyai program legalisasi satu jenis perjudian atas nama sumbangan dana berhadiah, Togog dan kawan-kawan cicing wae. Hanya setelah keresahan muncul di kalangan rakyat, kemudian Sang Raja sudah menunjukkan indikasi ingin mencabut program yang ini, maka Togog dan kawan-kawan baru mampu berkata : “No !”. Nah, inilah di antara kemungkinan kenapa Majlisnya Togog kurang dipercayai rakyat.

Di masa sekarang, Togog dan kawan-kawan masih tetap saja jadi sasaran su-udz dzann rakyat di negrinya. Bagaimana tidak, karena potensi untuk terjadinya su-udz dzann sangatlah banyak. Misalnya ketika Majlisnya Togog mengeluarkan fatwa tentang haramnya golput. Tanggapan sinis lah yang kemudian muncul.

Ada beberapa kemungkinan penyebab kenapa tanggapan sinis ini muncul. Pertama, mayoritas rakyat sudah tahu kalau pemilihan pemimpin itu sangatlah penting. Tetapi yang menjadi persoalan sekarang adalah rakyat memiliki pengalaman buruk dengan janji-janji para calon pemimpin itu. Jadi mereka memutuskan untuk golput bukan karena menganggap pemilihan pemimpin itu tidak penting , tetapi karena sudah bosan dikhianati.

Kedua, Kesadaran rakyat untuk mengikuti hasil-hasil penelitian para tokoh seperti Togog dan kawan-kawan masih sangat kurang.

Kemungkinan ketiga, rakyat masih sulit untuk positive thinking, karena menduga bahwa fatwa ini mengandung muatan politik. Kenapa tidak, toh beberapa orang dari tim majlisnya Togog itu ada yang termasuk tokoh dari partai-partai kontestan pemilihan pemimpin di negrinya. Di antara mereka ada yang diusung oleh salahsatu partai sebagai balon pucuk pimpinan negri. Dan adapula yang menjadi ketua majlis mustasyar salahsatu partai kontestan, bahkan partainya ini berbasis masa sama dengan seorang tokoh lain yang sebelumnya telah menyerukan golput kepada masanya.

Jadinya sulit untuk ber-positive thinking di Negri Togog…..

BACA JUGA : KEWAJIBAN MEMILIH PEMIMPIN

Ingin dikirim tulisan baru? masukkan address email :

Delivered by FeedBurner


Baca selanjutnya......

Senin, Februari 16, 2009

KEWAJIBAN MENGANGKAT PEMIMPIN


Harus diketahui, bahwa urusan pemerintahan adalah termasuk bagian dari kewajiban di dalam agama yang sangat penting. Karena urusan agama dan urusan dunia tidak akan berdiri dengan baik kecuali dengan pemerintahan. Hal ini dikarenakan manusia itu hanya akan bisa memenuhi kebutuhannya dengan cara hidup berkelompok dan saling membantu. Dan ketika manusia itu hidup saling berkelompok, maka mereka membutuhkan kepemimpinan. Nabi saw bersabda :
إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ [أخرجه أبو داود بإسناد صحيح]
“Apabila tiga orang pergi melakukan suatu perjalanan, maka hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin”.
(Hadits dikeluarkan Abu Dawud dengan isnad shahih)

Hadits di atas menjelaskan kewajiban mengangkat seorang pemimpin ketika berada di dalam sebuah kelompok kecil di perjalanan. Dan begitupun untuk kelompok yang lainnya.

Di samping itu, Allah swt telah mewajibkan amar ma’ruf nahyi munkar (memerintahkan kebaikan dan melarang kemunkaran, sebagaimana firman-Nya pada surat Ali Imran ayat 104, -pen.). Sedangkan hal ini tidak bisa sempurna kecuali dengan kekuatan dan pemerintahan. Rasulullah saw bersabda :
إِنَّ اللهَ يَرْضَي لَكُمْ ثَلَاثًا : أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا ، وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِاللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا ، وَأَنْ تُنَاصِحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ [رواه مسلم]
“Sesungguhnya Allah menyenangi tiga hal dari kalian: yaitu kalian menyembahnya sambil tidak menyekutukannya, kalian berpegang teguh kepada Allah seluruhnya sambil tidak bercerai berai dan kalian saling menasihati kepada orang yang telah diangkat oleh Allah untuk mengurusi urusan kalian”.
(Hadits diriwayatkan Imam Muslim)


Maka wajib mengangkat pemerintahan karena alasan agama dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Dan kebanyakan manusia mengalami kehancuran di dalam urusan pemerintahan ini, karena mereka hanya menggunakan pemerintahan untuk keperluan mencari kedudukan dan harta saja. Ka’ab bin Malik meriwayatkan dari Nabi saw, bahwa belaiau bersabda :
مَاذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ زَرِيْبَةِ غَنَمٍ بَأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَي الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ [أخرجه أحمد والترمذي، قال الترمذي : حسن صحيح]
“Kehancuran yang diakibatkan oleh dua ekor serigala yang dimasukkan ke kandang kambing tidak lebih besar dibandingkan kehancuran terhadap agama yang diakibatkan oleh kerakusan seseorang kepada harta dan kemuliaan”.
(Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan At Tirmidzi)


Pada hadits tersebut, Rasulullah saw mengabarkan bahwa kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan akan mengakibatkan kehancuran agama seumpama atau bahkan lebih dibandingkan dua ekor srigala yang lapar yang mengakibatkan kehancuran ketika dimasukkan ke kandang kambing.

Orang yang menjadi pemimpin hanya karena menginginkan kedudukan, maka ia seperti Fir’aun. Sedangkan orang yang menjadi pemimpin hanya karena mencari harta, maka ia seperti Qarun. Allah swt. berfirman :
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِيْ نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ [القصص ٤ ]
“Sesungguhnya Fir'aun Telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.
(Al Qashash : 4)

(Tentang Qarun, lihat surat Al Qashash 76-82 dan Al ‘Ankabuut 39 -- pen.)

Apabila tujuan dari kepemimpinan dan harta adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan menggunakannya di jalan Allah, maka hal itu akan menjadikan kebaikan urusan agama dan dunia. Tetapi apabila seorang pemimpin terasing dari agama atau agama terasing dari pemimpin maka akan hancurlah keadaan manusia.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk berusaha keras sesuai kemampuannya dalam hal ini. Barangsiapa yang mengurusi kekuasaan dengan dengan tujuan menjalankan keta’atan kepada Allah, menegakkan agama sesuai kemampuannya dan membuat kebaikan kondisi kaum muslimin, maka dia tidak akan dituntut atas sesuatu hal yang di luar kemampuannya. Begitupun orang yang tak mampu menegakkan agama, kekuasaan dan jihad namun ia mengerjakan hal yang sesuai kemampuannya berupa nasihat, du’a bagi kebaikan umat, mencintai kabaikan dan mengerjakan apa yang dia mampu, maka ia tidak diberi beban yang berada di luar kemampuannya.

Wallahu a‘alam

Diterjemahkan dari :
Al Mansyuuraat, K.H. Syihabuddin Muhsin (rahimahullah)
Pesantren Sukahideng Singaparna Tasikmalaya



Ingin dikirim tulisan baru? masukkan address email :

Delivered by FeedBurner



Baca selanjutnya......

Jumat, Februari 13, 2009

MENGENANG 200 TAHUN ROBERT DARWIN

Kompass, Rabu 11 Februari 2009

"Darwin melengkapi Revolusi Copernicus dengan memperkenalkan pemahaman alam sebagai sistem materi yang bergerak mengikuti kaidah hukum yang bisa dijelaskan oleh nalar manusia tanpa berpaling ke lembaga supernatural." (Francisco J Ayala, pakar biologi evolusioner University of California, Irvine, 2007)


Esok, Kamis, 12 Februari 2009, dunia memperingati 200 tahun Charles Robert Darwin. Sejak akhir tahun lalu, pelbagai penerbitan ilmiah menurunkan laporan mengenai ilmuwan Inggris yang telah mengubah cara pandang manusia tentang jagat natural ini. Berbagai universitas dan badan penelitian juga menyelenggarakan seminar dan pameran untuk menghormati tokoh besar ini.

Peletak dasar teori evolusi ini lahir di Shrewsbury, Shropshire, Inggris, dari satu keluarga kaya tahun 1809. Kakek dari ayahnya, Erasmus Darwin, adalah salah seorang intelektual terkemuka Inggris pada abad ke-18. Semula Darwin ingin belajar kedokteran dan masuk ke Universitas Edinburgh, tapi kemudian minatnya beralih ke teologi dan belajar di Cambridge.

Sosok dan pandangannya pun berubah setelah ia mengikuti ekspedisi ilmiah selama 5 tahun dengan kapal HMS Beagle yang meninggalkan Inggris tahun 1831. Saat itu, sebagian besar orang Eropa masih berpikiran bahwa dunia diciptakan Tuhan dalam tujuh hari.

Sebagaimana dikutip dalam Historic Figures BBC, dalam perjalanan Darwin membaca buku Prinsip-prinsip Geologi karya Charles Lyell yang menyarankan bahwa fosil yang ditemukan di bebatuan sebenarnya adalah binatang yang hidup ribuan, bahkan jutaan, tahun silam. Argumen Lyell ini tertanam, bahkan diperkuat, dalam pikiran Darwin melalui berbagai kehidupan satwa dan fitur geologi yang ia lihat sepanjang perjalanan.

Darwin mendapatkan pencerahan besar setelah mengunjungi Kepulauan Galapagos, sekitar 800 kilometer sebelah barat Amerika Selatan. Di sana, antara lain, ia mengamati bahwa setiap pulau mendukung berkembangnya burung finch (sejenis kutilang) yang khas untuk pulau itu. Burung-burung dari berbagai pulau di sana tampak mirip, tapi juga berbeda dalam banyak hal.

Teori evolusi
Sekembali ke Inggris tahun 1836, Darwin berusaha memecahkan teka-teki atas apa yang ia amati, juga yang menyangkut pertanyaan bagaimana spesies berevolusi. Dengan berbekal pemikiran Malthus, Darwin mengusulkan teori evolusi yang terjadi dengan proses seleksi alam. Hewan–atau tumbuhan–yang paling bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya paling besar peluangnya untuk bertahan hidup dan bereproduksi, sambil meneruskan karakteristik yang membantunya bertahan ke keturunannya.

Darwin mengerjakan teorinya itu selama 20 tahun. Di tengah jalan ia mendapat informasi bahwa naturalis Inggris lainnya, Alfred Russel Wallace, juga sampai pada ide yang sama. Kedua ilmuwan Inggris itu pun lalu menggelar pengumuman bersama mengenai penemuan mereka pada tahun 1858. Darwin sendiri, pada tahun 1859, menerbitkan mahakaryanya yang sangat masyhur, On the Origin of Species by Means of Natural Selection (Tentang Asal-usul Spesies Melalui Seleksi Alam).

Dari studinya, Darwin menyimpulkan bahwa
1) evolusi terjadi di alam;
2) perubahan evolusioner terjadi secara perlahan-lahan (gradual) dalam tempo ribuan sampai jutaan tahun;
3) mekanisme utama dalam terjadinya evolusi adalah satu proses yang disebut seleksi alam; dan
4) jutaan spesies yang hidup dewasa ini berasal dari satu bentuk kehidupan asli tunggal melalui proses pencabangan yang dikenal dengan nama spesiasi (speciation) (Lucidcafe Library).

Buku itu di satu sisi demikian masyhur, tapi pada sisi lain juga menjadi sangat kontroversial. Ini karena kelanjutan logis Teori Darwin adalah bahwa manusia (Homo sapiens) hanyalah wujud lain hewan. Melalui teori itu lalu jadi tidak mustahil bahwa manusia telah mengalami evolusi–mungkin dari kera–dan dengan itu menghancurkan keyakinan yang diajarkan agama tentang asal-usul penciptaan. Darwin diserang dengan dahsyat.

Namun, apa yang dicetuskan Darwin tak lama kemudian juga mendapat banyak dukungan dan malah kemudian menjadi ortodoksi baru.
Darwin wafat tanggal 19 April 1882 dan dimakamkan di Westminster Abbey, London, bersama dengan ilmuwan Inggris terkemuka lain, seperti Sir Isaac Newton.

Perkembangan mutakhir
Seiring dengan peringatan dua abad Darwin, diakui bahwa teori evolusi sendiri sudah bertahan selama 150 tahun di tengah berbagai kritik dan kecaman. Pada sisi lain, wacana tentang evolusi sendiri kini telah jauh melebar dan berubah seiring dengan makin luasnya campur tangan ilmu genetika. Adapun ilmu biologi evolusi sendiri hingga kini masih harus bergulat menjawab pertanyaan yang dulu juga sudah menyibukkan Darwin: Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan spesies?

Kini, para ahli biologi juga sedang mencari hasil eksperimen yang bisa menjelaskan bagaimana seleksi alam berlangsung pada level molekuler–dan bagaimana hal itu memengaruhi perkembangan spesies-spesies baru (Scientific American, 12/2008).
Pada sisi lain, biolog evolusioner seperti Peter Grant dan Rosemary Grant dari Universitas Princeton yang mempelajari 20.000 burung kutilang di Galapagos menemukan bahwa sekali waktu, evolusi juga bisa berlangsung bak letupan, dengan jangka waktu beberapa tahun saja, tidak ribuan atau jutaan tahun. Ini bertentangan dengan pemahaman Darwin mengenai evolusi yang berlangsung secara lambat. Pasangan Grant yang beruntung bisa menyaksikan evolusi ”in action” juga berhasil menuturkan secara runut waktu (chronicle) apa yang diduga merupakan spesies baru yang sedang dalam proses muncul, seperti yang tampak dari pengamatan katak Eleutherodactylus dari Amerika Tengah dan Selatan serta Karibia.

Diakui bahwa pemikiran awal mengenai evolusi–bahkan ide bahwa hanya yang paling tangguh yang akan bertahan–sudah ada sejak zaman kuno, lebih awal dari Socrates. Spekulasi mengenai bagaimana kehidupan berevolusi juga bermunculan pada abad ke-18. Namun, apa yang dicetuskan Darwin-lah yang bisa bertahan dari ujian ilmiah pada abad ke-19 dan sesudahnya.

Kini, penyelidik modern yang dilengkapi dengan kamera canggih, komputer, dan alat pemeriksa DNA menghasilkan temuan yang tetap mendukung karya Darwin. Karya Darwin dipandang tetap memiliki relevansi dengan sains dasar dan tujuan praktis –mulai dari bioteknologi hingga ilmu forensik– dan karena itu pula hari lahir Sang Naturalis besar ini, yang bertepatan dengan 150 tahun kelahiran karya agungnya, lalu dirayakan di seluruh dunia.

Teori Darwin dewasa ini menjadi satu pilar dasar sains modern, berjajar di samping relativitas dan mekanika kuantum. Seperti halnya Copernicus yang menggeser Bumi dari pusat semesta, semesta Darwin menggeser manusia sebagai episenter jagat alam. Seleksi alam bertanggung jawab atas lahirnya apa yang disebut Ayala ”desain tanpa desainer”, istilah yang mematahkan upaya keras yang kini masih dilakukan oleh sejumlah teolog untuk menjatuhkan teori evolusi.

Ninok Leksono


Ingin dikirim tulisan baru? masukkan address email :

Delivered by FeedBurner




Baca selanjutnya......

Selasa, Februari 03, 2009

Membandingkan Karakter Umat Islam dan Bangsa Yahudi, Dulu dan Sekarang

Inilah sebagian dari karakter umat Islam dibandingkan dengan bangsa Yahudi di masa Rasulullah saw, para sahabat dan beberapa ratus tahun sesudahnya. Mungkin bisa menjadi bahan introspeksi, apakah kita, umat Islam saat ini memiliki karakter seperti umat Islam atau lebih mirip dengan karakter bangsa Yahudi pada saat itu?.


1. Umat Islam saling menyayangi dengan sesama mereka dan sangat keras terhadap orang-orang kafir :
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka….”. (Al Fath : 29)

Sedangkan sikap bangsa Yahudi adalah sebaliknya :
“Mereka tidak akan memerangi kalian dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangatlah hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah belah. (Al Hasyr : 14)

2. Umat Islam semakin banyak, semakin kuat dan ditakuti umat yang lain
“…. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menguatkan tanaman itu, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)”. (Al Fath : 29)

Adapun keadaan bangsa Yahudi adalah sebaliknya :
Mereka sekali-kali tidak akan dapat membahayakan kalian, selain dari gangguan berupa celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kalian, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang. Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan”.
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia (yakni perlindungan dari umat Islam). Dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan diliputi kerendahan”.
(Ali Imran : 111-112)

Di antara bangsa Yahudi yang berada di Madinah merupakan sekelompok minoritas yang dikategorikan kafir dzimmy, yakni kafir yang dilindungi umat Islam karena mereka tidak mengganggu umat Islam dan tunduk kepada peraturan yang berlaku di lingkungan umat Islam.

