Kata Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ‘Yang Maha Pemurah’ dan ‘Yang Maha Penyayang’. Terjemahan dalam bahasa Indonesia seperti ini bagi dua kata tersebut sebenarnya hanyalah untuk pendekatan makna. Karena makna Ar Rahmaan dan Ar Rahiim yang sesungguhnya tidak bisa terwakili dengan terjemahan tersebut.
Kata Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, keduanya berasal dari akar kata yang sama, yaitu rahmah atau rahmat, yang berarti mengasihi atau menyayangi. Kata rahmaan dan rahiim berarti sesuatu atau seseorang yang bersifat rahmah. Ar Rahmaan dan Ar Rahiim adalah nama Allah, karena memang pada dzat-Nya melekat sifat rahmah ini.
Sifat rahmah atau kasih sayang pada Allah, tentu saja berbeda dengan sifat rahmah yang ada pada diri manusia atau makhluk lain. Di antara gambaran sifat rahmah pada Allah, telah disampaikan pada tulisan yang berjudul “Karena Rahmat-Nya”. Sedangkan tulisan yang ini tidak membicarakan kebesaran rahmah-Nya tetapi akan membicarakan perbedaan antara pengertian rahmah-Nya pada nama Ar Rahmaan dengan rahmah-Nya pada Ar Rahiim.
Perbedaan makna Ar Rahman dengan Ar Rohiim menurut Ibnu Jarir adalah sebagai berikut. Kasih sayang pada Ar Rahmaan merupakan kasih sayang Allah yang diberikan ke semua makhluk, tanpa pandang bulu. Baik orang mukmin maupun orang kafir, orang saleh maupun pendosa di dunia ini mendapat kasih sayang-Nya. Semua makhluk diberi segala kebutuhan untuk kehidupannya. Bahkan binatang sekalipun tetap mendapat curahan kasih sayang-Nya.
Sedangkan kasih sayang pada Ar Rahiim merupakan kasih sayang Allah yang diberikan secara khusus kepada orang beriman. Orang-orang yang tidak beriman tidak akan mendapat kasih sayang-Nya yang ini. Maka Allah Ar Rahiim di akhirat kelak hanya akan memberikan rahmah-Nya kepada orang-orang yang diridhai oleh-Nya.
Mari kita cermati perbedaan penggunaan nama Ar Rahmaan dengan Ar Rahiim pada beberapa firman-Nya berikut ini. Akan tampak perbedaan penggunaan dua nama tersebut, bahwa Ar Rahmaan digunakan dalam kaitan kasih sayang kepada seluruh makhluk. Sedangkan Ar Rahiim digunakan hanya untuk kasih sayang yang berhubungan dengan orang beriman.
Berikut contoh-contoh ayat yang mengandung nama Allah, Ar Rahmaan ;
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?”
(Al Mulk (67) : 3)
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya dia Maha melihat segala sesuatu”.
Al Mulk (67) : 19
“Katakanlah: "Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo bagi mereka, sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepada mereka, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya".
(Maryam (19) : 75)
“Katakanlah: "Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pemurah?" Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingat Tuhan mereka”.
(Al Anbiyaa (21) : 42)
“Kemudian pasti akan kami tarik dari tiap-tiap golongan, siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”.
(Maryam (19) : 69)
Bandingkan dengan firman-Nya berikut ini yang menunjukkan kasih sayang-Nya secara khusus kepada orang-orang beriman, Allah menggunakan nama-Nya Ar Rahiim :
“Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah dia Yang Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”.
(Al Ahzab (33) : 43)
“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(At Taubah (9) : 102)
Selain perbedaan di atas, perbedaan lain adalah nama Ar Rahmaan adalah nama khusus untuk Allah. Tetapi rahiim terkadang digunakan juga untuk makhluk seperti pada firman-Nya :
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) kalian, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman”
(At Taubah (9) : 128)
Kamis, Agustus 14, 2008
Selasa, Juli 29, 2008
Karena Rahmat-Nya
Rahim dijadikan nama untuk salahsatu organ tubuh perempuan tempat tumbuhnya janin. Konstruksi dan sistem kerja rahim telah dibuat sangat baik dan tepat untuk pertumbuhan janin. Segala kebutuhan janin ketika di dalam kandungan diberikan tanpa henti. Begitu pula hal-hal yang akan dibutuhkan di masa yang akan datang, di masa setelah janin itu terlahir menjadi seorang manusia, telah dipersiapkan ketika janin itu di dalam rahim. Semua itu diberikan Allah dengan sempurna, tanpa henti bahkan tanpa pernah diminta. Kita semestinya menyadari betapa besar dan hebat kasih sayang-Nya.