3. Tidak terlalu mencintai dunia dan tidak takut mati :
“Sesungguhnya kalian mengharapkan mati (syahid) sebelum kalian menghadapinya. (Sekarang) sungguh kalian telah melihatnya dan menyaksikannya”. (Ali Imran : 143)

Beberapa abad lamanya umat Islam mengalami masa kejayaan. Dan pada masa itulah mereka menguasai ilmu pengetahuan dan berbagai kemajuan. Umat Islam dan para ulamanya tidak terlalu mencintai dunia seperti harta, pujian, popularitas dan hal-hal dunia lainnya. Di antara contoh kutipan perkataan orang berilmu pada masa itu, yakni Imam As Syafi’ie :
“Aku menginginkan agar orang-orang belajar dari ilmuku ini dan mereka tidak menghubungkannya sedikitpun kepadaku. Sehingga aku akan diberi pahala oleh Allah dan mereka tidak perlu memujiku”. (Fiqh al ‘Ibadaat ‘ala Madzhab As Syafi’ie)

Sedangkan sikap bangsa Yahudi adalah sebaliknya :
“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling rakus kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih rakus lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (Al Baqarah : 96)

4. Umat Islam menta’ati Rasulullah saw dan para ulama dalam rangka ketaatan mereka kepada Allah. Umat Islam berkeyakinan bahwa jangankan para ulama, para nabi sekalipun tidak layak untuk disembah atau disejajarkan dengan Allah dan hanyalah Allah yang menjadi tujuan hidup mereka.
“Dan (Tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?". (Ali Imran : 80)

Ulama bangsa Yahudi memalingkan tujuan hidup para pengikutnya dari menuju Allah menjadi menuju ulama mereka.
“Mereka menjadikan ahbar (orang-orang alim bangsa Yahudi) dan ruhban (orang-orang alim umat Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (At Taubah : 31)

Sangat sulit memikirkan dari mana kita, umat Islam harus memulai kembali. Mungkin dalam skala kecil, mulailah dari diri kita sendiri beserta keluarga.

Baca juga Sejarah Yerusalem

Ingin dikirim tulisan baru? masukkan address email :

Delivered by FeedBurner



Baca selanjutnya......

Sejarah Yerusalem

Yerusalem (bahasa Ibrani: ירושלים Yerushalayim, bahasa Arab: أورشليم القدس Urshalim-Al-Quds atau hanya القدس Al-Quds saja) adalah kota di Timur Tengah yang merupakan kota suci bagi agama Islam, Kristen dan Yahudi. Kota ini diklaim sebagai ibukota Israel, meskipun tidak diakui secara internasional, begitupun klaim sebagai bagian dari Palestina. Secara de facto kota ini dikuasai oleh Israel. Para elit Israel menganggap kota suci ini adalah bagian dari negaranya dan itu adalah bentuk ideologi "Zionisme". Dari semua negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, hanya Kosta Rika dan El Salvador saja yang menempatkan kedutaan mereka di Yerusalem. Lainnya di Tel Aviv, karena menurut PBB, Yerusalem akan dijadikan Kota Internasional. Oleh orang-orang Palestina, Yerusalem juga dianggap sebagai ibu kota Palestina. Kota historis Yerusalem adalah sebuah warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1981. Kota ini memiliki penduduk sebanyak 724.000 jiwa dan luas 123 km2. Sepanjang sejarahnya, Yerusalem telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dikuasai/dikuasai ulang 44 kali.


Sejarah Yerusalem dapat dibagi menjadi lima tahap :
- Zaman Kuno
- Zaman Kekaisaran Romawi
- Zaman Islam
- Zaman Mandat Britania
- Zaman Pendudukan Israel


Zaman Kuno

Yerusalem mulai menjadi tumpuan setelah Nabi Daud menguasai Yerusalem dari masyarakat yang bernama Yebusit. Nabi Daud kemudian mulai mengembangkan kota ini dan menjadikannya ibu kota kerajaannya. Yerusalem kemudian diperintah oleh Nabi Sulaiman. Menurut ahli sejarah Yahudi, Nabi Sulaiman telah membangun sebuah kuil yang diberi nama "Baitallah".

Tidak lama kemudian, tentara Babilonia mulai merebut Yerusalem dari orang Yahudi. Nebukadnezar, raja Babylon kemudian menguasai Yerusalem dan memusnahkan Baitallah. Dia kemudian menghalangi orang Yahudi masuk ke Yerusalem. Setelah beberapa dasawarsa, tentara Parsi menguasai Babylon. Cyrus II, raja Parsi memperbolehkan orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Baitallah mereka. Baitallah Kedua dibangun oleh Herodus Yang Agung namun setelah kematiannya, kota ini jatuh ke tangan Roma.

Pemerintahan Romawi

Semasa pemerintahan Roma, masyarakat Yahudi di Yerusalem memberontak. Akibatnya tentara Roma mematahkan pemberontakan tersebut dan memusnahkan Baitallah Kedua orang Yahudi. Yang tinggal hanyalah sebagian gedung itu yang dikenal sebagai Tembok Barat.
Setelah pemberontakan tersebut, orang Yahudi diperbolehkan tinggal di situ tetapi dalam jumlah yang kecil. Pada kurun kedua, Kaisar Roma memerintahkan supaya Yerusalem dibangun kembali dan membangun sebuah kuil orang Roma di situ sambil menghalangi kegiatan keagamaan orang Yahudi. Orang Yahudi kembali memberontak tetapi dapat dipatahkan tentara Roma. Yerusalem dinamakan kembali menjadi Aelia Capitolina.
Orang Yahudi dilarang memasuki Yerusalem. Selama 150 tahun setelahnya, kota ini menjadi tidak penting bagi Kekaisaran Romawi. Namun demikian, Kaisar Bizantium yaitu Constantine menjadikan Yerusalem sebagai pusat keagamaan Kristen dengan membangun Church of the Holy Sepulcher (?) pada tahun 335 M. Orang Yahudi tetap tidak dibenarkan memasuki Yerusalem kecuali semasa pemerintahan singkat Kekaisaran Parsi pada tahun 614M hingga tahun 629M.

Pemerintahan Islam

Walaupun Al Quran tidak menyebut mengenai nama "Yerusalem" atau "Baitulmuqaddis", tetapi ada hadis yang menyebut mengenainya. Menurut hadis sahih, adalah di Yerusalem Nabi Muhammad s.a.w. naik ke surga semasa peristiwa Isra' Mi'raj. Kota itu kemudian dikuasai oleh angkatan tentara Islam pada tahun 638M. Umar bin Khattab secara pribadi pergi ke Yerusalem untuk menerima penyerahan Yerusalem kepada kerajaan Islam. Beliau kemudian ditawarkan bersembahyang di dalam Church of the Holy Sepulcher tetapi menolaknya dan sebaliknya meminta supaya dibawa ke Masjidil Aqsa Al Haram Al Sharif. Ia mendapati tempat itu terlalu kotor dan mengarahkan supaya pembersihan dijalankan. Ia kemudian membangun sebuah masjid kayu di tempat yang sekarang merupakan kompleks bangunan Masjid Al Aqsa.

Enam tahun kemudian, Qubbat As-Sakhrah dibangun. Struktur ini terdiri dari sebuah batu yang dikatakan tempat Nabi Muhammad s.a.w. berdiri sebelum naik ke surga semasa peristiwa Isra' Mi'raj. Perlu diingatkan bahwa kubah yang berlapis emas dan berbentuk oktagon ini tidak sama seperti Masjid Al Aqsa di sebelahnya yang dibangun tidak lama kemudian. Semasa pemerintahan awal Islam, terutama semasa pemerintahan kerajaan Ummaiyyah (650-750) dan kerajaan Abbasiyyah (750-969), kota Yerusalem berkembang. Banyak orang berpendapat bahwa Yerusalem pada ketika itu merupakan tanah yang paling subur di Palestina. Pemerintahan awal Islam juga mewujudkan sebuah toleransi di antara kaum.

Namun semasa pemerintahan Al-Hakim Amr Allah, seorang khalifah kerajaan Fatimiyyah, beliau mengarahkan supaya semua gereja dan rumah ibadah bukan Islam dimusnahkan. Hal ini menyebabkan berlakunya Perang Salib. Pada tahun 1099, tentara Kristen Eropa menguasai Yerusalem. Mereka kemudian membunuh semua penduduk kota yakni Muslim, Yahudi dan bahkan juga Kristen. Hal ini karena ketidaktahuan mereka, orang Kristen yang tinggal di sana wujudnya berbeda dengan orang Kristen Eropa. Yerusalem kemudian dijadikan ibu kota Kerajaan Kristen Yerusalem (Kingdom of Jerusalem).

Yerusalem kemudian dikuasai oleh Salahuddin Al Ayubi pada tahun 1187. Salahuddin juga memperbolehkan semua orang beribadah di Yerusalem tanpa memandang apakah Kristen, Muslim atau Yahudi.
Pada tahun 1243, Yerusalem jatuh kembali ke tangan tentara Kristen dan kemudian jatuh kembali ke tangan orang Islam pada tahun berikutnya.
Pada tahun 1517, Yerusalem dikuasai oleh Kerajaan Turki Utsmaniyyah. Sulaiman Al Qanuni membina kembali tembok Yerusalem yang dapat kita lihat hingga hari ini.

Mandat Britania

Britania berhasil menaklukkan kerajaan Turki Uthmaniyyah saat Perang Dunia I. Dengan kemenangan mereka itu, tentara Britania di Mesir memasuki Yerusalem pada 11 Desember 1917. Pihak Britania kemudian membangun rumah-rumah baru di sini dan menyebabkan Yerusalem berkembang hingga keluar dari temboknya.

Pada 29 November 1947, PBB (UNGA) mengeluarkan suatu petisi untuk memisahkan pemerintahan Mandat Britania di Palestina kepada dua buah wilayah: satu untuk orang Yahudi dan satu untuk orang Arab. Hal ini mengakibatkan terjadinya pemberontakan di Yerusalem yang kemudian menyebabkan Perang Arab-Israel 1948 yang terjadi pemerintahan Mandat Britania berakhir.

Yerusalem dan konflik Arab-Israel

Semasa Perang Arab-Israel 1948, Yerusalem terbagi menjadi dua wilayah. Bagian barat yang meliputi kota baru menjadi sebagian dari Israel, sedangkan bagian timur termasuk kota lama Yerusalem menjadi milik Yordania.

PBB memutuskan supaya Yerusalem berada di bawah pemerintahan internasional. Walau bagaimanapun, pada 23 Januari 1950, Parlemen Israel mensahkan satu resolusi untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Yerusalem Timur kemudian ditawan oleh tentara Israel dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967.

Walaupun Israel membenarkan penganut agama di Yerusalem akses ke tempat suci mereka, terdapat banyak kerisauan mengenai beberapa serangan ke Masjid Al-Aqsa seperti kebakaran pada tahun 1969 yang disebabkan oleh seorang turis Australia. Status Yerusalem Timur tetap menjadi satu isu yang kontroversi.

Status Yerusalem kini

Menurut satu petisi PBB, Baitulmuqaddis sepatutnya menjadi sebuah kota internasional dan bukan sebagian dari negeri orang Arab ataupun negeri orang Yahudi. Setelah Perang Arab-Israel 1948, Yerusalem Barat diduduki oleh Israel sedangkan Yerusalem Timur menjadi milik Yordania.

Pada tahun 1967, semasa Perang Enam Hari, Israel menguasai Yerusalem Timur dan mulai mengambil langkah untuk menyatukan Yerusalem di bawah kekuasaan Israel. Pada tahun 1988 Yordania menarik balik semua tuntutannya atas Tepi Barat (termasuk Yerusalem) guna mendukung Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Kedudukan Yerusalem hingga kini masih dipertanyakan.

Yerusalem dan Islam

Bagi kaum Muslim, Yerusalem merupakan tempat ketiga paling suci dalam Islam. Apabila kembali ke sejarah Yerusalem, kita dapat melihat bahwa kota ini mengalami kesengsaraan sebelum kedatangan Islam. Di saat Islam menguasai kota ini barulah mencapai ketenangan dan keamanan. Banyak pedagang-pedagang Arab berdagang di sini termasuk dari Makkah dan Madinah. Kota ini juga menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya beralih ke Makkah. Disaat tentara Salib menguasai kota ini, semua penduduk kota, termasuk yang beragama Kristen dibunuh dengan kejam.
Setelah Salahuddin Al-Ayubbi menguasai kota ini kembali, orang Islam, Kristen, dan Yahudi dapat beribadat tanpa adanya gangguan.

Ingin dikirim tulisan baru? masukkan address email :

Delivered by FeedBurner




Baca selanjutnya......

Jumat, Oktober 31, 2008

Syarat-syarat membaca Laa Ilaaha Illallah

Wahab bin Munabbih ditanya : “Bukankah Laa ilaaha illallah itu adalah kunci surga?”. Beliau menjawab : “Benar sekali, tetapi tidak ada satu pun kunci kecuali ia memiliki gerigi. Jika engkau mendatangkan sebuah kunci yang memiliki gerigi, maka akan terbukalah untukmu, jika tidak ada gerigi, maka tak akan bisa terbuka”.(Diriwayatkan Imam Al Bukhari)

Yang dimaksud gerigi kunci disini adalah syarat-syarat membaca Laa ilaaha illallah, yang akan disebutkan berikut ini :
1. Ilmu, yakni mengetahui maknanya
Kalimat Laa ilaha illallah terdiri dari dua bagian, yaitu meniadakan dan menetapkan. Yakni meniadakan segala hal yang tidak layak disembah dan menetapkan hanya satu yang wajib disembah, yaitu Allah swt.
فاَعْلَمْ أَنَّه لَآ إِلهَ إِلَّا الله ُ [محمد :١٩
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah”.(Muhammad : 15)
Dari Utsman r.a. Rasulullah saw bersabda :
مَنْ مَاتَ وَ هُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَآ إِلهَ إِلَّا الله ُدَخَلَ الْجَنَّةَ [رواه مسلم
“Barangsiapa yang mati sambil dia mengetahui bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah, maka ia masuk surga”.(Diriwayatkan Imam Muslim)

2. Yakin, yakni tidak ada keraguan terhadap maknanya
Orang yang mengucapkannya memiliki keyakinan secara pasti terhadap makna kalimat yang diucapkannya. Allah swt. berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُِوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجهَدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَىْ سَبِيْلِ اللهِ ، أُولئِكَ هُمُ الصّدِقُوْنَ [ الحجرات: ١٥
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”.(Al Hujuraat : 15)

Rasulullah saw bersabda :
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلاَّّ الله ُوَأَنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ، لاَ يَلْقَى اللهَ بِهَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيْهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ
[رواه مسلم

“ “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasulullah”, Seorang hamba tidak mengucapkan dua kalimat tersebut kepada Allah sambil tanpa keraguan kecuali dia akan masuk surga”.(Diriwayatkan Imam Muslim)

Imam Al Qurthubi di dalam Al Mufhim berkata, “Tidaklah cukup hanya mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi harus disertai keyakinan hati. (Fathul Majid : 36)

3. Shidiq, yaitu berkata benar, jujur, tidak berbohong
Makna kalimat ini harus merupakan isi hati yang diungkapkan melalui lisan. Allah swt. berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُوْلُ آمَنَّا بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَاهُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ [البقرة :٨
“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”(Al Baqarah : 8)

مَامِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ الله ُوَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلى النَّارِ [متفق عليه
“Seorang hamba tidak mengucapkan “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan, tuhan) kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya”, dengan berkata benar dari hatinya, kecuali Allah haramkan dia dari api neraka”.(Muttafaq ‘alaih)

4. Ikhlas
Yakni memurnikan amal dari segala kotoran syirik (menyekutukan Allah). Allah swt berfirman :
وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ [البينة :٥
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”.(Al Bayyinah : 5)

Di dalam sebuah hadits disebutkan :
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ مَنْ قَالَ لَاإِلهَ اِلاَّ الله ُخَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ [رواه البخارى

“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengatakan Laa ilaaha illallah, murni dari hatinya(Diriwayatkan Imam Al Bukhari)

5. Mahabbah, mencintai pengucapan kalimat ini, mencintai segala konsekuensi dari pengucapannya, mencintai orang-orang yang senantiasa mengucapkannya sambil memenuhi syaratnya dan membenci orang yang menentangnya.
Allah swt berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللهِ، وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا ِللهِ [البقرة ١٦٥ ]
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”.(Al Baqarah : 165)
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ [متفق عليه
“Ada tiga hal yang apabila berada pada diri seseorang maka orang itu akan menemukan manisnya iman, Yaitu orang itu lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lainnya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan dia membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu sebagaimana dia membenci jika dia dimasukkan ke api neraka”.(Muttafaq ‘alaih)



Diterjemahkan dari :
“Mansyuraat” K.H. Syihabuddin Muhsin rahimahullah
Ponpes Sukahideng Singaparna Tasikmalaya


Baca selanjutnya......

Kamis, September 25, 2008

Lapar dan haus kita, tidaklah penting bagi Allah

September 2008

Setelah Ramadhan berakhir, seringkali kita merasa puas karena kita telah mampu menahan lapar, haus dan hal-hal lainnya yang membatalkan puasa. Memang benar, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa itu membuat puasa kita menjadi sah secara fiqh. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa berarti memenuhi kewajiban puasa dan selamat dari dosa.

Namun jika kita cermati dalil-dalil, kita bisa mengetahui bahwa menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa itu bukanlah tujuan akhir. Sebetulnya ada target yang merupakan pengaruh dari pelaksanaan ibadah puasa ini. Namun target ini malah seringkali kita lupakan. Jika demikian, maka puasa kita hanya menjadi alat untuk menggugurkan kewajiban dan penyelamatan diri dari dosa saja.

Jika kita sedikit merenungkan, kenapa Allah melarang makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya. Dan kenapa pula ibadah puasa ini sampai diwajibkan kepada umat-umat yang sebelum kita. Maka pasti ada manfaat dari semua ini bagi diri kita. Manfaat itu dengan tegas dijelaskan di dalam ayat tentang perintah puasa yang berbunyi :
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Agar kalian bertaqwa”.
(Al Baqarah : 183)
Dengan meninggalkan hal-hal yang biasanya halal di siang hari pada bulan lain, maka kita diharapkan memiliki kemampuan untuk selanjutnya secara mudah maninggalkan hal-hal yang diharamkan. Deangan merasakan bagaimana menyakitkannya rasa lapar dan haus, maka diharapkan akan munculnya rasa sayang kepada orang-orang miskin. Dan masih banyak manfaat yang lainnya.

Maka ibadah puasa yang baik adalah ibadah puasa yang membuat ketakwaan semakin meningkat. Ibadah puasa yang baik adalah yang berpengaruh dalam membentuk akhlak mulia.

Dari Abu hurairah r.a., Rasulullah saw, bersabda :
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ ، فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ [رواه البخاري
“Barangsiapa yang (berpuasa tetapi) tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan batil, maka bagi Allah tidak ada kepentingan bahwa orang itu meninggalkan makanan dan minumannya”.
(H.R. Bukhari)
Jadi jelas, tidak ada kepentingan Allah terhadap makanan dan minuman yang kita tinggalkan selama puasa kita tidak menjadikan kita mampu menahan diri kita dari perkataan dan perbuatan batil.

Jika puasa itu merupakan latihan pembentukan akhlak yang mulia, maka insya Allah akan sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. :
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنَ
“Jika Ramadhan telah tiba, maka pintu langit dibuka, pintu neraka dikunci dan syetan-syetan dibelenggu”
(H.R. Bukhari)

Hal ini hanya akan terjadi jika puasa kita memiliki pengaruh dalam pembentukan akhlak dan peningkatan ibadah. Jika puasa tidak menhasilkan apa-apa selain rasa lapar dan haus, maka mungkin yang berlaku adalah penjelasan Rasulullah saw pada hadits lain tentang banyaknya orang yang berpuasa tetapi tidak menghasilkan apa-apa kecuali lapar dan haus.

Wallahu a’lam
Baca selanjutnya......

Selasa, September 23, 2008

Hubungan Puasa dengan Taqarrub

September 2008

Jika di Bulan Ramadhan, seseorang ingin makan dan minum di siang hari tanpa diketahui oleh orang lain, sebetulnya sangatlah gampang. Dia hanya perlu mencari tempat yang aman dari penglihatan orang lain kemudian makan dan minum sepuasnya, maka terpenuhilah keinginan nafsunya.

Tetapi bagi orang yang benar-benar ingin berpuasa, melaksanakan perintah Allah, dia tidak akan melakukan hal tersebut. Di dalam hatinya mungkin dia berkata : “Memang benar aku tidak akan diketahui oleh orang lain bahwa aku tidak berpuasa, tetapi Allah melihatku”.

Inilah hebatnya ibadah puasa. Ibadah puasa bisa membuat seorang hamba merasa hadir dihadapan Allah atau paling tidak dia merasa diperhatikan oleh Allah yang Maha Mengetahui. Inilah makna ihsan, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw.

Di dalam surat Al Baqarah ayat 186, ada firman Allah :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ ، أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِيْ ، فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِي وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ [البقرة ١٨٦]
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
(Al Baqarah : 186)

Jadi jelas, dengan puasa seorang hamba dilatih secara langsung untuk merasa dekat atau taqarrub dengan Allah.

Disisi lain, seorang hamba yang merasa dekat dengan Allah itu menyadari pula bahwa tidak ada satu tempat pun yang luput dari perhatian Allah.
وَ ِللهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ، فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ ، إِنَّ اللهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ [البقرة ١١٥ ]

“Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat. Maka kemanapun kalian menghadap disitulah wajah Allah”.*)
(Al Baqarah : 115)

*) Disitulah wajah Allah maksudnya adalah kekuasaan Allah meliputi seluruh alam, sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya. Karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

Dan seorang hamba yang merasa dekat dengan Allah itupun menyadari pula bahwa tidak ada satu detik pun yang lepas dari perhatian-Nya :
اللهُ لَاإِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ، لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَه مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ،
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi… “
(Al Baqarah : 255)

Jadi sekali lagi, dengan puasa seorang hamba akan merasa dekat dengan Allah, kapan pun dan dimana pun dia berada.

Semoga puasa kita membuat kita memilki energi positif seperti ini dalam rangka pembentukan akhlak mulia.

Wallahu a’alam bis shawaab.
Baca selanjutnya......

Senin, September 01, 2008

Seruan bagi Ahmadiyyah dari Hasan bin Mahmud 'Audah

Seandainya orang-orang Ahmadiyyah mempelajari isi kitab suci mereka yang bernama At Tadzkirah, apalagi ditambah dengan buku-buku sumber ajaran mereka yang lainnya, insya Allah mereka akan meninggalkan Jama'ah Islam Ahmadiyyah ini. Dan ketika kesadaran itu terjadi maka Jamaah Islam Ahmadiyyah akan bubar, baik organisasinya maupun keyakinannya tanpa perlu campur tangan pemerintah ataupun tindakan kekerasan kelompok anti Ahmadiyyah. Berikut ini bisa menjadi bahan dialog dengan mereka agar mereka dengan sukarela meninggalkan Ahmadiyyah karena telah memperoleh hidayah Allah

Pada bagian terakhir bukunya, Hasan bin Mahmud ‘Audah menyeru orang-orang Ahmady untuk mengenal fakta-fakta mengenai Ahmadiyyah dengan meneliti apa yang dikatakan Mirza Ghulam. Dia mengajak untuk membaca buku suci dan terpenting Jamaah Ahmadiyyah yang disebut At Tadzkirah, yakni buku yang berisi kumpulan wahyu dan mimpi yang diakui Mirza Ghulam, buku Ruhani Khazain, yaitu buku kumpulan ungkapan-ungkapan Mirza Ghulam dan juga buku Sirah Al Mahdy, biografi Mirza Ghulam yang disusun oleh Qomarul Anbiyaa, putra Mirza Ghulam.

Tentang At Tadzkirah
Sebagian orang-orang Ahmadiyyah mengatakan bahwa At Tadzkirah itu bukanlah buku suci kumpulan wahyu setelah Al Quran, padahal apa yang tertulis di jilid buku ini menunjukkan hal sebaliknya.
"تذكرة – مجموعة إلهامات حضرة مسيح موعود عليه السلام" “Tadzkirah, Kumpulan ilham-ilham bagi Paduka Al Masih Al Mau’ud ‘alaihi salam’”.

Pada halaman pertama At Tadzkirah, disebutkan dengan sangat jelas :
التذكرة هي الوحي المقدس والرؤيا والكشوف للمسيح الموعود عليه الصلاة والسلام
At Tadzkirah adalah wahyu suci dan mimpi bagi Al Masih Al Mau’ud ‘alaihi shalatu wa salam”.
Ahmadiyyah tidak hanya mengutip wahyu dan mimpi Mirza Ghulam, tetapi seperti ditunjukkan pada halaman pertama At Tadzkirah, pengutipan wahyu disusun berdasarkan waktu diturunkan.

Sebagai contoh, dari halaman 64 At Tadzkira :
Waktu turun : 1883 atau sebelumnya
Ilham pertama dengan bahasa Inggris, Dia berkata:I LOVE YOU
Setelah itu turun ilham kedua : I AM WITH YOU
Setelah itu turun ilham ketiga : I SHALL HELP YOU
Setelah itu turun ilham keempat : I CAN WHAT I WILL DO
Setelah itu turun ilham kelima dengan sangat keras sehingga badan pun bergetar : WE CAN WHAT WE WILL DO

Pada halaman 65 berdasarkan mimpi di tahun 1883 atau sebelumnya dijelaskan : “Di suatu pagi saya bermimpi melihat beberapa kertas yang dicetak dari tukang pos dan pada halaman terakhir tertulis: “I AM BY ISA”.
At Tadzkirah dipenuhi oleh semacam ilham dan mimpi. Terkadang dengan bahasa Arab, bahasa Yahudi, bahasa Inggris, bahasa Parsia, bahasa Punjabi dan terkadang dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Mirza Ghulam sendiri. Adalah penting untuk mengemukakan contoh-contoh lain, sehingga orang-orang Ahmadiyyah yang kebanyakan tidak pernah membaca buku ini seharusnya mengetahui keanehan dan ketidaknormalan yang pernah dicapai Mirza Ghulam.

Sangat Mencintai Uang
Hasan bin Mahmud ‘Audah menyampaikan beberapa bukti bahwa Mirza Ghulam sangat mencintai uang sebagai berikut :
Mirza Ghulam berkata: “Pada tanggal 5 Maret 1905, Aku bermimpi bertemu seorang malaikat dengan bentuk manusia. Dia datang di depanku dan memberiku uang yang banyak. Dia menyimpannya di kamarku. Aku bertanya mengenai namanya. Dia menjawab: “Aku tidak memiliki nama”. Aku berkata: “Engkau pasti punya nama”. Maka dia menjawab : “Namaku Tichee Tichee”, (Khazain, jilid 22, hal. 346).

Kebanyakan dari 50.000 ilham dan mimpi Mirza Ghulam adalah berkaitan dengan penerimaan uang dan hadiah saja, berarti sekitar tujuh ilham dan mimpi setiap hari sejak dia mengaku nabi sampai meninggal dunia. Mirza Ghulam berkata: “Ingatlah, bahwa diantara kebiasaan Allah bersamaku adalah Dia selalu memberitahu aku melalui ilham atau mimpi mengenai kedatangan uang dan hadiah untukku sebelum aku menerimanya. Dan sungguh ilham dan mimpi semacam ini telah terjadi lebih dari 50.000 kali”. (Khazain, jilid 22, hal. 346).

Banyak isi At Tadzkirah yang mengandung keanehan dan tidak bisa dimengerti maknanya
Hasan bin Mahmud ‘Audah, menyampaikan beberapa kutipan dari At Tadzkirah yang sulit dimengerti maknanya. Berikut ini disampaikan beberapa kutipan dengan disertai keterangan halamannya.
“Hurry hurry”, (hal. 830), “Mota moti lagriheehe”, (hal. 525). “Ghatham, Ghatham, Ghatham”, (hal 325). “Basyir ad daulah, alam kebab”, (hal. 215). “28-27-14-2-27-2-28-1-23-15-11” (lihat hal. 202, Mirza Ghulam tidak pernah menjelaskan maksudnya). “Asosiasi”, (hal. 821). “Wallah, wallah, siddaha hoya awala” (bahasa Punjabi), (hal. 744).

“Kapal laut dan kedamaian”, (hal. 658). “Dua empat bulan”, (hal. 611). “Catatan keuangan”, (hal. 589). “Tar Aii”, (=telah datang telegram), (hal. 778). “Diturunkan Der Qadiyan”, (Dalam Bahasa Persia), (hal. 802). “Menghilangkan batuk” (hal. 787). “Saya mencintai alis mata”, (hal. 731). “Akan pergi setelah 25 Februari”, (hal. 587). “Satu kata dan dua anak perempuan”, (hal. 587). “Tragedi keuangan”, (hal. 419). “Asisten ahli bedah”, (hal. 530).

“Toba ya topa”, Mirza Ghulam bertanya kepada para sahabatnya: “Lihatlah, dengan bahasa apa wahyu ini, mungkin ini berbahasa orang yahudi?”. Dijawab oleh Mufti Ahmad Shadiq (salahsatu nama pembesar dan orang berilmu dari kalangan sahabat Mirza Ghulam) : “Tidak ada bunyi “p” dalam bahasa orang yahudi, oleh karena itu wahyu ini bukan berbahasa yahudi”. Padahal sebagaimana diketahui bahwa bunyi “p” itu ada pada bahasa yahudi. (hal. 771).

“Ilm Aldurman 223”, Mirza Ghulam berkata : “Kata ‘ilm’ adalah bahasa arab, kata ‘durman’ adalah bahasa Persia, kemudian nomor ‘223’ setelahnya saya tidak tahu apa artinya” (hal. 671).
“Perut meledak”, Mirza Ghulam berkata : “Saya tidak tahu tentang siapa wahyu ini diturunkan”, (hal. 666).
“Aku akan menolongmu, engkau harus pergi ke Amritsar”, (Sebuah daerah di Punjab), (hal. 121).
“Hoo Shana Naisa”, (Mirza Ghulam berkata : “Saya tidak tahu, berbahasa apa ilham ini”), (hal. 120).
“Parishen, Umar Baratoos ya Palatoos”, (Mirza Ghulam berkata: “Saya tidak tahu apakah Baratoos atau Palatoos karena wahyu datang sangat cepat”.), (hal. 119).
Mirza Ghulam berkata : “Telah datang kepadaku wahyu di sore hari”, “Syaudry rustum ali”. (Dia tidak pernah menjelaskan apa maksud ilham ini, (hal. 528).
Di dalam mimpi Mirza Ghulam melihat botol kaca yang bertuliskan : “Aku peppermint”, (hal. 525).
“Pada suatu pagi, di dalam mimpi aku melihat kalimat yang tertulis : “Ah, kemana perginya Nadir Syah”, (hal. 543).
“Tiga kambing akan disembelih”, (Mirza Ghulam berkata : “Aku sudah melaksanakan wahyu ini dengan menyembelih tiga kambing”, (hal. 582).
“Aku sering kencing, kemudian aku berdoa kepada Allah, maka datanglah ilham kepadaku : “Assalaamu ‘alaikum”, (hal. 560).
“Perjalanan Arab”, Mirza Ghulam berkata : “Mungkin diantara takdir, sesungguhnya aku akan pergi ke tanah arab”, tetapi dia tidak pernah melakukannya, (hal. 558).
“Merugikan kesehatan”, tidak ada tulisan tentang apa ilham ini dan apa makna kalimat ini. Mirza Ghulam hanya berkata: “Ilham ini datang sekitar dua atau tiga hari yang lalu”, (hal. 549).
Mengenai Mesjid Mubarok yang berbatasan dengan rumah Mirza Ghulam (tempat dinikahkannya Hasan bin Mahmud ‘Audah) : “Mubarok, mubarok dan segala urusan mubarok (diberkahi) barangsiapa yang memasukinya maka ia akan aman”, (hal. 110).
Mirza Ghulam mengatakan bahwa di tengah-tengah tidurnya telah keluar dari mulutnya kalimat ini : “FAIR MAN” (orang adil) (hal. 493).
Mirza Ghulam berkata : “Ketika sakit diabetes, saya buang air kecil seratus kali setiap hari, setelah saya berdoa kepada Allah, datanglah ilham ini :
وَالْمَوْتُ إِذَا عَسْعَسَ , “Dan ketika kematian didatangkan”, (hal. 392).

Ada banyak wahyu yang dihubungkan kepada Mirza Ghulam dengan bentuk seperti ini, mengandung keanehan dan penyimpangan. Tetapi sangat sedikit dari kaum Ahmadi, yang mempelajari At Tadzkirah, perhatikan beberapa contoh lain berikut :
إِنَّ الله َمَعَ الْخَائِفِيْنَ , “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang takut”, (hal. 328).
اَلْفَارِقُ وَمَا أَدْرَاكَ مَاالْفَارِقُ , “Perbedaan, apa yang engkau ketahui tentang perbedaan?”, (hal. 523).
يَا مَرْيَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ “Wahai Maryam, tinggallah beserta pasanganmu di surga”, (hal. 727).
نَزَلَ الله ُفِي قَادِيَان وِفْقًا لِوَعْدِهِ “Allah telah turun di Qadiyan untuk memenuhi janji-Nya”, (hal. 542).

“Sesungguhnya aku berkeliling bersama Ar Rahman”, (hal. 830).
“Cukup bagimu wanita ini”, (hal. 830).
“Allah bershalawat kepadamu dan kepada Muhammad”, (hal. 794).
“Di dalam makanan dan pakaian yang baik ada aqal”, (hal. 776).
“Janganlah membunuh Zainab”, (hal. 748).
“Sesungguhnya siksa itu adalah kotak dan lingkaran”, (hal. 790).
“Saya akan menghilangkan api jahanam”, (hal. 528).
“Sesungguhnya kami menurunkannya di dekat Qadiyan”, (hal. 637).
“Seperti Allah di dalam bentuk kenabian (berbicara mengenai dirinya)”, (hal. 630).
“Hai Ahmad, diamlah engkau bersama istrimu di surga”, (hal 628).
“Cahaya kepemudaan akan bersinar di atasmu”, (hal. 610).
“Kecelakaan, bagi wanita ini dan suaminya”, (hal. 603).
“Kiamat telah datang, kiamat telah datang”, (hal. 602).
“Wahai Nabi Allah, aku tidak mengenalmu”, (kata bumi kepadanya), (hal. 588).
“Wahai bulan, wahai matahari, kamu dariku dan aku darimu”, (hal. 581).
“Mereka ingin melihat menstruasimu”, (hal 411).
“Kamu adalah Qabil akan datang kepadamu Wabil”, (hal. 403).
“Telah datang Raja Bangsa Arya”, (yang dimaksud adalah dirinya), (hal. 392).
“Kaisar India berterima kasih kepadamu”, (maksudnya Ratu Victoria), (hal. 348).
“Engkau paling sesuai dengan Isya bin Maryam, dalam hal bentuk, akhlak dan zaman”, (hal. 184).
“Aku seperti Al Quran dan melalui tanganku akan muncul hal-hal yang muncul pada Al Quran” (hal. 668).
“Jika engkau tidak ada, maka aku tidak akan menciptakan semesta”, (hal. 604).
“Semua pemakaman di dunia tidak bisa menandingi pemakaman ini (pemakaman surga yang dibangun Mirza Ghulam)”, (hal. 707).
“Menampakkan kebenaran dan keagungan, seperti Allah turun dari langit”, (mengenai putranya yang dijuluki Al Masih Al Mau’uud), (hal. 184).
“Aku menghendaki apa yang engkau kehendaki”, (hal. 546).
“Lakukan apa yang engkau mau karena aku telah mengampunimu”, (hal. 514).
“Sesungguhnya, engkaulah yang dikecualikan”, (hal. 504).
“Engkau bersamaku dan aku bersamamu, sesungguhnya aku berbai’at kepadamu dan Tuhan berbai’at kepadaku”, (hal. 432).