Maka nama rahim untuknya adalah nama yang sangat tepat. Nama ini telah diberikan oleh Allah. Nama ini dibentuk dari salahsatu nama-Nya, yakni Ar Rahman, Yang Maha Pengasih. Karena disana ada kasih sayang-Nya yang tercurah. Dalam sebuah hadits qudsy dinyatakan firman-Nya :
“Aku adalah Ar Rahman, Aku menciptakan rahim dan aku bentuk untuknya sebuah nama dari nama-Ku. Barang siapa menyambungkan rahim itu (silaturrahim) maka Aku menyambungkan dia dan barangsiapa yang memutuskan rahim itu maka aku memutuskan dia”
(H.R. At Tirmidzi dari Abdurrahman bin Auf)
Ketika janin itu telah lahir di bumi sebagai seorang bayi, kasih sayang-Nya tetap nyata. Di antara kasih sayang-Nya dihantarkan melalui manusia yang disebut sebagai orang tua bayi itu. Padahal jika dipikir-pikir, bayi itu merepotkan orang tuanya, tetapi malah orang tuanya itu rela mengorbankan apapun untuk membela dan menyayangi bayinya. Ternyata, kecenderungan sikap untuk mencintai anak-anak telah dibuat-Nya menjadi fitrah manusia.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.
(Ali Imran (3) : 14)
Jika terus menelusuri nikmat dan kasih sayang-Nya, maka akan habis waktu kita tanpa keberhasilan menyebutkan semua nikmat-Nya itu. Coba kita sebutkan, ada berapa nikmat pada mata kita? Jangankan pada mata, berapa nikmat yang ada pada bagian dari mata, bulu mata misalnya. Wah, teramat sulit menghitung-hitung nikmat dan kasih sayang-Nya itu.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(An Nahl (16) : 18)
Jika mau menghitung secara matematis, apa yang harus kita lakukan untuk membayar segala nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita? Sanggupkah shalat kita yang tidak berkualitas ini membayar segala nikmat-Nya ini?. Jangan hanya shalat, semua yang kita anggap sebagai prestasi ibadah kita, telah sanggupkah membayar semua nikmat-Nya. Jangankan semua nikmat-Nya, nikmat diberi satu biji mata saja tidak akan terbayar oleh seluruh ibadah yang sudah kita lakukan. Bukankah jika ada orang yang mau membeli satu biji mata kita, kita tidak akan mau memberikannya, semahal apapun biji mata ini ditawar. Karena memang nikmat dan kasih sayang-Nya itu tidak bisa dinilai dengan apapun.
Apabila seluruh ibadah kita tak akan sanggup membayar nikmat-nikmat dari-Nya, maka apalagi kalau kita berharap agar ibadah kita itu bisa menebus surga. Surga adalah tempat yang dipenuhi segala nikmat-Nya. Surga adalah tempat yang sangat mahal. Mungkinkah ia bisa ditebus dengan seluruh ibadah kita? Sedangkan seluruh ibadah kita itu, untuk membayar nikmat-Nya saja tidak bisa, apalagi untuk menebus surga.
Ternyata benar apa yang dikatakan para ulama, bahwa jika seseorang masuk surga, maka sesungguhnya bukan karena amal ibadahnya. Tetapi hanyalah karena Rahmat-Nya, kasih sayang-Nya. Karena nilai ibadah seorang hamba tak akan sebanding dengan nilai surga. Lagi-lagi manusia tidak bisa lepas dari kasih sayang-Nya, hingga di akhirat sekali pun.
Dan perlu diingat, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan untuk mendapatkan Rahmat-Nya. Ingat firman-Nya :
“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi Rahmat”.
(Ali Imran (3) : 132)
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(At Taubah (9) : 71)
Kamis, Juli 24, 2008
Nama Itu Menggetarkan Hati
Ketika anak panah menghujam jantung. Racunnya terpompa ke pembuluh darah lalu menjalar ke seluruh tubuh. Namun anak panah cinta mengeluarkan racun-racun cinta, racun-racun yang membuat melayang dan hampir gila. Lantas, berbagai rasa bercampur, membaur tidak teratur.
Berbagai kesenangan telah nyata tanpa diminta, sekalipun pintu-pintu kesalahan terus kubuka.
Aku menyesal, aku takut ditinggalkan, aku rindu pertemuan.