Mirza Ghulam berkata : “Di dalam mimpi aku melihat diriku sebagai dzat Allah dan aku yakin bahwa aku adalah Dia… Dan sifat ketuhanan telah dimasukkan ke dalam pembuluh darahku… Dan ketika aku di dalam keadaan ini, aku berkata: “Aku menginginkan peraturan baru, langit baru dan bumi baru, maka aku menciptakan langit dan bumi”. Mirza Ghulam bermaksud bahwa perkataannya ini sesuai dengan hadits Nabi mengenai tingkatan kedekatan orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, yakni hadits :
مَا زَالَ الْعَبْدُ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ حَتَّى صِْرتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَنَظَرَهُ الَّذِيْ يَبْصُرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ...
Seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaku, sehingga Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangan yang dia gunakan untuk menggenggam… “, (Padahal Nabi saw. dan para sahabatnya tak seorang pun yang mengaku melihat dirinya sebagai dzat Allah atau mengaku menciptakan langit dan bumi), (hal. 195-197).
“Sesungguhnya dia akan menjadi janda, sedangkan suami dan ayahnya akan mati dalam tiga tahun setelah pernikahan mereka, kemudian kami akan mengembalikan dia kepadamu setelah kematiannya dan tidak ada seorang pun dari mereka yang yang bisa menghentikan ini”, (Wahyu ini berbahasa arab yang sangat jelek, mengenai seorang wanita muslimah, Muhammady Baigum yang ingin dinikahi Mirza Ghulam tetapi wanita itu menolaknya, kemudian dia dinikahi lelaki lain dan Mirza Ghulam meninggal sambil wahyu ini tidak pernah terjadi), (hal. 166).

Mirza Ghulam sebenarnya tidak mengharapkan keimanan kepada Al Quran
Hasan bin Mahmud ‘Audah menjelaskan bahwa Mirza Ghulam tidak menginginkan keimanan kepada Al Quran tetapi dia menginginkan keimanan kepada At Tadzkirah sebagai kumpulan wahyu dan ilham akhir zaman. Karena di dalam Al Quran ada firman Allah swt : “Katakanlah, Dia-lah Allah Tuhan Yang Maha Esa,… Tidak beranak dan tidak diperanakkan”, tetapi Mirza Ghulam mengatakan bahwa Allah menyampaikan wahyu kepadanya : “Kedudukan engkau seperti anakku”, (At Tadzkirah, hal. 636).

Mirza Ghulam berkata : “Sesungguhnya kalimat yang diturunkan kepadaku adalah yakin dan pasti… Aku beriman kepadanya seperti aku beriman kepada kitab Allah”, (Khazain, jilid 20, hal. 412).

Peminum arak, pengguna madat dan beberapa keanehan lainnya
Hasan bin Mahmud ‘Audah berkata : “Wahai orang-orang Ahmady, siapa diantara kalian yang mengetahui bahwa Mirza Ghulam adalah peminum arak, pengguna madat dan suka membiarkan para wanita dan para gadis yang bukan bukan istrinya memijat badannya dan menemaninya sepanjang malam serta hal-hal yang memalukan lainnya!?. Sangat sedikit dari kalian yang mengetahui karena sesungguhnya sangat sedikit di antara kalian yang membaca buku-buku biografi Mirza Ghulam. Diantara buku yang paling penting adalah Sirah Al Mahdy yang disusun oleh Qomarul Anbiyaa, putra Mirza Ghulam”. Berikut ini disampaikan beberapa kutipan dari buku tersebut ;
Pada riwayat nomor 929 : Dr. Mir Muhammad Ismail, salah seorang sahabat dekat Mirza Ghulam mengatakan : “Paduka Al Masih Al Mau’ud ‘alaihis salam (Mirza Ghulam) telah menegaskan bahwa pada madat itu ada manfaat yang menakjubkankan dan asing dan dia (Mirza Ghulam) telah mempersiapkan sendiri dari madat itu, sebuah obat yang dia sebut ‘obat ketuhanan’, dia suka memberikannya juga kepada para sahabatnya”.

Pada riwayat nomor 966 : Sheti Ghulam Nabi mengabarkan kepadaku bahwa dia pernah pergi ke Al Masih Al Mau’ud untuk mengadukan masalah yang membingungkannya kemudian padukanya (Mirza Ghulam) berkata : “Aku sudah siapkan arak, maka minumlah ini setiap hari, memang benar arak itu haram, tetapi arak yang telah aku buat sendiri ini halal”. Dia juga menambahkan bahwa padukanya selalu mengirim segelas arak di waktu pagi dan segelas di waktu sore selama sekitar satu bulan. Kemudian dia pernah meminta resep pembuatannya tetapi Mirza Ghulam berkata: “Engkau tidak akan bisa membuatnya, datanglah dan ambilah dariku saat engkau membutuhkannya”.

Sangat banyak aspek-aspek Mirza Ghulam seperti yang disebut di atas yang disampaikan di dalam Sirah Al Mahdy. Berikut adalah beberapa intisari dari Sirah Al Mahdy disertai nomor riwayatnya.
Al Masih Al Mahdy menderita penyakit gangguan syaraf sehingga dia jatuh ke tanah dan tidak bisa menjadi imam shalat, (No. 369). Tangan kanannya patah sekali dan dia tidak bisa menggunakannya untuk makan sampai dia meninggal dunia, (No. 479 & 564). Dia menderita penyakit kuning, (No. 81 & 93). Dia menderita penyakit paru-paru, (No. 66). Dia tidak bisa melihat dengan baik, (No. 673). Dia selalu menggunakan baju hangat sepanjang tahun (sekalipun musim udara yang sangat panas), (No. 597). Dia menegaskan bahwa dia minum arak dan menggunakan madat sebagai obat (No. 655).

Dia samasekali tidak pernah beribadah haji, (No. 672). Dia samasekali tidak pernah beri’tikaf, (No. 66). Dia samasekali tidak pernah beristigfar, (No. 1). Dia meminta istrinya berada di sampingnya ketika shalat, sehingga jika ia terjatuh maka jatuh ke pangkuan istrinya, (No. 696). Sekali dia berpuasa sehari kemudian sakit maka kemudian dia berbuka, (No. 697). Wanita yang haram bagi dirinya menjaganya sepanjang malam, (No. 786). Dia sering pingsan dan sering jatuh ke lantai, (No. 788). Zainab, gadis muda pelayannya menjaganya sepanjang malam sampai tibanya waktu fajar, (No. 896). Seekor anjing bernama Shiro selalu mendampingi Mirza Ghulam, (No. 957). Dia tidak hafal ayat-ayat Al Quran kecuali sangat sedikit, (No. 553). Dia menegaskan bahwa dirinya adalah ruhnya islam dan islam akan mati tanpa dirinya,(no. 665). Dia menderita penyakit diare beberapa tahun sebelum kematiannya dan kemudian mati dengan sebab penyakit itu (No. 372).

Menganggap kafir orang-orang muslim yang lain
Ketahuilah bahwa Mirza Ghulam menganggap kafir muslimin lain dengan penyampaian wahyu berikut : “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengikutimu dan tetap berbeda denganmu, dia itu hanyalah pendosa kepada Allah dan rasul-Nya dan termasuk penghuni neraka jahim”. (At Tadzkirah hal. 342).
“Sungguh Allah telah menjelaskan kepadaku : “Sesungguhnya setiap orang yang sampai dakwahku kepadanya tetapi tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang muslim dan dia berhak atas siksa dari Allah”. (At Tadzkirah hal 600).
“Barangsiapa yang memisahkan antara aku dengan Al Musthafa (Nabi Muhammad saw), berarti dia tidak mengenalku dan tidak mengetahui”, (Khazain, jilid 16, hal. 259).

Penjelmaan para Nabi dan orang salih
Mirza Ghulam telah mengakui bahwa dirinya merupakan penjelmaan (titisan) para nabi dan orang salih sebelumnya.
“Allah telah menurunkan kepadaku berkah Rasul yang ini, menyelesaikan dan menyempurnakannya, sehingga kehadiranku merupakan kehadirannya”, (Khazain, jilid 16, hal. 259).

“Aku adalah yang dimaksud dengan firman Allah : “Dan (Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat” (At Tahriim (66) : 12).

Akulah satu-satunya yang dipanggil Maryam dan sesusungguhnya telah ditiupkan ruh Isya pada diriku”, (Khazain jilid 22, hal. 350-351).
“Allah telah menjadikanku sebagai Maryam selama dua tahun … Kemudian kepadaku ditiupkan ruh Isa sebagaimana telah ditiupkan kepada Maryam, kemudian dia hamil. Setelah beberapa bulan, tidak lebih dari sepuluh bulan, aku beralih dari bentuk dari Maryam menjadi Isa. Demikianlah, kemudian aku menjadi Isa bin Maryam”, (Khazain, jilid 19, hal. 50).

“Sesungguhnya perumpamaan aku disisi Allah adalah seperti Adam … Allah telah menjadikan aku sebagai Adam dan Dia telah memberikan kepadaku segala yang telah diberikan kepada Bapak Manusia …”, (Khazain jilid 16, hal. 253-254).

“Telah diilhamkan kepadaku bahwa kedatanganku tercantum di dalam Al Quran dan Hadits : “Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”. (As Shaff (61) : 9).(Khazain jilid 18, hal. 208).

“Allah memberikan segala yang telah diberikan kepada masing-masing nabi secara terpisah, tetapi Dia memberikan semuanya kepadaku”, (Khazain jilid 18, hal. 477).

“Aku bersumpah demi Allah yang ruhku berada pada genggaman-Nya, sungguh Dia telah mengutusku dan menyebutku sebagai nabi, Dia memanggilku Al Masih Al Mau’ud, dan untuk membenarkan pengakuanku ini, Dia menurunkan banyak mukjizat besar melampui 300 ribu mukjizat”, (Khazain hal 22, No. 503).
“Untuk menetapkan kerasulanku, sungguh Allah telah menurunkan banyak mukjizat yang apabila mukjizat ini dibagikan kepada seribu nabi, maka para nabi itu akan ditetapkan sebagai rasul pula. Tetapi syetan-syetan dari kalangan manusia tidak mau membenarkannya”. (Khazain, jilid 23, hal. 332).

“Aku bersumpah demi Allah, sungguh aku beriman kepada wahyu yang turun kepadaku seperti aku beriman kepada Al Quran dan kitab-kitab lain yang turun dari langit. Dan sesungguhnya aku beriman bahwa wahyu-wahyu itu diturunkan kepadaku dari Allah sebagaimana aku beriman bahwa Al Quran diturunkan dari-Nya”. (Khazain jilid 22, hal. 220).
“Aku melihat pada salahsatu mimpiku bahwa di dalam Al Quran disebutkan tiga tempat yang dimulyakan dan dihormati, yaitu Makkah, Madinah dan Qadiyan”, (Khazain jilid 3, hal. 140).

Memperkuat Pemerintah Inggris
Berikut kutipan yang menunjukkan peran Mirza Ghulam dalam memperkuat Pemerintah Inggris yang pada saat itu sedang menjajah India.
“Sungguh aku telah menghabiskan kebanyakan umurku untuk memperkuat dan membela Pemerintah Inggris. Dan aku telah menyusun buku-buku, iklan dan buletin untuk mencegah jihad dan mewajibkan taat kepada pemerintah yang apabila dikumpulkan niscaya akan memenuhi 50 lemari”, (Khazain jilid 15, hal. 155).
“Sungguh aku telah menyebarkan 50.000 buku, surat dan bulletin di negeri ini dan di negeri islam lainnya yang menjelaskan bahwa Pemerintah Inggris adalah pemilik kelebihan dan anugrah. Dan sesungguhnya wajib bagi semua muslim untuk mentaati pemerintah ini dengan sebenar-benarnya ketaatan”. (Khazain, jilid 15, hal. 114).
“Wajib bagi kita dan keturunan kita untuk berterima kasih kepada Pemerintah Inggris yang diberkahi ini”, (Khazain jilid 3, hal. 166).
“Sejak kecil sampai sekarang usiaku sudah lebih dari 60 tahun, aku senantiasa bekerja keras dengan lisan dan penaku untuk mengarahkan hati orang-orang islam agar tulus kepada Pemerintah Inggris dan bersikap baik kepadanya”, (Istiharat jilid 3, hal. 11).
“Jelas bagi Negara yang diberkahi ini (Inggris) bahwa kami termasuk pembantu mereka dan pengajak kepada kebaikan mereka sejak dulu. Dan kami melakukannya di setiap waktu dengan hati yang tulus”, (Khazain jilid 8, hal. 36).
“Sungguh aku mengetahui bahwa Allah Yang Maha Tinggi telah menjadikan Pemerintah Inggris ini sebagai pelindung dan penjagaku beserta golonganku dengan anugrahnya yang istimewa. Dan keamanan yang telah diperoleh di bawah pemerintahan ini tidak mungkin bisa didapatkan di Makkah maupun di Madinah … (Khazain jilid 15, hal. 156)
“Yang diharapkan dari pemerintah ini (Inggris) adalah agar mereka memperlakukan aku dan golonganku dengan kasih sayang yang khusus dan kepedulian besar karena kami tidak pernah terlambat untuk memberikan pengorbanan dengan jiwa dan darah”, (Istiharat jilid 3, hal 21).

Mirza Ghulam membuat intisari dari pendapat dan keyakinannya dengan mengatakan :
“Sesungguhnya pendapatku dan keyakinanku yang sering aku katakan berulang-ulang adalah bahwa sesungguhnya Islam itu terdiri dari dua bagian, bagian pertama taat kepada Allah dan bagian kedua taat kepada Pemerintah Inggris yang telah memberikan keamanan dan melindungi kami dari orang-orang dzalim”, (Khazain jilid 6, hal. 380).

Pada bagian terkahir, Hasan bin Mahmud ‘Audah berkata : “Wahai orang-orang Ahmady, saya berharap agar anda meneliti kepalsuan Ahmadiyyah dan penyimpangannya dari kebenaran serta segera membebaskan diri dari mereka sebelum terlambat. Islam adalah agama yang sudah sempurna sebelum kedatangan Mirza Ghulam dan tetap akan sempurna sampai hari kiamat sebagaimana telah didatangkan oleh peneutup para Nabi dan Rasul, Muhammad saw. Mirza Ghulam telah menipu dan menyesatkan kalian. Sesungguhnya dia bukanlah nabi dan rasul, dia bukan Al Masih atau Al Mahdy, dia bukan Muhammad ataupun Nuh, dia bukan Maryam ataupun Adam seperti yang telah dia duga. Ketahuilah bahwa Allah adalah pemberi petunjuk, tidak ada pemberi petunjuk selain Dia, maka mintalah petunjuk kepada-Nya karena Dia Maha Mengetahui orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Maha Mengetahui orang-orang yang diberi petunjuk. Ketahuilah, bahwa keselamatan tidak akan terjadi hanya dengan semata-mata ketaatan kalian kepada Mirza Ghulam, tetapi dengan cara mengikuti dan berpegang teguh kepada Al Quran dan sunah Rasulullah saw. Al Quran adalah kitab yang sempurna yang tidak didahului atau disudahi dengan kebatilan sampai hari kiamat. Barangsiapa yang berpegang teguh kepadanya maka akan selamat”.

WALLAU A’LAM BISH SHAWAAB
Baca selanjutnya......

Senin, Agustus 25, 2008

FAKIR TAPI BOROS

Agustus 2008

Dalam rangka mendukung proses konversi penggunaan minyak tanah ke penggunaan gas elpiji, pemerintah melaksanakan kebijakan membagi-bagikan kompor gas beserta tabungnya secara gratis kepada rakyat. Hal ini sudah dan sedang dilakukan bertahap. Dan minggu lalu, pembagian ini sudah dilakukan juga di desa tempat saya tinggal.

Sesuatu yang tidak bisa dimengerti, ternyata yang menjadi mustahiq-nya adalah semua keluarga, termasuk keluarga yang sudah memiliki dan terbiasa menggunakan kompor gas. Bahkan jika ada satu rumah yang dihuni oleh dua kepala keluarga, maka rumah itu kebagian dua set kompor.

Lha terus, keluarga yang sudah memilikinya ini buat apa? Saya jamin, bahwa keluarga yang kebagian jatah padahal sudah memilikinya, tidak akan menambah penggunaan kompor gas di rumahnya. Mungkin kompor gas baru ini akan dijual atau mungkin juga akan digunakan dan kompor gas lamanya yang akan dijual atau bisa juga kompor baru ini hanya akan disimpan seperti di rumah saya yang kemudian hanya mempersempit rumah saya yang kecil.

Memang aneh bin ajaib, bukankah pemerintah kekurangan uang? Tetapi kenapa sering kali membelanjakan uang kepada sesuatu yang tidak bermanfaat atau melakukan belanja melebihi kebutuhan ?

Kasus lain dengan keanehan yang sama terjadi pula di daerah saya. Ketika beberapa bulan lalu diselenggarakan Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung). Awalnya ada pendaftaran calon pemilih. Ketika itu petugas memberi saya secarik kertas tanda sudah terdaftar sebagai calon pemilih. Kertas itu kemudian saya simpan karena saya pikir mungkin nanti akan dibutuhkan pada saatnya Pilkadal tiba untuk dibawa ke TPS.

Tetapi kemudian menjelang hari-H Pilkadal panitia pun datang lagi ke rumah-rumah untuk membagikan surat undangan untuk hadir di TPS. Jika hanya sampai disini saya masih maklumi, tetapi selain surat undangan ini panitia pun membagi-bagikan Kartu Tanda Pemilih dengan bentuk seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk). Sehingga terkesan bahwa pelaksanaan Pilkadal ini tidak hanya akan dilakukan sekali ini saja. Karena kalau hanya sekali, buat apa ada pembagian Kartu Tanda Pemilih dengan bentuk permanen seperti KTP.