Engkau bisa murka tetapi Engkau juga penyayang.
Aku pernah tak sabar, aku pernah berburuk sangka, aku pernah merasa kecewa, aku pernah berpaling bahkan mungkin pernah mendua. Aku takut Engkau cemburu.
Maka berilah aku istiqamah dan ikhlas di jalan cinta-Mu.
Berikan kepadaku husnudz dzan, sabar, tawakkal dan ridha terhadap semua anugrah-Mu.
Aku hanya seorang hamba hina yang semestinya aku tunduk tersungkur terhadap apapun kehendak-Mu.
Berilah aku nikmat ketika menyebut nama-Mu.
Berilah aku kekuatan untuk tetap di jalan-Mu.
Agar sekalipun sejuta anak panah musuh mengancam, bahkan menembus tubuh ini, aku tak menggeserkan sujudku.
Semua rasa itu bercampur baur ketika nama-Mu disebut.
Harapanku dan ketakutanku.
Aku ingin seperti orang-orang dalam firman-Mu :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan sempurna) ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya). Dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.
(Al Anfal (8) : 2)
Berbagai kesenangan telah nyata tanpa diminta, sekalipun pintu-pintu kesalahan terus kubuka.
Aku menyesal, aku takut ditinggalkan, aku rindu pertemuan.
Engkau bisa murka tetapi Engkau juga penyayang.
Aku pernah tak sabar, aku pernah berburuk sangka, aku pernah merasa kecewa, aku pernah berpaling bahkan mungkin pernah mendua. Aku takut Engkau cemburu.
Maka berilah aku istiqamah dan ikhlas di jalan cinta-Mu.
Berikan kepadaku husnudz dzan, sabar, tawakkal dan ridha terhadap semua anugrah-Mu.
Aku hanya seorang hamba hina yang semestinya aku tunduk tersungkur terhadap apapun kehendak-Mu.
Berilah aku nikmat ketika menyebut nama-Mu.
Berilah aku kekuatan untuk tetap di jalan-Mu.
Agar sekalipun sejuta anak panah musuh mengancam, bahkan menembus tubuh ini, aku tak menggeserkan sujudku.
Semua rasa itu bercampur baur ketika nama-Mu disebut.
Harapanku dan ketakutanku.
Aku ingin seperti orang-orang dalam firman-Mu :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan sempurna) ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya). Dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.
(Al Anfal (8) : 2)
Mengenal Hasan bin Mahmud 'Audah
Hasan bin Mahmud ‘Audah berkesempatan untuk mengenal golongan Ahmadiyyah ini dari dalam. Dia dilahirkan oleh dua orangtua dari golongan Ahmadiyyah dan tumbuh besar sebagai bagian dari kaum Ahmadiyyah. Bahkan dia pernah bekerja sebagai Direkur Umum Departemen Bahasa Arab Jamaah Ahmadiyyah di London dan juga sebagai penerjemah khusus bagi Khalifah Al Masih IV (Khalifah Kaum Ahmadiyyah). Dia juga pernah menjadi editor pada pimpinan redaksi majalah internasional Ahmadiyyah berhahasa arab yang diterbitkan di London. Lebih jauh lagi dia menghabiskan beberapa bulan di tempat kelahiran Ahmadiyyah, yakni Qadiyan, untuk belajar bahasa urdu, bahasa yang digunakan oleh pendiri Ahmadiyyah untuk menulis kebanyakan buku-bukunya dan surat-suratnya.
Di dalam bagian muqaddimah bukunya yang berjudul Al Ahmadiyyah, ‘Aqaa-id wa Ahdaats (versi bahasa arab) atau Ahmadiyya, beliefs and Experiences (versi bahasa inggris), Hasan bin Mahmud ‘Audah menjelaskan bahwa sejak Allah memberikan hidayah kepadanya untuk meninggalkan Ahmadiyyah, dirinya bertekad untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk menyebarkan ilmu islam dan membeberkan penyimpangan, kebatilan dan ‘aqidah rusak golongan Ahmadiyyah. Di antara bagian penting dalam melaksanakan tekadnya ini, dia telah mendirikan majalah Attaqwa International pada tahun 1411 H (1990M). Dan sampai Mei 1998 (saat penulisan buku ini), sudah dipublikasikan 26 judul majalah mengenai Ahmadiyyah ini.
Sejak beberapa tahun, pikiran Hasan bin Mahmud ‘Audah telah telah dipenuhi keinginan untuk menerbitkan sebuah buku yang komprehensif yang menjelaskan tentang hakikat Ahmadiyyah sebagaimana pengalamannya disertai bukti-bukti dari beberapa buku sumber utama ajaran Ahmadiyyah. Dia mengumpulkan berbagai sumber yang terpercaya sehingga bisa menjawab segala aspek yang dikemukakan oleh kelompok Ahmadiyyah yang sudah mengaku kenabian Mirza Ghulam Ahmad sejak dari seratus tahun yang lalu. Maha benar Allah dengan firman-Nya :
“Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang membuat kedustaan terhadap Allah, atau orang yang berkata : “Telah diwahyukan kepadaku”, padahal tidak ada sesuatu pun yang diwahyukan kepadanya, dan orang yang berkata : “Aku akan menurunkan sesuatu seperti apa yang telah Allah turunkan”. Alangkah dahsyatnya sekiranya engkau melihat orang-orang dzalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata) : “Keluarkanlah nyawamu”, Di hari ini kalian dibalas dengan siksa yang menghinakan karena kalian selalu mengatakan kepada Allah perkataan yang tidak benar dan karena kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. (Al An’am (6) : 93)
Akhirnya Allah membantu harapannya sehingga jadilah bukunya itu. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang mendengar seruan-Nya dan kemudian bisa mengikutinya.
Di dalam bagian muqaddimah bukunya yang berjudul Al Ahmadiyyah, ‘Aqaa-id wa Ahdaats (versi bahasa arab) atau Ahmadiyya, beliefs and Experiences (versi bahasa inggris), Hasan bin Mahmud ‘Audah menjelaskan bahwa sejak Allah memberikan hidayah kepadanya untuk meninggalkan Ahmadiyyah, dirinya bertekad untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk menyebarkan ilmu islam dan membeberkan penyimpangan, kebatilan dan ‘aqidah rusak golongan Ahmadiyyah. Di antara bagian penting dalam melaksanakan tekadnya ini, dia telah mendirikan majalah Attaqwa International pada tahun 1411 H (1990M). Dan sampai Mei 1998 (saat penulisan buku ini), sudah dipublikasikan 26 judul majalah mengenai Ahmadiyyah ini.
Sejak beberapa tahun, pikiran Hasan bin Mahmud ‘Audah telah telah dipenuhi keinginan untuk menerbitkan sebuah buku yang komprehensif yang menjelaskan tentang hakikat Ahmadiyyah sebagaimana pengalamannya disertai bukti-bukti dari beberapa buku sumber utama ajaran Ahmadiyyah. Dia mengumpulkan berbagai sumber yang terpercaya sehingga bisa menjawab segala aspek yang dikemukakan oleh kelompok Ahmadiyyah yang sudah mengaku kenabian Mirza Ghulam Ahmad sejak dari seratus tahun yang lalu. Maha benar Allah dengan firman-Nya :
“Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang membuat kedustaan terhadap Allah, atau orang yang berkata : “Telah diwahyukan kepadaku”, padahal tidak ada sesuatu pun yang diwahyukan kepadanya, dan orang yang berkata : “Aku akan menurunkan sesuatu seperti apa yang telah Allah turunkan”. Alangkah dahsyatnya sekiranya engkau melihat orang-orang dzalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata) : “Keluarkanlah nyawamu”, Di hari ini kalian dibalas dengan siksa yang menghinakan karena kalian selalu mengatakan kepada Allah perkataan yang tidak benar dan karena kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. (Al An’am (6) : 93)
Akhirnya Allah membantu harapannya sehingga jadilah bukunya itu. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang mendengar seruan-Nya dan kemudian bisa mengikutinya.
Resensi Buku Al Ahmadiyyah, 'Aqaa-id wa Ahdaats
Buku yang berjudul Al Ahmadiyyah, ‘Aqaa-id wa Ahdaats (versi bahasa arab) atau Ahmadiyya, Beliefs and Experiences (versi bahasa inggris) membeberkan tentang pengalaman pengarangnya, Hasan bin Mahmud ‘Audah seorang Ahmady dan aktifis Jama’ah Islamiyyah Ahmadiyyah.