Wah, berapa ya biaya pembuatan surat undangan untuk hadir di TPS dan Kartu Tanda Pemilih ini?. Karena jumlah biaya untuk pengadaan dua hal ini termasuk bagian dari uang Negara yang dibuang sia-sia. Terbukti, ketika saya datang di TPS, ketiga surat dan kartu itu saya bawa dan panitia hanya mengambil salahsatunya saja yaitu surat tanda terdaftar sebagai calon pemilih. Sedangkan surat undangan dan kartu tanda pemilih, saya bawa kembali ke rumah. Sehingga sejak dua kertas ini dibuat dan akhirnya masuk ke tong sampah di rumah saya hanya pernah dibagi-bagikan saja tetapi tidak pernah digunakan.

Aaaah….. caapppek deeeech…. Pantesan Kang Doel Sumbang dalam lagunya mengatakan kalau Pemilu mah ‘cuma kerajinan tukang sablon’. Memang tiasa janten nya Kang Doel…

Dua kejadian di atas hanyalah bagian kecil dari sekian banyak tindakan boros bangsa kita. Padahal seringkali kita menyayangkan jika kita melihat ada orang kaya yang terlalu suka berfoya-foya dan boros. Nah, kira-kira apa istilah yang paling tepat diberikan untuk bangsa yang fakir tapi boros ?
Baca selanjutnya......

Kamis, Agustus 14, 2008

Perbedaan Ar Rahmaan dengan Ar Rahiim

Kata Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ‘Yang Maha Pemurah’ dan ‘Yang Maha Penyayang’. Terjemahan dalam bahasa Indonesia seperti ini bagi dua kata tersebut sebenarnya hanyalah untuk pendekatan makna. Karena makna Ar Rahmaan dan Ar Rahiim yang sesungguhnya tidak bisa terwakili dengan terjemahan tersebut.

Kata Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, keduanya berasal dari akar kata yang sama, yaitu rahmah atau rahmat, yang berarti mengasihi atau menyayangi. Kata rahmaan dan rahiim berarti sesuatu atau seseorang yang bersifat rahmah. Ar Rahmaan dan Ar Rahiim adalah nama Allah, karena memang pada dzat-Nya melekat sifat rahmah ini.

Sifat rahmah atau kasih sayang pada Allah, tentu saja berbeda dengan sifat rahmah yang ada pada diri manusia atau makhluk lain. Di antara gambaran sifat rahmah pada Allah, telah disampaikan pada tulisan yang berjudul “Karena Rahmat-Nya”. Sedangkan tulisan yang ini tidak membicarakan kebesaran rahmah-Nya tetapi akan membicarakan perbedaan antara pengertian rahmah-Nya pada nama Ar Rahmaan dengan rahmah-Nya pada Ar Rahiim.

Perbedaan makna Ar Rahman dengan Ar Rohiim menurut Ibnu Jarir adalah sebagai berikut. Kasih sayang pada Ar Rahmaan merupakan kasih sayang Allah yang diberikan ke semua makhluk, tanpa pandang bulu. Baik orang mukmin maupun orang kafir, orang saleh maupun pendosa di dunia ini mendapat kasih sayang-Nya. Semua makhluk diberi segala kebutuhan untuk kehidupannya. Bahkan binatang sekalipun tetap mendapat curahan kasih sayang-Nya.

Sedangkan kasih sayang pada Ar Rahiim merupakan kasih sayang Allah yang diberikan secara khusus kepada orang beriman. Orang-orang yang tidak beriman tidak akan mendapat kasih sayang-Nya yang ini. Maka Allah Ar Rahiim di akhirat kelak hanya akan memberikan rahmah-Nya kepada orang-orang yang diridhai oleh-Nya.

Mari kita cermati perbedaan penggunaan nama Ar Rahmaan dengan Ar Rahiim pada beberapa firman-Nya berikut ini. Akan tampak perbedaan penggunaan dua nama tersebut, bahwa Ar Rahmaan digunakan dalam kaitan kasih sayang kepada seluruh makhluk. Sedangkan Ar Rahiim digunakan hanya untuk kasih sayang yang berhubungan dengan orang beriman.

Berikut contoh-contoh ayat yang mengandung nama Allah, Ar Rahmaan ;
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?”
(Al Mulk (67) : 3)
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya dia Maha melihat segala sesuatu”.
Al Mulk (67) : 19

“Katakanlah: "Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo bagi mereka, sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepada mereka, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya".
(Maryam (19) : 75)

“Katakanlah: "Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pemurah?" Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingat Tuhan mereka”.
(Al Anbiyaa (21) : 42)

“Kemudian pasti akan kami tarik dari tiap-tiap golongan, siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”.
(Maryam (19) : 69)

Bandingkan dengan firman-Nya berikut ini yang menunjukkan kasih sayang-Nya secara khusus kepada orang-orang beriman, Allah menggunakan nama-Nya Ar Rahiim :

“Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah dia Yang Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”.
(Al Ahzab (33) : 43)

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(At Taubah (9) : 102)

Selain perbedaan di atas, perbedaan lain adalah nama Ar Rahmaan adalah nama khusus untuk Allah. Tetapi rahiim terkadang digunakan juga untuk makhluk seperti pada firman-Nya :
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) kalian, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman
(At Taubah (9) : 128)

Baca selanjutnya......

Selasa, Agustus 05, 2008

PEMBUNUH BERANTAI

Agustus 2008

Ketika pertama kali saya mendengar sebuah judul berita ‘pembunuh berantai’, seperti biasa saya menebak-nebak isinya terlebih dahulu. Awalnya saya menduga bahwa ‘pembunuh berantai’ itu adalah pembunuh beruntun, seperti tabrakan beruntun, gambarannya mobil A ditabrak oleh mobil B, mobil B ditabrak oleh mobil C dan seterusnya. Atau seperti arisan berantai yang sempat membodohi masyarakat pelamun yang ingin kaya dengan cepat. Yakni seorang anggota arisan mengambil uang dari downline-nya, downline-nya ini mengambil uang dari downline-nya juga dan seterusnya, hingga akhirnya downline paling bawah yang gigit jari karena sudah tidak menemukan downline baru buatnya yang bisa dia sedot darahnya. Atau seperti cabang olah raga lari estafet, dimana para atelit berlari sambung menyambung.

Ternyata tebakan saya ini salah karena istilah pembunuh berantai tidak bermakna seperti yang disebutkan di atas dan bukan pula berarti pembunuh yang membawa rantai. Yang disebut dengan pembunuh berantai ternyata adalah seorang pembunuh dengan korban sangat banyak.

Ketika saya berpikir tentang istilah apa sebetulnya lebih tepat diberikan kepada pembunuh seperti ini, di salahsatu stasiun televisi ditayangkan berita tentang seorang mantan pemimpin Serbia Bosnia bernama Radovan Karadzic, yang diserahkan kepada Pengadilan Internasional terhadap Penjahat Perang bekas Yugoslavia (ICTY) di Den Haag. Di dalam berita itu, pembaca berita menyebutkan bahwa diantara kejahatan yang dilakukan Radovan Karadzic adalah ‘pembunuhan masal’ pada saat meletusnya perang Bosnia Herzegovina pada tahun 1992-1995. Nah…. mungkin inilah julukan yang lebih tepat bagi pembunuh yang menelan banyak korban, yaitu ‘pembunuh masal’.

Tapi pentingkah membahas istilah itu? Bukankah yang lebih penting itu justru membahas isinya? Bukan malah membahas istilah, bungkus, simbol, formalitas dan sebagainya. Nah, pemikiran inilah yang saya suka. Tapi jangan lupa juga, pembicaraan bungkus ini menjadi penting ketika kita sedang berbicara mengenai pembunuh masal ini. Karena menurut media masa, pelaku pembunuhan masal ini adalah orang yang memiliki penyimpangan isi dari bungkusnya, alias telah terjadi penyimpangan ruhani dari jasmaninya.

Padahal, dengan sangat jelas kita sering menyaksikan saat ini banyak sekali orang-orang bertingkah laku menyalahi bentuk fisiknya. Celakanya, keadaan seperti ini justru mendapat sambutan baik dari masyarakat bahkan secara tidak langsung telah dipromosikan. Contohnya, ada beberapa acara televisi nasional yang mencapai rating tinggi yang pada acaranya ditampilkan laki-laki dengan gaya berebeda. Tangannya melambai, kalau bicara bibirnya keriting seakan meniru perempuan, memukul dengan telapak tangan bukan menonjok dengan kepalan tangan dan berjalan berlenggak-lenggok seperti berada di atas cat walk. Sekalipun orang-orang yang seperti ini masih tetap mengaku laki-laki tetapi dia bangga dengan gaya perempuannya. Memang sih, acara menjadi segar karena muncul kelucuan-kelucuan sekalipun terkadang terlalu dibuat-buat dan norak. Tetapi bukankah sebenarnya tidak ada hubungan antara acara yang menarik dengan gaya-gaya aneh di atas? Artinya suasana menghibur yang diharapkan sebetulnya bisa dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang berpenampilan sesuai fitrahnya.

Seorang teman saya yang anggota Marinir, ketika sedang nongkrong dengan saya pernah menegur seorang remaja anaknya tetangga yang gaya berjalannya tidak tegap. Punggung agak membungkuk dan ketika melangkah telapak kakinya kurang diangkat sehingga bagian bawah sandalnya akan cepat tipis karena terus menggores-gores jalan. Teman saya itu menegur anak remaja itu dan memintanya supaya berjalan tegap agar terlihat gagah sebagai laki-laki.

Untuk kali ini saya sependapat dengannya. Secara jujur saya akui, terkadang saya sebbel… sebbel… sebbel… (diucapkan dengan bibir keriting, tangan melambai dan mata menggoda), jika melihat seorang laki-laki yang lemah gemulai. Karena terhadap penampilan jasmani yang seperti itu, terkadang saya berburuk sangka, jangan-jangan hal ini adalah penyesuaian terhadap sikap rohaninya. Kenapa seorang laki-laki tidak bangga berpenampilan sebagai laki-laki dan membiarkan perempuan saja yang bangga berpenampilan sebagai perempuan.

Karena akibatnya terkadang menjadi rumit. Apalagi sampai muncul kejadian banyak laki-laki yang menyukai sesama jenis. Ketika sebilah pedang berhadapan dengan sebilah pedang lagi maka yang akan terjadi adalah suasana ruwet dan menghebohkan. Lain halnya ketika sebilah pedang dimasukkan ke dalam sarungnya, yang akan terjadi adalah suasana aman, nyaman dan tentram. Karena memang kontruksi pedang itu sudah dibuat sedemikian rupa sehingga ketika dipasangkan dengan sarungnya akan terasa nyaman, klop dan berukuran pas.

Tentu saja gairah terhadap sesama jenis akan sangat sulit terpuaskan, karena hal ini menentang fitrah. Ditambah mencari sesama jenis yang semadzhab sangatlah sulit karena jarang. Dengan kondisi ini maka wajar jika orang seperti ini akan selalu pusing dan stress karena seringkali kejadian ‘kasih tak sampai’, gairah tak terarah dan takut kehilangan yang berlebihan. Maka munculah sikap nekad melakukan prilaku kekerasan bahkan sampai membunuh atau usaha untuk bunuh diri.

Agaknya pendidikan sex sejak dini memang sangat perlu disampaikan disamping pendidikan agama yang benar-benar diresapkan ke dalam jiwa. Agar laki-laki dan perempuan sejak dini lebih mengenal dan menjiwai fitrahnya. Memang benar mereka yang sudah terjerumus ini harus dikasihi dan diperlakukan seperti manusia lainnya. Tetapi usaha untuk mengobati dan menghindarkan mungkin lebih tepat daripada mensponsori, terus mempertontonkan, mendukung dan memberi hati.

Cukuplah gambaran tentang kaum Nabi Luth yang diadzab oleh Tuhan akibat prilaku menyimpang di bumi ini. Tidak perlu menantang turunnya kembali adzab-Nya akibat hal yang sama.
Baca selanjutnya......

Kamis, Juli 31, 2008

Surga Para Koruptor


Ketika teman saya mengatakan bahwa Indonesia termasuk ke dalam sepuluh besar di antara Negara-negara terkorup di dunia, saya gak percaya !. Kok, gak percaya ?. Ya iyyya laaah…. Kalau juara pertama, baru saya percaya.

Institusi mana di negeri ini yang tidak terkena kasus korupsi?. Lembaga Negara, baik lembaga tinggi maupun lembaga yang kurang tinggi, baik pemerintah maupun pengontrol pemerintah. Dari mulai tingkat pusat, daerah tingkat 1, daerah tingkat 2 dan seterusnya. Mungkin cuma daerah tingkat 5 dan 6 saja (RW dan RT maksudnya…) yang tanpa korupsi, ini pun mungkin hanya karena tidak ada kesempatan, kalau ada peluang mah masa kita gak mau melestarikan "tradisi" bangsa.

Tampak jelas persekongkolan di antara pejabat pemerintah, pengusaha, wakil rakyat, penegak hukum dan yang lainnya. Uang berputar di antara mereka dengan jumlah yang tidak sedikit. Sehingga sulit agaknya jika Indonesia disebut tidak punya uang. Uang itu sebenarnya banyak, hanya saja peredarannya tidak secara merata dan tidak secara halal.

Anehnya, di negeri ini sering ditemukan kasus korupsi, tetapi sangat jarang ditemukan koruptornya. Mungkinkah uang-uang itu diambil jin, tuyul atau makhluk sejenis jurig lainnya? Tapi masa seh jurig butuh duit? Kalau manusia yang seperti jurig mungkin butuh.

Alhamdu lillah, saya mah tidak ditakdirkan menjadi pejabat ataupun wakil rakyat, sehingga saya tidak melakukan korupsi. Bukankah kebanyakan penyebab orang-orang yang tidak melakukan korupsi adalah hanya karena tidak adanya kesempatan. Jika ada kesempatan, orang yang tadinya anti korupsi juga bisa terseret menjadi koruptor. Bagaimana bisa berenang melawan arus sungai yang sangat deras kecuali dengan memiliki kekuatan yang sangat hebat. Bukankah korupsi itu sudah menjadi tradisi? Sehingga orang yang tidak korupsi di sebuah lingkungan yang memiliki peluang korupsi adalah orang yang paling aneh dan dianggap sudah keluar dari jama’ahnya. Nah.. lo…

Jika ada jajak pendapat tentang siapa yang harus diberi hukuman paling berat diantara bandar narkoba, pembunuh, pemerkosa, pelaku terror bom atau koruptor? Saya akan memilih koruptor. Karena jika bandar narkoba mengakibatkan lahirnya generasi yang lemot (lemah otak) dan lahirnya berbagai tindakan kriminalitas, maka korupsi pun mengakibatkan dampak tersebut, karena dana yang dicuri oleh para koruptor itu telah mengurangi kemampuan Negara untuk menyelenggarakan pendidikan dan hal-hal lainnya bagi rakyat sehingga mendorong kriminalitas. Adapun pembunuh, pemerkosa dan pelaku terror bom beroperasi kepada sebagian orang, sehingga dampaknya pun hanya bagi sebagian orang, tetapi korupsi berdampak menyengsarakan seluruh rakyat.

Wah, kalau pendapat saya itu benar, apa donk hukuman bagi para koruptor? Sedangkan pelaku terror bom, pembunuhan dan pengedar narkoba saja sekarang sudah mulai dihukum mati. Jawaban saya untuk pertanyaan itu, “belum ada hukuman yang tepat di negeri ini bagi para koruptor”. Mari, kita sebagai rakyat menyepakati bersama hukuman yang tepat dan berat bagi mereka. Jika rakyat sudah sepakat, maka akan mudah untuk mengusulkannya kepada pemerintah. Kita usulkan melalui wakil rakyat.

Tapi, sulit juga ya, wakil rakyat mungkin tidak akan mau mengusulkannya. Pasti mereka takut “senjata makan tuan”. Emmh… bagaimana kalau kita usulkan langsung saja kepada pemerintah?. Hehe…. Sulit juga bro, sami mawon!

Ente jangan banyak mimpi. Karena ini surga mereka. Surga para koruptor. Negara mereka, bukan Negara ente. Kita mah masih untung bisa diperbolehkan hidup disini. Coba kalau sudah datang yang lebih sial lagi, mungkin kita akan ditagih bayaran kontrakan karena sudah ikut numpang tinggal disini.

Bagi anda yang bukan koruptor dan merasa sangat kesal terhadap koruptor yang seringkali selamat dari hukuman di negeri ini bahkan bisa menikmati sisa hidupnya di luar maupun di dalam negeri, saya punya informasi yang mungkin bisa mengobati kekesalan anda. Para koruptor yakni orang yang tidak peduli dengan ekonomi rakyat kecil adalah termasuk kelompok orang yang mendustakan agama. Mereka yang melecehkan anak yatim dan tidak mendorong pertumbuhan ekonomi orang miskin, sekalipun mengaku beragama tetapi tindakan mereka itu menunjukkan kalau mereka tidak mempercayai adanya Tuhan dan kehidupan akhirat. Maka sekalipun mereka melaksanakan shalat, zakat, bahkan haji dan umroh setahun dua kali misalnya, mereka tetap akan mendapat kecelakaan karena mereka telah melupakan esensi shalat dan ibadah-ibadah lainnya itu. Ketahuilah shalat dan ibadah-ibadah lainnya yang mereka lakukan itu hanyalah kamoplase untuk mengelabui orang lain alias riya, bukan merupakan jiwa mereka yang sesungguhnya.

Tidak percaya? Coba lihat Surat Al Ma’uun (107). Kalau dengan yang ini, masa seeh… gak percaya?

Semoga Allah segera menjadikan negeri ini sebagai neraka. Neraka bagi para koruptor.
Baca selanjutnya......