Buku ini, menjadi referensi penting yang memperkenalkan hakikat golongan Ahmadiyyah dan ‘Aqidahnya. Dan juga mengenalkan pendirinya, yakni orang yang mengaku Al Mahdi, Al Masih dan Nabi akhir zaman. Buku ini menjadi referensi penting untuk mengenal struktur sosial dan administrasi organisasi golongan ini. Buku ini membeberkan hakikat kesesatan Ahmadiyyah dengan cara yang bisa dipercaya. Seandainya posisi-posisi penting di golongan ini tidak pernah dialami oleh pengarang buku ini, maka bukti-bukti dan dokumen-dokumen tentang kesesatannya mungkin tidak bisa terang-benderang seperti yang bisa ditemukan pada buku ini.
Penyusun buku ini berharap agar buku ini menjadi cermin bagi kaum Ahmadiyyah sehingga mereka bisa melihat fakta yang disembunyikan oleh pendiri Ahmadiyyah. Semoga setelah mereka mengetahui fakta ini, mereka bisa mengenal kebenaran dengan jelas, bisa kembali ke jalan yang benar, bertawakkal kepada Allah dan mendapatkan hidayah-Nya. Pengarang juga ingin menginformasikan kepada kaum muslimin, khususnya para da’i tentang kesesatan dan menyesatkannya golongan ini. Dan semoga buku ini bisa menjawab berbagai cara propaganda yang biasa dilakukan kaum Ahmadiyyah.
Buku ini diterbitkan oleh Yayasan At Taqwa Al ‘Alamiyyah, Rabi’ul Awwal 1421 H (Juni 2000)
Attaqwa Establishment International, P.O. Box 1212 SL2 5LS, England
www.attaqwa.net www.attaqwa.org www.attaqwa.com
Sekilas tentang Ahmadiyyah
Pengertian
Ahmadiyyah adalah sebuah golongan yang tidak hanya menghubungkan golongannya kepada islam tetapi juga mengaku bahwa mereka adalah golongan yang selamat dan merupakan representasi islam itu sendiri. Ahmadiyyah dikenal juga dengan nama Qadiyaniyyah atau Mirzaniyyah dan sekarang mereka menyebut golongannya dengan nama Jama’ah Islam Ahmadiyyah.
Ahmadiyyah didirikan oleh seseorang yang mengaku nabi, berasal dari Qadiyan, Mirza Ghulam Ahmad pada tanggal 23 Maret 1889, di kota Ludhiana, Punjab, India, sebuah kota yang disebut oleh kaum Ahmadiyyah dengan sebutan Darul Bai’ah (tempat bai’at).
Seandainya para pengikut Ahmadiyyah memahami hakikat ajaran Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyan, insya Allah mereka akan meninggalkan ajaran Ahmadiyyah ini. Hal ini dibuktikan oleh Hasan bin Mahmud ‘Audah, seorang mantan Ahmady dan aktifis Jama’ah Islam Ahmadiyyah. Pada bukunya yang berjudul Al Ahmadiyyah, ‘Aqaa-id wa Ahdaats (versi bahasa arab) atau Ahmadiyya, beliefs and Experiences (versi bahasa inggris), dia membeberkan bukti-bukti kesesatan golongan ini beserta bukti-buktinya.
Di dalam bukunya tersebut, Hasan bin Mahmud ‘Audah membeberkan bukti-bukti yang bersumber dari buku At Tadzkirah, yaitu buku yang dipercayai golongan Ahmadiyyah sebagai kumpulan wahyu dari Allah kepada Mirza Ghulam Ahmad dan buku Ruhani Khazain, yaitu buku kumpulan buku-buku, surat-surat dan perkataan Mirza Ghulam Ahmad. Diantara yang menjadi salahsatu kesulitan orang-orang dari golongan Ahmadiyyah untuk mempelajari buku-buku ini adalah karena bahasanya yang merupakan campuran bahasa inggris dan bahasa urdu.
Keyakinan
Diantara penegasan Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyan, pendiri Ahamadiyyah adalah :
“Allah telah menjadikanku sebagai seorang nabi dan telah memanggilku dengan sebutan tersebut dengan sangat jelas”. (Ruhani Khazain, jilid 15 hal. 134).
“Aku adalah Al Masih, aku adalah Al Kaliim (yang diajak bicara oleh Allah), aku adalah Muhammad dan aku adalah Ahmad yang terpilih”. (Ruhani Khazain, jilid 15, hal. 134)
“Allah telah menurunkan kepadaku wahyu ini “Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersama dia adalah ……” (*). Di dalam wahyu ilahy yang ini aku disebut Muhammad dan disebut juga sebagai rasul”. (Ruhani Khazain, jilid 18, hal. 207).