Selasa, Juli 29, 2008

Karena Rahmat-Nya


Rahim dijadikan nama untuk salahsatu organ tubuh perempuan tempat tumbuhnya janin. Konstruksi dan sistem kerja rahim telah dibuat sangat baik dan tepat untuk pertumbuhan janin. Segala kebutuhan janin ketika di dalam kandungan diberikan tanpa henti. Begitu pula hal-hal yang akan dibutuhkan di masa yang akan datang, di masa setelah janin itu terlahir menjadi seorang manusia, telah dipersiapkan ketika janin itu di dalam rahim. Semua itu diberikan Allah dengan sempurna, tanpa henti bahkan tanpa pernah diminta. Kita semestinya menyadari betapa besar dan hebat kasih sayang-Nya.

Maka nama rahim untuknya adalah nama yang sangat tepat. Nama ini telah diberikan oleh Allah. Nama ini dibentuk dari salahsatu nama-Nya, yakni Ar Rahman, Yang Maha Pengasih. Karena disana ada kasih sayang-Nya yang tercurah. Dalam sebuah hadits qudsy dinyatakan firman-Nya :
“Aku adalah Ar Rahman, Aku menciptakan rahim dan aku bentuk untuknya sebuah nama dari nama-Ku. Barang siapa menyambungkan rahim itu (silaturrahim) maka Aku menyambungkan dia dan barangsiapa yang memutuskan rahim itu maka aku memutuskan dia”
(H.R. At Tirmidzi dari Abdurrahman bin Auf)

Ketika janin itu telah lahir di bumi sebagai seorang bayi, kasih sayang-Nya tetap nyata. Di antara kasih sayang-Nya dihantarkan melalui manusia yang disebut sebagai orang tua bayi itu. Padahal jika dipikir-pikir, bayi itu merepotkan orang tuanya, tetapi malah orang tuanya itu rela mengorbankan apapun untuk membela dan menyayangi bayinya. Ternyata, kecenderungan sikap untuk mencintai anak-anak telah dibuat-Nya menjadi fitrah manusia.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.
(Ali Imran (3) : 14)

Jika terus menelusuri nikmat dan kasih sayang-Nya, maka akan habis waktu kita tanpa keberhasilan menyebutkan semua nikmat-Nya itu. Coba kita sebutkan, ada berapa nikmat pada mata kita? Jangankan pada mata, berapa nikmat yang ada pada bagian dari mata, bulu mata misalnya. Wah, teramat sulit menghitung-hitung nikmat dan kasih sayang-Nya itu.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(An Nahl (16) : 18)

Jika mau menghitung secara matematis, apa yang harus kita lakukan untuk membayar segala nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita? Sanggupkah shalat kita yang tidak berkualitas ini membayar segala nikmat-Nya ini?. Jangan hanya shalat, semua yang kita anggap sebagai prestasi ibadah kita, telah sanggupkah membayar semua nikmat-Nya. Jangankan semua nikmat-Nya, nikmat diberi satu biji mata saja tidak akan terbayar oleh seluruh ibadah yang sudah kita lakukan. Bukankah jika ada orang yang mau membeli satu biji mata kita, kita tidak akan mau memberikannya, semahal apapun biji mata ini ditawar. Karena memang nikmat dan kasih sayang-Nya itu tidak bisa dinilai dengan apapun.

Apabila seluruh ibadah kita tak akan sanggup membayar nikmat-nikmat dari-Nya, maka apalagi kalau kita berharap agar ibadah kita itu bisa menebus surga. Surga adalah tempat yang dipenuhi segala nikmat-Nya. Surga adalah tempat yang sangat mahal. Mungkinkah ia bisa ditebus dengan seluruh ibadah kita? Sedangkan seluruh ibadah kita itu, untuk membayar nikmat-Nya saja tidak bisa, apalagi untuk menebus surga.

Ternyata benar apa yang dikatakan para ulama, bahwa jika seseorang masuk surga, maka sesungguhnya bukan karena amal ibadahnya. Tetapi hanyalah karena Rahmat-Nya, kasih sayang-Nya. Karena nilai ibadah seorang hamba tak akan sebanding dengan nilai surga. Lagi-lagi manusia tidak bisa lepas dari kasih sayang-Nya, hingga di akhirat sekali pun.

Dan perlu diingat, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan untuk mendapatkan Rahmat-Nya. Ingat firman-Nya :
“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi Rahmat”.
(Ali Imran (3) : 132)

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(At Taubah (9) : 71)
Baca selanjutnya......

Kamis, Juli 24, 2008

Robinhood, Kalijaga dan SBY

Mei 2008

Bayangkan jika di planet bumi ini tidak ada kata “tetapi” atau kata lain yang semakna dengannya. Mungkin semua akan berlangsung sempurna. Sesuatu yang dipandang baik, akan baik secara mutlak dan sesuatu yang dipandang buruk akan buruk secara mutlak, tanpa kecuali.

Dalam cerita rakyat Inggris, Robinhood beserta para pengikutnya adalah perampok harta orang-orang kaya dan para koruptor. Sehingga mereka menjadi musuh bebuyutan Sheriff Nottingham. Tetapi….. harta hasil merampoknya itu, dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin.

Sunan Kalijaga sebelum diusir dari wilayah Kadipaten Tuban oleh ayahnya sendiri Tumenggung Wilatikta, juga sering melakukan perampokan. Bermula dari membongkar gudang kadipaten, kemudian berlanjut ke perampokan dan pembegalan orang – orang kaya di Kadipaten Tuban. Tetapi…. semuanya dilakukan karena Kalijaga tak tahan melihat kesengsaraan rakyat akibat upeti yang dibebankan oleh Maharaja Majapahit yang kekuasaannya pada saat itu sudah mulai berangsur surut.

Berkat adanya kata “tetapi”, Robinhood dan Kalijaga yang melakukan perampokan sekalipun, menjadi dipandang sebagai orang baik. Tetapi….sayangnya kata “tetapi” ini membuat situasi kebalikannya pula. Sesuatu yang tadinya dipandang baik, berubah menjadi tidak baik.

Pemerintah berencana membagi-bagikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada rakyat miskin, tetapi….bersamaan dengan itu, harga BBM akan dinaikan. Uang Rp. 100.000,- per bulan itu bagi orang-orang miskin sangatlah berarti, tetapi….harga bahan-bahan kebutuhan pun bersamaan dengan itu akan mengalami kenaikan. BLT memang cukup akan membantu beban orang-orang miskin yang jumlahnya sangat banyak, tetapi….akibat kenaikan harga semua kebutuhan, jumlah orang-orang miskin itu akan bertambah lebih banyak.

Kata “tetapi” ternyata telah membuat situasi planet bumi ini bervariasi. Keburukan yang diikuti kata “tetapi” menggambarkan situasi ketidakberdayaan orang-orang baik yang akan malakukan kebaikan, sehingga mereka hanya melakukan tindakan alternative berupa keburukan. Dan kebaikan yang diikuti kata “tetapi” menggambarkan betapa masih banyak orang-orang yang tidak ikhlas di planet bumi ini. Mereka melakukan kebaikan, tetapi…dengan pamrih.

Kalimat terakhir dengan kata “tetapi”. Saya setuju dengan kenaikan BBM, karena saya meminum air putih, tidak meminum bensin. Tetapi…..dengan syarat tidak mengakibatkan kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan yang lain. Tetapi….gak mungkin kaleeee…..
Baca selanjutnya......

Nama Itu Menggetarkan Hati

Ketika anak panah menghujam jantung. Racunnya terpompa ke pembuluh darah lalu menjalar ke seluruh tubuh. Namun anak panah cinta mengeluarkan racun-racun cinta, racun-racun yang membuat melayang dan hampir gila. Lantas, berbagai rasa bercampur, membaur tidak teratur.

Berbagai kesenangan telah nyata tanpa diminta, sekalipun pintu-pintu kesalahan terus kubuka.
Aku menyesal, aku takut ditinggalkan, aku rindu pertemuan.
Engkau bisa murka tetapi Engkau juga penyayang.

Aku pernah tak sabar, aku pernah berburuk sangka, aku pernah merasa kecewa, aku pernah berpaling bahkan mungkin pernah mendua. Aku takut Engkau cemburu.

Maka berilah aku istiqamah dan ikhlas di jalan cinta-Mu.
Berikan kepadaku husnudz dzan, sabar, tawakkal dan ridha terhadap semua anugrah-Mu.
Aku hanya seorang hamba hina yang semestinya aku tunduk tersungkur terhadap apapun kehendak-Mu.

Berilah aku nikmat ketika menyebut nama-Mu.
Berilah aku kekuatan untuk tetap di jalan-Mu.
Agar sekalipun sejuta anak panah musuh mengancam, bahkan menembus tubuh ini, aku tak menggeserkan sujudku.

Semua rasa itu bercampur baur ketika nama-Mu disebut.
Harapanku dan ketakutanku.
Aku ingin seperti orang-orang dalam firman-Mu :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan sempurna) ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya). Dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.
(Al Anfal (8) : 2)
Baca selanjutnya......

Mengenal Hasan bin Mahmud 'Audah

Hasan bin Mahmud ‘Audah berkesempatan untuk mengenal golongan Ahmadiyyah ini dari dalam. Dia dilahirkan oleh dua orangtua dari golongan Ahmadiyyah dan tumbuh besar sebagai bagian dari kaum Ahmadiyyah. Bahkan dia pernah bekerja sebagai Direkur Umum Departemen Bahasa Arab Jamaah Ahmadiyyah di London dan juga sebagai penerjemah khusus bagi Khalifah Al Masih IV (Khalifah Kaum Ahmadiyyah). Dia juga pernah menjadi editor pada pimpinan redaksi majalah internasional Ahmadiyyah berhahasa arab yang diterbitkan di London. Lebih jauh lagi dia menghabiskan beberapa bulan di tempat kelahiran Ahmadiyyah, yakni Qadiyan, untuk belajar bahasa urdu, bahasa yang digunakan oleh pendiri Ahmadiyyah untuk menulis kebanyakan buku-bukunya dan surat-suratnya.

Di dalam bagian muqaddimah bukunya yang berjudul Al Ahmadiyyah, ‘Aqaa-id wa Ahdaats (versi bahasa arab) atau Ahmadiyya, beliefs and Experiences (versi bahasa inggris), Hasan bin Mahmud ‘Audah menjelaskan bahwa sejak Allah memberikan hidayah kepadanya untuk meninggalkan Ahmadiyyah, dirinya bertekad untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk menyebarkan ilmu islam dan membeberkan penyimpangan, kebatilan dan ‘aqidah rusak golongan Ahmadiyyah. Di antara bagian penting dalam melaksanakan tekadnya ini, dia telah mendirikan majalah Attaqwa International pada tahun 1411 H (1990M). Dan sampai Mei 1998 (saat penulisan buku ini), sudah dipublikasikan 26 judul majalah mengenai Ahmadiyyah ini.

Sejak beberapa tahun, pikiran Hasan bin Mahmud ‘Audah telah telah dipenuhi keinginan untuk menerbitkan sebuah buku yang komprehensif yang menjelaskan tentang hakikat Ahmadiyyah sebagaimana pengalamannya disertai bukti-bukti dari beberapa buku sumber utama ajaran Ahmadiyyah. Dia mengumpulkan berbagai sumber yang terpercaya sehingga bisa menjawab segala aspek yang dikemukakan oleh kelompok Ahmadiyyah yang sudah mengaku kenabian Mirza Ghulam Ahmad sejak dari seratus tahun yang lalu. Maha benar Allah dengan firman-Nya :
“Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang membuat kedustaan terhadap Allah, atau orang yang berkata : “Telah diwahyukan kepadaku”, padahal tidak ada sesuatu pun yang diwahyukan kepadanya, dan orang yang berkata : “Aku akan menurunkan sesuatu seperti apa yang telah Allah turunkan”. Alangkah dahsyatnya sekiranya engkau melihat orang-orang dzalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata) : “Keluarkanlah nyawamu”, Di hari ini kalian dibalas dengan siksa yang menghinakan karena kalian selalu mengatakan kepada Allah perkataan yang tidak benar dan karena kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. (Al An’am (6) : 93)

Akhirnya Allah membantu harapannya sehingga jadilah bukunya itu. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang mendengar seruan-Nya dan kemudian bisa mengikutinya.
Baca selanjutnya......

Resensi Buku Al Ahmadiyyah, 'Aqaa-id wa Ahdaats


Buku yang berjudul Al Ahmadiyyah, ‘Aqaa-id wa Ahdaats (versi bahasa arab) atau Ahmadiyya, Beliefs and Experiences (versi bahasa inggris) membeberkan tentang pengalaman pengarangnya, Hasan bin Mahmud ‘Audah seorang Ahmady dan aktifis Jama’ah Islamiyyah Ahmadiyyah.

Buku ini, menjadi referensi penting yang memperkenalkan hakikat golongan Ahmadiyyah dan ‘Aqidahnya. Dan juga mengenalkan pendirinya, yakni orang yang mengaku Al Mahdi, Al Masih dan Nabi akhir zaman. Buku ini menjadi referensi penting untuk mengenal struktur sosial dan administrasi organisasi golongan ini. Buku ini membeberkan hakikat kesesatan Ahmadiyyah dengan cara yang bisa dipercaya. Seandainya posisi-posisi penting di golongan ini tidak pernah dialami oleh pengarang buku ini, maka bukti-bukti dan dokumen-dokumen tentang kesesatannya mungkin tidak bisa terang-benderang seperti yang bisa ditemukan pada buku ini.

Penyusun buku ini berharap agar buku ini menjadi cermin bagi kaum Ahmadiyyah sehingga mereka bisa melihat fakta yang disembunyikan oleh pendiri Ahmadiyyah. Semoga setelah mereka mengetahui fakta ini, mereka bisa mengenal kebenaran dengan jelas, bisa kembali ke jalan yang benar, bertawakkal kepada Allah dan mendapatkan hidayah-Nya. Pengarang juga ingin menginformasikan kepada kaum muslimin, khususnya para da’i tentang kesesatan dan menyesatkannya golongan ini. Dan semoga buku ini bisa menjawab berbagai cara propaganda yang biasa dilakukan kaum Ahmadiyyah.

Buku ini diterbitkan oleh Yayasan At Taqwa Al ‘Alamiyyah, Rabi’ul Awwal 1421 H (Juni 2000)
Attaqwa Establishment International, P.O. Box 1212 SL2 5LS, England
www.attaqwa.net www.attaqwa.org www.attaqwa.com
Baca selanjutnya......

Sekilas tentang Ahmadiyyah


Pengertian
Ahmadiyyah adalah sebuah golongan yang tidak hanya menghubungkan golongannya kepada islam tetapi juga mengaku bahwa mereka adalah golongan yang selamat dan merupakan representasi islam itu sendiri. Ahmadiyyah dikenal juga dengan nama Qadiyaniyyah atau Mirzaniyyah dan sekarang mereka menyebut golongannya dengan nama Jama’ah Islam Ahmadiyyah.

Ahmadiyyah didirikan oleh seseorang yang mengaku nabi, berasal dari Qadiyan, Mirza Ghulam Ahmad pada tanggal 23 Maret 1889, di kota Ludhiana, Punjab, India, sebuah kota yang disebut oleh kaum Ahmadiyyah dengan sebutan Darul Bai’ah (tempat bai’at).

Seandainya para pengikut Ahmadiyyah memahami hakikat ajaran Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyan, insya Allah mereka akan meninggalkan ajaran Ahmadiyyah ini. Hal ini dibuktikan oleh Hasan bin Mahmud ‘Audah, seorang mantan Ahmady dan aktifis Jama’ah Islam Ahmadiyyah. Pada bukunya yang berjudul Al Ahmadiyyah, ‘Aqaa-id wa Ahdaats (versi bahasa arab) atau Ahmadiyya, beliefs and Experiences (versi bahasa inggris), dia membeberkan bukti-bukti kesesatan golongan ini beserta bukti-buktinya.

Di dalam bukunya tersebut, Hasan bin Mahmud ‘Audah membeberkan bukti-bukti yang bersumber dari buku At Tadzkirah, yaitu buku yang dipercayai golongan Ahmadiyyah sebagai kumpulan wahyu dari Allah kepada Mirza Ghulam Ahmad dan buku Ruhani Khazain, yaitu buku kumpulan buku-buku, surat-surat dan perkataan Mirza Ghulam Ahmad. Diantara yang menjadi salahsatu kesulitan orang-orang dari golongan Ahmadiyyah untuk mempelajari buku-buku ini adalah karena bahasanya yang merupakan campuran bahasa inggris dan bahasa urdu.

Keyakinan
Diantara penegasan Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyan, pendiri Ahamadiyyah adalah :
“Allah telah menjadikanku sebagai seorang nabi dan telah memanggilku dengan sebutan tersebut dengan sangat jelas”. (Ruhani Khazain, jilid 15 hal. 134).

“Aku adalah Al Masih, aku adalah Al Kaliim (yang diajak bicara oleh Allah), aku adalah Muhammad dan aku adalah Ahmad yang terpilih”. (Ruhani Khazain, jilid 15, hal. 134)

“Allah telah menurunkan kepadaku wahyu ini “Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersama dia adalah ……” (*). Di dalam wahyu ilahy yang ini aku disebut Muhammad dan disebut juga sebagai rasul”. (Ruhani Khazain, jilid 18, hal. 207).
[(*)Surat Al Fath : 29]

“Untuk menetapkan kerasulanku, sungguh Allah telah menurunkan banyak tanda-tanda (mukjizat) yang apabila tanda-tanda ini dibagikan kepada seribu nabi, maka para nabi itu akan ditetapkan sebagai rasul pula. Tetapi syetan-syetan dari kalangan manusia tidak mau membenarkannya”. (Ruhani Khazain, jilid 23, hal. 332).