[(*)Surat Al Fath : 29]
“Untuk menetapkan kerasulanku, sungguh Allah telah menurunkan banyak tanda-tanda (mukjizat) yang apabila tanda-tanda ini dibagikan kepada seribu nabi, maka para nabi itu akan ditetapkan sebagai rasul pula. Tetapi syetan-syetan dari kalangan manusia tidak mau membenarkannya”. (Ruhani Khazain, jilid 23, hal. 332).
“Aku bersumpah demi Allah, sungguh aku beriman kepada wahyu yang turun kepadaku seperti aku beriman kepada Al Quran dan kitab-kitab lain yang turunk dari langit. Dan sesungguhnya aku beriman bahwa wahyu-wahyu itu diturunkan kepadaku dari Allah sebagaimana aku beriman bahwa Al Quran diturunkan dari-Nya”. (Ruhani Khazain, jilid 22, hal. 220).
“Sesungguhnya aku menerima wahyu syari’at juga”. (Ruhani Khazain, jilid 17, hal. 430) (**).
[(**) Para pengikut Ahmadiyyah sering mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak membawa syari’at baru, tetapi hanya melanjutkan syari’at Nabi Muhammad saw., berarti mereka tidak mengetahui perkataan nabi mereka yang ini.]
Orang yang mengaku nabi ini telah berani juga menganggap kafir kaum muslimin yang lain dengan pengakuannya bahwa Allah telah menyampaikan wahyu berikut ini kepadanya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengikutimu dan tetap berbeda denganmu, dia itu hanyalah pendosa kepada Allah dan rasul-Nya dan termasuk penghuni neraka jahim”. (At Tadzkirah hal. 342).
Di bagian lain dia mengatakan wahyu palsu : “Sungguh Allah telah menjelaskan kepadaku : “Sesungguhnya setiap orang yang sampai dakwahku kepadanya tetapi tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang muslim dan dia berhak atas siksa dari Allah”. (At Tadzkirah hal 600).
Anak Mirza Ghulam Ahmad, yang dijuluki Al Muslih Al Mau’ud (reformis yang dijanjikan) berkata: “Sesungguhnya kaum muslimin yang tidak berbai’at kepada Al Masih yang dijanjikan (Mirza Ghulam), baik mereka telah mendengar namanya ataupun tidak, mereka adalah orang-orang kafir yang sudah keluar dari lingkaran islam”. (A-inah Shodaqoot hal. 35)
Jama’ah Islamiyyah Ahmadiyyah dan Nabi palsunya (Mirza Ghulam) sudah membuat intisari akidah dan madzhabnya dengan berkata : “Sesungguhnya madzhabku dan akidahku yang sering aku sampaikan berulang-ulang adalah : sesungguhnya islam itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah ketaatan kepada Allah dan bagian kedua adalah ketaatan kepada Pemerintah Inggris…..” (Ruhani Khazain, jilid 6, hal. 38) (***)
[(***) Sangat jelas, bahwa nabi palsu ini adalah orang yang mengorbankan islamnya demi membela habis-habisan Pemerintah Inggris yang menjajah bangsanya saat itu. Karena seperti biasanya, imprealis Eropa pada masa penjajahan takut terhadap munculnya semangat jihad dari kaum muslimin. Mereka tidak takut jika kaum muslimin menjalankan shalat, zakat dan ibadah-ibadah yang lainnya, tetapi mereka takut jika kaum muslimin memahami Al Quran dan menjalankan jihad. Mirza Ghulam Ahmad telah berusaha meredam semangat jihad ini sambil berusaha menarik simpati kaum muslimin dengan cara memuji-muji islam dan Rasulullah Muhammad saw.]
Sasaran
Ahmadiyyah telah membual mengenai kecintaannya terhadap islam dan usaha mereka untuk mempertahankan islam. Mereka memnyampaikan kutipan-kutipan yang dikatakan nabi palsu asal Qadiyan ini yang menyanjung Islam dan Rasulullah saw. Dan sangat jelas bahwa semua anggota kelompok ini adalah orang-orang yang sebelumnya muslimin dan hanya sedikit sekali yang berasal dari agama lain. Jadi sasaran yang paling penting Ahmadiyyah adalah mengajak kaum muslimin dengan caranya agar membenarkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad asal Qadiyan dan membenarkan bahwa dia adalah Al Masih dan Al Mahdi yang dijanjikan.
Aktifitas
Memperkuat Pemerintah Inggris
Mirza Ghulam Ahmad dengan tegas menjelaskan kegiatan terpenting yang dilaksanakannya di masa hidupnya dengan mengatakan : “Aku sudah menghabiskan kebanyakan umurku untuk memperkuat dan membela Pemerintah Inggris”. (Ruhani Khazain, jilid 15, hal. 155)
“Sungguh aku telah menyebarkan 50.000 buku, surat dan bulletin di negeri ini dan di negeri islam lainnya yang menjelaskan bahwa Pemerintah Inggris adalah pemilik kelebihan dan anugrah. Dan sesungguhnya wajib bagi semua muslim untuk mentaati pemerintah ini dengan sebenar-benarnya ketaatan”. (Ruhani Khazain, jilid 15, hal. 114)
Mengumpulkan kekayaan
Pendiri Ahmadiyyah telah berambisi mengumpulkan harta yang banyak sampai menurut sangkaannya, dia itu telah menerima 50.000 ilham dan mimpi yang berkaitan dengan masalah harta dan hadiah. Dia berkata :
“Ingatlah, bahwa diantara kebiasaan Allah bersamaku adalah Dia selalu memberitahukan kepadaku melalui ilham atau mimpi mengenai kedatangan uang dan hadiah untukku sebelum aku menerimanya. Dan sungguh ilham dan mimpi semacam ini telah terjadi lebih dari 50.000 kali”. (Ruhani Khazain, jilid 22, hal. 346).
Pada tanggal 5 Maret 1905M Mirza Ghulam berkata : “Aku bermimpi bertemu seorang malaikat dengan bentuk manusia. Dia datang di depanku dan memberiku uang yang banyak. Dia menyimpannya di kamarku. Maka aku bertanya mengenai namanya. Dia menjawab : “Aku tidak memiliki nama”. Maka aku berkata : “Engkau pasti punya nama”. Maka dia menjawab : “Namaku Tichee Tichee”. (Ruhani Khazain, jilid 22, hal. 346).
Dengan demikian, telah nyata bahwa ambisi kaum Ahmadiyyah untuk mengumpulkan harta itu sangatlah besar. Bagi setiap orang Ahmadi harus menyerahkan 6.25% penghasilan bulanannya untuk administrasi jamaahnya. Hal ini disebut donasi umum. Dan bagi seorang Ahmadi yang berwasiat ingin dikuburkan di pekuburan surga yang telah dibangun Mirza Ghulam bagi para pengikutnya di Qadiyan, harus menyerahkan tidak kurang dari 10% penghasilan bulanannya. Dan wajib pula baginya untuk mewasiatkan paling sedikit 10% harta peninggalannya bagi golongan Ahmadiyyah.
Rabu, Juli 23, 2008
Sucikanlah Nama Allah
Sangat tidak mungkin jika Tuhan itu lebih dari satu. Karena Tuhan itu Maha Kuat. Bayangkan jika ada yang maha kuat dengan jumlah lebih dari satu, maka yang terjadi adalah kehancuran :
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”.
(Al Anbiya (21) : 22)
Tidak mungkin ada makhluk yang menyerupai Allah. Karena keserupaan dengan-Nya berarti kelemahan-Nya.
“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Maha Melihat”.
(As Syuraa (42) : 11)
Apalagi jika ada anggapan bahwa Allah membutuhkan makhluk, hal ini sangat tidak mungkin. Sedangkan semua makhluk itu adalah ciptaan-Nya, dipelihara oleh-Nya, sehingga makhluk-makhluk lah yang membutuhkan-Nya, bukan sebaliknya.
“Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah. Dan Allah, Dia-lah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), lagi Maha Terpuji”.
(Faathir (35) : 15)
Tetapi orang-orang musyrik telah menganggap Allah memiliki anak. Mereka telah menyerupakan Allah dengan makhluk dan mereka beranggapan bahwa Allah membutuhkan makhluk.
“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah. Dia-lah yang Maha Kaya. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kalian tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kalian mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui?”.
(Yunus (10) : 68)
Hal-hal yang disebutkan di atas adalah diantara tuduhan orang-orang musyrik kepada Allah. Mereka menetapkan sifat-sifat makhluk kepada Allah.
Diantara perlakuan orang-orang kafir Makkah yang merendahkan Allah adalah penetapan Al Lata, Al ‘Uzza dan Manah sebagai putri-putri Allah. Padahal ketika itu mereka tidak menyukai anak perempuan dan mereaka bangga terhadap anak laki-laki :
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza”,
“Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?”,
“Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?”.
“Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil”.
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) mereka. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”.