“Aku bersumpah demi Allah, sungguh aku beriman kepada wahyu yang turun kepadaku seperti aku beriman kepada Al Quran dan kitab-kitab lain yang turunk dari langit. Dan sesungguhnya aku beriman bahwa wahyu-wahyu itu diturunkan kepadaku dari Allah sebagaimana aku beriman bahwa Al Quran diturunkan dari-Nya”. (Ruhani Khazain, jilid 22, hal. 220).

“Sesungguhnya aku menerima wahyu syari’at juga”. (Ruhani Khazain, jilid 17, hal. 430) (**).
[(**) Para pengikut Ahmadiyyah sering mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak membawa syari’at baru, tetapi hanya melanjutkan syari’at Nabi Muhammad saw., berarti mereka tidak mengetahui perkataan nabi mereka yang ini.]

Orang yang mengaku nabi ini telah berani juga menganggap kafir kaum muslimin yang lain dengan pengakuannya bahwa Allah telah menyampaikan wahyu berikut ini kepadanya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengikutimu dan tetap berbeda denganmu, dia itu hanyalah pendosa kepada Allah dan rasul-Nya dan termasuk penghuni neraka jahim”. (At Tadzkirah hal. 342).

Di bagian lain dia mengatakan wahyu palsu : “Sungguh Allah telah menjelaskan kepadaku : “Sesungguhnya setiap orang yang sampai dakwahku kepadanya tetapi tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang muslim dan dia berhak atas siksa dari Allah”. (At Tadzkirah hal 600).

Anak Mirza Ghulam Ahmad, yang dijuluki Al Muslih Al Mau’ud (reformis yang dijanjikan) berkata: “Sesungguhnya kaum muslimin yang tidak berbai’at kepada Al Masih yang dijanjikan (Mirza Ghulam), baik mereka telah mendengar namanya ataupun tidak, mereka adalah orang-orang kafir yang sudah keluar dari lingkaran islam”. (A-inah Shodaqoot hal. 35)

Jama’ah Islamiyyah Ahmadiyyah dan Nabi palsunya (Mirza Ghulam) sudah membuat intisari akidah dan madzhabnya dengan berkata : “Sesungguhnya madzhabku dan akidahku yang sering aku sampaikan berulang-ulang adalah : sesungguhnya islam itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah ketaatan kepada Allah dan bagian kedua adalah ketaatan kepada Pemerintah Inggris…..” (Ruhani Khazain, jilid 6, hal. 38) (***)
[(***) Sangat jelas, bahwa nabi palsu ini adalah orang yang mengorbankan islamnya demi membela habis-habisan Pemerintah Inggris yang menjajah bangsanya saat itu. Karena seperti biasanya, imprealis Eropa pada masa penjajahan takut terhadap munculnya semangat jihad dari kaum muslimin. Mereka tidak takut jika kaum muslimin menjalankan shalat, zakat dan ibadah-ibadah yang lainnya, tetapi mereka takut jika kaum muslimin memahami Al Quran dan menjalankan jihad. Mirza Ghulam Ahmad telah berusaha meredam semangat jihad ini sambil berusaha menarik simpati kaum muslimin dengan cara memuji-muji islam dan Rasulullah Muhammad saw.]

Sasaran
Ahmadiyyah telah membual mengenai kecintaannya terhadap islam dan usaha mereka untuk mempertahankan islam. Mereka memnyampaikan kutipan-kutipan yang dikatakan nabi palsu asal Qadiyan ini yang menyanjung Islam dan Rasulullah saw. Dan sangat jelas bahwa semua anggota kelompok ini adalah orang-orang yang sebelumnya muslimin dan hanya sedikit sekali yang berasal dari agama lain. Jadi sasaran yang paling penting Ahmadiyyah adalah mengajak kaum muslimin dengan caranya agar membenarkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad asal Qadiyan dan membenarkan bahwa dia adalah Al Masih dan Al Mahdi yang dijanjikan.

Aktifitas
Memperkuat Pemerintah Inggris
Mirza Ghulam Ahmad dengan tegas menjelaskan kegiatan terpenting yang dilaksanakannya di masa hidupnya dengan mengatakan : “Aku sudah menghabiskan kebanyakan umurku untuk memperkuat dan membela Pemerintah Inggris”. (Ruhani Khazain, jilid 15, hal. 155)

“Sungguh aku telah menyebarkan 50.000 buku, surat dan bulletin di negeri ini dan di negeri islam lainnya yang menjelaskan bahwa Pemerintah Inggris adalah pemilik kelebihan dan anugrah. Dan sesungguhnya wajib bagi semua muslim untuk mentaati pemerintah ini dengan sebenar-benarnya ketaatan”. (Ruhani Khazain, jilid 15, hal. 114)

Mengumpulkan kekayaan
Pendiri Ahmadiyyah telah berambisi mengumpulkan harta yang banyak sampai menurut sangkaannya, dia itu telah menerima 50.000 ilham dan mimpi yang berkaitan dengan masalah harta dan hadiah. Dia berkata :
“Ingatlah, bahwa diantara kebiasaan Allah bersamaku adalah Dia selalu memberitahukan kepadaku melalui ilham atau mimpi mengenai kedatangan uang dan hadiah untukku sebelum aku menerimanya. Dan sungguh ilham dan mimpi semacam ini telah terjadi lebih dari 50.000 kali”. (Ruhani Khazain, jilid 22, hal. 346).

Pada tanggal 5 Maret 1905M Mirza Ghulam berkata : “Aku bermimpi bertemu seorang malaikat dengan bentuk manusia. Dia datang di depanku dan memberiku uang yang banyak. Dia menyimpannya di kamarku. Maka aku bertanya mengenai namanya. Dia menjawab : “Aku tidak memiliki nama”. Maka aku berkata : “Engkau pasti punya nama”. Maka dia menjawab : “Namaku Tichee Tichee”. (Ruhani Khazain, jilid 22, hal. 346).

Dengan demikian, telah nyata bahwa ambisi kaum Ahmadiyyah untuk mengumpulkan harta itu sangatlah besar. Bagi setiap orang Ahmadi harus menyerahkan 6.25% penghasilan bulanannya untuk administrasi jamaahnya. Hal ini disebut donasi umum. Dan bagi seorang Ahmadi yang berwasiat ingin dikuburkan di pekuburan surga yang telah dibangun Mirza Ghulam bagi para pengikutnya di Qadiyan, harus menyerahkan tidak kurang dari 10% penghasilan bulanannya. Dan wajib pula baginya untuk mewasiatkan paling sedikit 10% harta peninggalannya bagi golongan Ahmadiyyah.
Baca selanjutnya......

Rabu, Juli 23, 2008

Sucikanlah Nama Allah


Sangat tidak mungkin jika Tuhan itu lebih dari satu. Karena Tuhan itu Maha Kuat. Bayangkan jika ada yang maha kuat dengan jumlah lebih dari satu, maka yang terjadi adalah kehancuran :
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”.
(Al Anbiya (21) : 22)

Tidak mungkin ada makhluk yang menyerupai Allah. Karena keserupaan dengan-Nya berarti kelemahan-Nya.
“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Maha Melihat”.
(As Syuraa (42) : 11)

Apalagi jika ada anggapan bahwa Allah membutuhkan makhluk, hal ini sangat tidak mungkin. Sedangkan semua makhluk itu adalah ciptaan-Nya, dipelihara oleh-Nya, sehingga makhluk-makhluk lah yang membutuhkan-Nya, bukan sebaliknya.
“Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah. Dan Allah, Dia-lah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), lagi Maha Terpuji”.
(Faathir (35) : 15)

Tetapi orang-orang musyrik telah menganggap Allah memiliki anak. Mereka telah menyerupakan Allah dengan makhluk dan mereka beranggapan bahwa Allah membutuhkan makhluk.
“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah. Dia-lah yang Maha Kaya. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kalian tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kalian mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui?”.
(Yunus (10) : 68)

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah diantara tuduhan orang-orang musyrik kepada Allah. Mereka menetapkan sifat-sifat makhluk kepada Allah.

Diantara perlakuan orang-orang kafir Makkah yang merendahkan Allah adalah penetapan Al Lata, Al ‘Uzza dan Manah sebagai putri-putri Allah. Padahal ketika itu mereka tidak menyukai anak perempuan dan mereaka bangga terhadap anak laki-laki :
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza”,
“Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?”,
“Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?”.
“Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil”.
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) mereka. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”.
(An Najm (53) 19-23)

Diantara perlakuan kaum musyrikin Makkah yang lainnya adalah mereka suka mempersembahkan makanan kepada Allah, padahal Allah tidak membutuhkan makanan. Dan ketika mereka mempersembahkan makanan, mereka berbuat ketidakadilan pula. Karena mereka lebih mangutamakan makanan untuk berhala-berhala daripada untuk Allah. Persembahan untuk Allah bisa diberikan kepada berhala-berhala dan tidak berlaku sebaliknya.
“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan Ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah. Dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu”.
(Al An’am (6) : 136)

Allah Maha Suci dan Maha Tinggi. Allah swt. bersih dari sifat-sifat makhluk yang rendah. Bagi-Nya ada nama-nama yang baik (al asma al husna) yang sekaligus menjadi sifat-sifat-Nya.
“Dia - lah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
“Dia - lah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menganugrahkan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan”.
“Dia – lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membuat bentuk, bagi Dia – lah al asma-ul husna (nama – nama yang terbaik). Mensucikan-Nya segala hal yang ada di langit dan bumi. Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ”.
(Al Hasyr (59) : 22-24)

“Katakanlah, serulah Allah atau serulah Ar Rahman, dengan nama mana saja kamu seru, bagi Dia ada al asma-ul husna (nama – nama yang terbaik)”
(Al Isra (17) : 110)

Dari Abu Hurairoh r.a., Nabi saw. bersabda :
“Sesungguhnya bagi Allah ada sembilan puluh sembilan nama, yakni seratus dikurangi satu. Barangsiapa menghitungnya, akan masuk surga”
(H.R. Bukhari & Muslim) Baca selanjutnya......

Selasa, Juli 22, 2008

Tidak, kecuali dikehendaki-Nya

Mei 2008

Suatu ketika seorang costumer meminta saya menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai target yang dia buat. Ketika saya bilang “insya Allah”, spontan dia berkata : “Jangan insya Allah, ini harus selesai sesuai target, kamu sanggup atau tidak?”. Lho…memangnya ada yang lebih dari ungkapan ‘insya Allah’?.

Sejenak saya berburuk sangka, mungkin aqidah orang ini sedikit bengkok ya. Karena merasa bahwa manusia bisa menjadi penentu dalam mewujudkan rencananya. Padahal hanya Tuhan yang menentukan wujud atau tidaknya segala hal. Bahkan kita tak kuasa untuk memilih, hanyalah Dia yang memutuskan. Jika kita mengaku berkemampuan memilih dan mewujudkan, maka kita telah mempersekutukan-Nya (28 : 68).
Tapi kemudian muncul lagi prasangka baik saya. Mungkin bukan kebengkokan aqidah yang dia derita, tetapi hanya persepsi yang salah mengenai makna ungkapan “insya Allah” ini.

Karena manusia tidak bisa menjadi penentu, maka ketika kita mengungkapkan sebuah rencana hendaknya kita kaitkan rencana itu dengan kehendak-Nya, insya Allah, jika Dia menghendaki. Tanpa ungkapan ini, janganlah sekali – kali kita menjanjikan sesuatu, karena Kanjeng Nabi pernah ditegur Tuhan setelah berjanji bahwa besok akan menyampaikan kisah ashabul kahfi (18 : 23 – 24).

Inilah ketajaman sikap. Inilah aqidah murni tanpa mempersekutukan-Nya. Inilah kesadaran dan keyakinan bahwa kita bukan sekutu-Nya. Bahwa semua rencana dan usaha kita hanya akan terwujud jika Dia menghendaki-Nya.

Ungkapan insya Allah adalah sebuah komitmen, bahwa kita akan berusaha mewujudkan rencana kita, tetapi bersamaan dengan itu kita menyadari, seberapa hebat usaha kita, niscaya tidak akan terwujud jika Dia berkehendak lain. Dengan kata lain, insya Allah itu berarti ungkapan ‘Ya’ bagi sebuah rencana orang beriman.

Kekeliruan lain pun sering terjadi, ketika “insya Allah” digunakan oleh seseorang yang berencana untuk tidak melakukan sebuah pekerjaan. “Apakah anda akan datang ke rumah saya besok?”, lalu dijawab : “Insya Allah”, dengan maksud “tidak”. Padahal insya Allah berarti “Ya”.

Kekeliruan pun sering terjadi ketika kita mengatakan insya Allah bagi sesuatu yang sedang berlangsung. “Apakah anda sedang puasa?”, lalu dijawab : “Insya Allah”. Padahal pada saat insya Allah itu dikatakan, kehendak-Nya sedang berlangsung, puasa sedang dilakukan . Mungkin jadi benar, jika pertanyaannya berbunyi: “Apakah anda besok akan puasa?” atau “Apakah puasa anda hari ini akan selesai sampai maghrib?”.

Katakan “mungkin tidak” untuk sesuatu yang direncanakan tidak akan dikerjakan. Katakan “ya” untuk sesuatu yang memang sudah atau sedang berlangsung. Katakan “insya Allah” untuk setiap rencana yang ingin kita wujudkan. Bukan hanya formalitas. Bukan hanya tambahan pencarian pahala. Tapi lebih dalam dari itu adalah kelurusan akidah dan kesadaran akan kelemahan diri.

Semoga tidak keliru…..
Baca selanjutnya......

Jumat, Juli 18, 2008

Tertipu oleh Seekor Kucing


Januari 2008

Alkisah… Seorang santri menemukan seekor anak kucing yang sedang kelaparan di pinggir jalan. Karena merasa kasihan, dia pungut kucing itu lalu dibawanya ke pesantren tempat dia mondok. Sejak saat itu, anak kucing itu hidup diantara para santri, makan sisa-sisa makanan mereka dan terkadang bermain bersama mereka. Anak kucing itu, telah bisa mengambil hati para santri.

Ketika anak kucing itu mulai besar dan dia sudah sampai ke usia kumincir ¹), dimulailah gugatan terhadap keberadaan kucing ini karena dianggap telah mengganggu. Karena setiap para santri sedang melaksanakan shalat berjamaah di mesjid, anak kucing ini ikut memasuki mesjid. Namun di dalam mesjid, dia berlari-lari, melompat-lompat, menarik sarung santri yang sedang shalat, bahkan pernah mencakar jari telunjuk santri yang ketika sedang tahiyyat, santri itu menggerak-gerakkan telunjuknya. Maka keadaan yang mengganggu ini cukup menghebohkan pesantren itu. Sehingga muncul wacana untuk membuang anak kucing tersebut.

Karena sangat pentingnya khusyu ketika shalat =(bukan karena pentingnya keberadaan kucing di sebuah pesantren)=, akhirnya Sang Kyai mengeluarkan fatwa mengenai kucing tersebut. Sebuah fatwa bijak yang mengambil jalan tengah, ditulis dengan cat pada sebuah papan dan ditempel pada pohon mangga yang berada di samping mesjid. Fatwa itu berbunyi :
“Apabila waktu shalat tiba, seseorang dari para santri harus mengikat kucing itu ke pohon mangga ini. Lantas melepaskannya kembali apabila shalat sudah selesai”.
Para santri yang selalu bersikap sami’na wa atho’na ²) kepada gurunya, tentunya langsung mengerjakan fatwa tersebut. Dan hal ini selalu terus dikerjakan. Setelah itu mereka terhindar dari gangguan kucing ketika shalat dan kucing itu pun selamat dari rencana pembuangan.

Hari berganti hari dan tahun berganti tahun. Para santri telah berganti beberapa generasi. Tibalah saatnya mendung menyelimuti pesantren itu. Sang Kyai yang dicintai wafat. Pesantren itu menangis. Kesedihan itupun bertambah, karena belum ada seseorang yang layak menggantikan Sang Kyai yang telah tiada. Namun walaupun begitu, beberapa kegiatan pendidikan masih tetap berlangsung sesuai kemampuan yang masih tersisa.

Lalu apa kabar dengan kucing itu?
Kucing itu sudah tua dan tak lama setelah Sang Kyai wafat, kucing itu pun mati. Lantas bertambahlah kebingungan dan kesedihan para santri. Mereka bertambah bingung bukan karena kematian seekor kucing. Tetapi mereka bingung tentang apa yang harus dilakukan setelah kucing itu mati?

Maka dimulailah prilaku polos itu. Para santri menyebar untuk mencari seekor kucing baru yang pantas menggantikan kucing yang telah mati. Agar tradisi mengikat kucing pada waktu shalat bisa tetap dijalankan. Karena mereka menganggap bahwa mengikat kucing pada waktu shalat adalah tradisi yang harus tetap dilestarikan. Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu alasan apa sehingga di pesantren mereka ada tradisi mengikat kucing pada waktu shalat. Yang mereka tahu hanya fatwa Sang Kyai yang masih tertulis pada papan yang berada di pohon mangga itu.

Bukankah suatu ungkapan tidak pernah muncul di ruang hampa ? Pasti selalu ada motivasi dan situasi yang melatar belakanginya.
Semoga tidak keliru………….
___________________________________________________________________________________
¹) kumincir : bahasa sunda, salahsatu tahap hidup anak kucing dimana ia sedang suka bermain, berlari-lari, melompat-lompat, meraih benda yang ada di sekitarnya terutama benda yang bergerak-gerak
²) sami’na wa atho’na : kami mendengar dan kami taat
Baca selanjutnya......

Kamis, Juli 17, 2008

Musa bukan Praja IPDN

April 2007

Ada dua alasan kenapa Thalut diangkat menjadi pemimpin Bani Israil. Pertama, karena Thalut memiliki keluasan ilmu dan kedua, karena Thalut memiliki kekuatan fisik, basthoh fil ‘ilm waljism. Dengan dua hal ini, ia memimpin Bani Israil melawan kekejaman penindasan Jalut (Goliath). Di bawah pimpinan Thalut, Bani Israil berhasil mengalahkan pasukan Jalut yang sangat kuat dan kejam. Pada saat itu pula, muncul anak muda bernama Dawud, yang melalui tangan Dawud lah, Jalut yang perkasa rubuh dan mati. Kemudian setelah Thalut wafat, Dawud menjadi penggantinya dan menjadi seorang Nabi pula.

Keluasan ilmu dan kekuatan fisik merupakan dua hal yang dibutuhkan untuk memimpin Bani Israil pada saat itu. Dua hal ini pula yang dimiliki oleh pemimpin Bani Israil yang lainnya, yakni Nabi Musa.

Keluasan ilmu Nabi Musa sangat hebat, hanya Nabi Khidir yang ilmunya di atas Nabi Musa pada masanya. Sehingga ketika Tuhan memberitahu, bahwa ada seseorang yang ilmunya lebih hebat dari Musa, maka Musa pun pergi mencari Khidir untuk berguru. Namun sayang, Nabi Musa tidak lulus seleksi penerimaan murid baru yang diselenggarakan Nabi Khidir.

Kekuatan fisik Musa, tidak diragukan lagi. Ketika itu Bani Israil termasuk Musa berada di Mesir, mereka menjadi bangsa kelas dua. Mereka ditindas bahkan banyak yang dijadikan budak oleh bangsa Mesir. Suatu ketika, seseorang dari kalangan Bani Israil dikejar-kejar penduduk asli Mesir. Ketika dia berlari, dia bertemu Musa, kemudian meminta pertolongan. Melihat orang dari kalangan bangsanya sedang dianiaya, jiwa korsa Musa mendorongnya untuk membela. Dia menampar orang Mesir itu. Tidak disangka, sekali tamparan Musa membuat orang Mesir itu game over. Begitu kuatnya fisik Musa. Maka kejadian inilah yang membuat Musa pergi meninggalkan Mesir untuk sementara waktu. Dia melarikan diri ke Madyan (Yordania). Dia bertemu dengan Nabi Syu’aib dan menikahi putrinya.

Musa, Thalut dan Dawud adalah orang-orang yang memenuhi karakteristik pemimpin Bani Israil pada masa-masa itu. Namun sekuat apapun ilmu dan fisik mereka, mereka tetap mencintai bangsanya. Tidak pernah menindas juniornya. Thalut tidak menindas Dawud begitupun Musa tidak pernah memukuli Harun.

Suatu saat Nabi Musa meninggalkan Bani Israil untuk sementara waktu dan menitipkan umatnya kepada Nabi Harun. Namun pada saat Musa kembali, dia mendapati umatnya telah berubah akidah. Umatnya sudah menjadi penyembah patung lembu dari emas. Menyaksikan umatnya sesat, Musa marah besar. Dia bertanya kepada Harun tentang kejadian yang sudah menimpa umatnya itu. Dia pegang janggut dan kepala Harun karena kemarahannya. Sampai Harun memohon kepada Musa agar melepaskannya seraya memberikan alasan-alasan atas kejadian yang menimpa umatnya.

Kali ini, Musa benar-benar marah karena akidah umatnya telah rusak. Namun sekalipun teramat besar kemarahan Musa, dia tidak sampai memukuli Harun. Bagaimanapun dia tetap menyayangi saudara dan bangsanya. Jika kemarahan Musa saat itu membuat dia tega memukuli Harun, mungkin akan ada dalam sejarah, bahwa seorang nabi terbunuh oleh nabi yang lain. Untung saja, sekali lagi untung saja… Nabi Musa bukan praja IPDN.


Baca selanjutnya......

Nasib Poligami Kang Ajengan

Februari 2007

Di sekitar Februari 2007, dalam satu minggu yang bersamaan, terjadi dua peristiwa yang cukup menghebohkan panggung sandiwara Indonesia. Di kampung maupun di kota, orang muda maupun orang tua, di rumah maupun di tempat kerja, laki-laki maupun wanita, dari Sabang sampai Merauke kecuali Timor Leste, semuanya membicarakan dua peristiwa ini.

Tersiar berita, bahwa seorang kyai kondang melakukan poligami. Orang-orang termasuk pengagumnya, spontan ber-ghibah ria tentang peristiwa ini. Sampai banyak ibu-ibu yang merasa kecewa berat atas tindakan Kang Ajengan kesayangannya ini, padahal istri pertamanya saja sebagai pihak yang biasanya terkena dampaknya bisa tampil di depan publik seolah tanpa kekecewaan.

Berbagai media masa mendapatkan tambahan bahan tayangan yang bisa menarik penonton. Seperti biasa, tampilah tontonan debat kusir yang tidak membuahkan solusi, yang hanya menunjukkan kegemaran kita sebagai bangsa yang selalu menyelenggarakan konflik. Ada kelompok ekstrim yang menolak mutlak poligami dengan argumentasi masing-masing, baik yang bersifat agama maupun non-agama. Ada kelompok ekstrim pula yang justru mendukung, bahkan dengan tegas berkata jika tidak setuju berarti tidak beriman kepada firman Tuhan.

Emang iya sih, kita mah punya banyak pakar yang pintar-pintar, pinter ngomong maksudnye… .

Oh iya hampir lupa, kita kan lagi menceritakan dua peristiwa yang terjadi dalam minggu yang sama.

Nah…, Peristiwa yang kedua tidak kalah hebohnya. Beredar rekaman film perselingkuhan antara seorang anggota dewan yang terhormat =saya gak tahu, apakah kata “terhormat” ini merupakan kata sifat dari kata “anggota” atau dari kata “dewan”= yang berinisial Y.Z. dengan seorang artis yang berinisial M.E. Saya sendiri sebagai seorang awam di dunia perartisan tidak tahu kalau ada artis yang berinisial M.E. (ungkapan lain daripada saya bilang artis yang gak terkenal…).

Imbasnya, tersiar kabar bahwa beliau bukanlah satu-satunya orang yang bertindak tidak terhormat di lingkungan yang dianggap terhormat itu. Bahkan kata orang neh, bukan kata saya ya…, disana sampai ada rekanan entah berbentuk perusahaan atau tanpa badan usaha yang melakukan business for pleasure. Tentu saja bisnis disana bisa menghasilkan profit besar karena konsumennya orang-orang dengan kelas ekonomi atas atau paling tidak baru beranjak di kelas atas. Namun tentu saja harus memberikan barang yang bukan kualitas rendahan apalagi barang sudah kadaluarsa.

Lantas…. Nun jauh disana, di Istana Negara, Bapak Presiden dikabarkan telah memanggil Menteri Pemberdayaan Perempuan. Namun pemanggilannya ternyata bukan karena tangisan Kartini atas kesalahan pemahaman emansipasi wanita atau karena wanita dijadikan objek atau bahkan menjadi subjek eksploitasi dalam hal kewanitaannya. Bukan pula karena kemarahan Cut Nyak Dien atas tingkah laku wanita bangsanya yang mengadopsi tingkah laku kafir putih musuh Cut Nyak Dien.

Kata orang, pemanggilan menteri itu untuk peninjauan undang-undang yang mengatur tentang pernikahan khususnya jumlah istri pegawai negeri. Dengan kata lain pertemuan di istana ini, diakui atau tidak, terinspirasi oleh peristiwa poligaminya Kang Ajengan. Mungkin hal ini sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi heran, kenapa tidak ada aksi paling tidak tanggapan bagi peristiwa perzinahan yang dilakukan anggota dewan tadi, padahal perbuatan itu sudah disepakati haramnya oleh semua agama, bahkan dianggap haram oleh orang-orang yang biasa melakukannya sekalipun.

Au ah gelap… mungkin karena perzinahan mah dianggap tidak melanggar HAM karena kan suka sama suka, jadi tidak mengganggu orang lain. Buktinya di televisi juga terlihat istri sahnya Y.Z. yang berzina bisa tampil lebih tenang dibanding istri pertamanya Kang Ajengan yang berpoligami. Mungkin juga karena banyak istri-istri yang complain terhadap praktek poligami tetapi tidak complain terhadap praktek prostitusi. Atau mungkin karena dunia memang sudah terbalik, yang halal dianggap haram dan yang haram dianggap halal. Ih…, na’udzu billah.

Be te we, maafin saya ya para ibu-ibu… Bukan maksud saya mendukung poligami. Terus terang saya tidak mendukung poligami, karena memang saya belum sanggup melakukannya. Eh, tidak sanggup melakukannya. Eh salah…, belum sanggup melakukannya. Aduh…. bingung…. kata yang mana ya yang tepat? “belum” atau “tidak”?


Baca selanjutnya......

Selasa, Juli 15, 2008

Mereka Menyekutukan-Nya

Banyak dijelaskan di dalam Al Quran bahwa orang-orang kafir Makkah di masa pra-islam mempercayai bahwa pencipta alam semesta adalah Allah.
Kalau demikian, lalu kenapa mereka tetap disebut sebagai orang-orang kafir?.

Masalahnya, karena mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan Pencipta, tetapi mereka tidak beribadah dan berdoa secara ikhlas kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah swt. berikut :
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah. Jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu?, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?”. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku. kepada- Nya lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”.
(Az Zumar (39) : 38)

Makanya orang-orang kafir Makkah disebut juga kaum musyrikin, yakni orang-orang yang menyekutukan Allah. Karena mereka mempercayai Allah sebagai pencipta, tetapi beribadah dan berdoa kepada yang lain.

Baik kaum musyrikin Makkah maupun orang-orang yang sebelumnya, telah mensejajarkan beberapa makhluk dengan Allah swt. Seperti dikisahkan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah adalah salah seorang dari yang tiga". Padahal tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.
(Al Maidah (5) : 73)

“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Yang demikian itu adalah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Mereka dilaknat Allah, bagaimana mereka sampai berpaling?”.
(At Taubah (9) : 30)

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka berbohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan”.
(Al An ‘am (6) : 100)

Padahal manusia itu diperintah untuk beribadah kepada Allah secara ikhlas, memurnikan pengabdian kepada-Nya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.
(Al Bayyinah (98) : 5)
Baca selanjutnya......

Kamis, Juli 10, 2008

Dengan meminta pertolongan dan barokah-Nya

Yakinkah kita bahwa setiap rencana dan usaha kita akan selalu terjadi? Bukankah seringkali rencana-rencana kita tidak terwujud meskipun segala upaya sudah kita jalankan? Kesadaran terhadap kenyataan ini membuat kita harus kembali kepada keyakinan keimanan kita atas kekuasaan dan kehendak-Nya. Bahwa segala hal itu terjadi, hanya atas kehendak-Nya. Simaklah firman-Nya berikut :
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih yang dikehendaki-Nya, mereka tak punya pilihan, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari segala hal yang mereka persekutukan”.
(Al Qoshosh : 68)


Atas dasar keyakinan terhadap kelemahan diri dan juga keyakinan bahwa semua yang terjadi itu hanyalah terjadi atas kehendak-Nya, maka kita mengharapkan pertolongan Allah ketika manjalankan setiap aktifitas. Sehingga ketika kita memulai suatu aktifitas, meluncurlah ungkapan “bismillah”, “Dengan nama Allah”. Karena kita mengharapkan pertolongan-Nya agar aktifitas kita itu bisa membuahkan hasil sesuai rencana. Dengan kata lain, bacaan basmalah ini terungkap karena kita mengharapkan pertolongan Allah ketika melakukan suatu aktifitas.

Jika rencana dan pekerjaan itu telah terwujud, yakinkah kita bahwa hasil dari pekerjaan yang kita anggap baik itu akan membuahkan kebaikan juga? Siapa yang bisa menjamin? Bukankah seringkali terjadi anugrah kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepada kita, tidak bisa kita gunakan untuk meraih berbagai kebaikan dan kenikmatan yang lain. Terkadang anugrah ilmu untuk kita, tidak bisa kita gunakan untuk kebaikan. Terkadang anugrah harta untuk kita, tidak bisa kita manfaatkan untuk kebaikan pula. Bahkan terkadang ilmu dan harta membuahkan hasil yang ironis, manakala seseorang yang dianugerahi kenikmatan malah menggunakan kenikmatan anugerah-Nya itu untuk berbuat maksiat kepada-Nya.

Kalau keadaannya seperti itu, berarti kita harus mengharapkan berkah dari-Nya. Agar setiap anugrah kebaikan itu bisa tetap menjadi kebaikan bahkan berkembang menghasilkan kebaikan-kebaikan yang lain. Untuk harapan ini pula, kita mebaca basmalah. Supaya segala aktifitas kita disertai berkah dari-Nya.

Inilah bimbingan dari Allah kepada kita agar senantiasa mengingat nama-Nya ketika membuka setiap aktifitas. Sehingga aktifitas kita itu akan ditolong dan diberkahi oleh-Nya. Dan kita pun menemukan banyak bimbingan praktis tentang penyebutan nama Allah mengawali setiap aktifitas ini di dalam berbagai hadits dari Rasulullah Muhammad saw.
Baca selanjutnya......

Rabu, Juli 09, 2008

Selalu dengan Nama-Nya


Seandainya tiba-tiba seseorang mengatakan kalimat : “Dengan pena”, dan tidak ada kata-kata lain yang menyertai kalimat yang diucapkannya itu, maka yang mungkin terlintas di dalam pikiran kita adalah anggapan bahwa kalimat tersebut tidaklah utuh karena tidak memberikan makna yang jelas.

Sebenarnya, kita bisa mengetahui maksud perkataan orang itu, jika kita mengenal situasi yang melatarbelakanginya.
Mungkin orang itu mengatakan “Dengan pena” sambil mengarahkan kalimat tersebut kepada orang lain yang akan menulis tetapi mengambil pensil.
Mungkin juga orang itu mangatakannya setelah ada orang lain yang bertanya kepadanya, “Dengan apa kau tulis surat ini?”. Kemudian dia menjawab, “Dengan pena”.
Dan masih ada kemungkinan lain yang merupakan situasi yang melatarbelakangi meluncurnya ungkapan “Dengan pena” dari orang itu sehingga potongan kalimat tersebut menjadi bermakna bagi pendengarnya.

Jadi, ungkapan “Dengan pena” dari orang itu hanyalah merupakan bagian dari sebuah kalimat. Sedangkan bagian kalimat yang lainnya dijelaskan oleh situasi yang menyertai pada saat kalimat tersebut diungkapkan.


Begitupun jika tiba-tiba kita mendengar seseorang membaca “Bismillah”, “Dengan nama Allah”.
Bacaan ini merupakan bagian dari sebuah kalimat yang utuh. Artinya ada bagian lain dari kalimat ini yang tidak dikatakan. Jika kita mengetahui bagian kalimat yang tidak dikatakan ini, maka kita bisa mengetahui apa sebenarnya seuatu yang ‘dengan nama Allah‘ itu ?”.

Tidaklah sulit untuk mengetahui bagian kalimat yang tidak diungkapkan yang menyertai bacaan basmalah. Kita bisa mengetahuinya dari apa yang dilakukan pembaca basmalah pada saat mengucapkannya. Jika setelah membaca basmalah, orang itu kemudian membaca Al Quran misalnya, maka makna bacaan basmalah orang itu adalah ‘Dengan nama Allah, saya membaca Al Quran’. Jika setelah membaca basmalah kemudian orang itu makan, maka makna bacaan basmalah orang itu adalah ‘Dengan nama Allah, saya makan’. Begitupun ketika bacaan basmalah ini menyertai aktifitas yang lainnya.

Ketika seorang mukmin membaca basmalah sebelum melakukan sesuatu, berarti orang itu melakukan aktifitasnya ‘dengan nama Allah’.

Ada banyak dalil yang membimbing kita untuk menyebut nama-Nya di awal setiap aktifitas. Diantaranya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”
(Al ‘alaq (96): 1)

“Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan”.
(Al an’am (6) : 121)

“Maka makanlah dari apa yang ditangkap (binatang pemburu) untukmu. Dan sebutlah nama Allah atas binatang pemburu itu (ketika melepaskannya)”.
Al Maidah (5) : 4

“Dan Nuh berkata : Naiklah kalian ke dalam kapal dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”.
Huud (11) : 41

Dari Ibnu Abbas r.a. beliau berkata :
“Bahwa Rasulullah saw. tidak mengenalkan pemisah surat (Al Quran) sampai diturunkan bismillahir rahmaanir rahiim”
(H.R. Abu Dawud dan Al Hakim)
Setelah itu para sahabat selalu memulai bacaan Al Quran dengan basmalah.

Bacaan basmalah disunatkan dibaca di awal wudlu berdasarkan sabda Nabi saw. :
“Tidak sempurna wudlu seseorang yang tidak menyebut nama Allah”
(H.R. Ahmad dan Ashabus Sunan)

Disunatkan pula ketika akan makan berdasarkan sabda Nabi saw. :
“Ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang paling dekat denganmu”
(H.R. Muslim)

Disunatkan pula ketika akan melakukan hubungan badan, berdasarkan sabda Rasulullah saw. :
“Seandainya seseorang dari kalian ketika bermaksud mendatangi istrinya membaca “bismillah, Allahumma jannibnasy syaithona, wa jannibisy syaithona ma rozaqtana – dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah syetan dari kami dan jauhkan syetan dari anak yang Engkau anugrahkan kepada kami-”, maka sesungguhnya akan ditakdirkan bagi mereka seorang anak yang tidak akan diganggu oleh syetan selamanya”.
(H.R. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

Masih banyak dalil-dalil lain yang menjelaskan pembacaan basmalah di awal suatu aktifitas.
Baca selanjutnya......