(An Najm (53) 19-23)
Diantara perlakuan kaum musyrikin Makkah yang lainnya adalah mereka suka mempersembahkan makanan kepada Allah, padahal Allah tidak membutuhkan makanan. Dan ketika mereka mempersembahkan makanan, mereka berbuat ketidakadilan pula. Karena mereka lebih mangutamakan makanan untuk berhala-berhala daripada untuk Allah. Persembahan untuk Allah bisa diberikan kepada berhala-berhala dan tidak berlaku sebaliknya.
“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan Ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah. Dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu”.
(Al An’am (6) : 136)
Allah Maha Suci dan Maha Tinggi. Allah swt. bersih dari sifat-sifat makhluk yang rendah. Bagi-Nya ada nama-nama yang baik (al asma al husna) yang sekaligus menjadi sifat-sifat-Nya.
“Dia - lah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
“Dia - lah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menganugrahkan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan”.
“Dia – lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membuat bentuk, bagi Dia – lah al asma-ul husna (nama – nama yang terbaik). Mensucikan-Nya segala hal yang ada di langit dan bumi. Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ”.
(Al Hasyr (59) : 22-24)
“Katakanlah, serulah Allah atau serulah Ar Rahman, dengan nama mana saja kamu seru, bagi Dia ada al asma-ul husna (nama – nama yang terbaik)”
(Al Isra (17) : 110)
Dari Abu Hurairoh r.a., Nabi saw. bersabda :
“Sesungguhnya bagi Allah ada sembilan puluh sembilan nama, yakni seratus dikurangi satu. Barangsiapa menghitungnya, akan masuk surga”
(H.R. Bukhari & Muslim)
Selasa, Juli 22, 2008
Tidak, kecuali dikehendaki-Nya
Mei 2008
Suatu ketika seorang costumer meminta saya menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai target yang dia buat. Ketika saya bilang “insya Allah”, spontan dia berkata : “Jangan insya Allah, ini harus selesai sesuai target, kamu sanggup atau tidak?”. Lho…memangnya ada yang lebih dari ungkapan ‘insya Allah’?.
Sejenak saya berburuk sangka, mungkin aqidah orang ini sedikit bengkok ya. Karena merasa bahwa manusia bisa menjadi penentu dalam mewujudkan rencananya. Padahal hanya Tuhan yang menentukan wujud atau tidaknya segala hal. Bahkan kita tak kuasa untuk memilih, hanyalah Dia yang memutuskan. Jika kita mengaku berkemampuan memilih dan mewujudkan, maka kita telah mempersekutukan-Nya (28 : 68).
Tapi kemudian muncul lagi prasangka baik saya. Mungkin bukan kebengkokan aqidah yang dia derita, tetapi hanya persepsi yang salah mengenai makna ungkapan “insya Allah” ini.
Karena manusia tidak bisa menjadi penentu, maka ketika kita mengungkapkan sebuah rencana hendaknya kita kaitkan rencana itu dengan kehendak-Nya, insya Allah, jika Dia menghendaki. Tanpa ungkapan ini, janganlah sekali – kali kita menjanjikan sesuatu, karena Kanjeng Nabi pernah ditegur Tuhan setelah berjanji bahwa besok akan menyampaikan kisah ashabul kahfi (18 : 23 – 24).
Inilah ketajaman sikap. Inilah aqidah murni tanpa mempersekutukan-Nya. Inilah kesadaran dan keyakinan bahwa kita bukan sekutu-Nya. Bahwa semua rencana dan usaha kita hanya akan terwujud jika Dia menghendaki-Nya.
Ungkapan insya Allah adalah sebuah komitmen, bahwa kita akan berusaha mewujudkan rencana kita, tetapi bersamaan dengan itu kita menyadari, seberapa hebat usaha kita, niscaya tidak akan terwujud jika Dia berkehendak lain. Dengan kata lain, insya Allah itu berarti ungkapan ‘Ya’ bagi sebuah rencana orang beriman.
Kekeliruan lain pun sering terjadi, ketika “insya Allah” digunakan oleh seseorang yang berencana untuk tidak melakukan sebuah pekerjaan. “Apakah anda akan datang ke rumah saya besok?”, lalu dijawab : “Insya Allah”, dengan maksud “tidak”. Padahal insya Allah berarti “Ya”.
Kekeliruan pun sering terjadi ketika kita mengatakan insya Allah bagi sesuatu yang sedang berlangsung. “Apakah anda sedang puasa?”, lalu dijawab : “Insya Allah”. Padahal pada saat insya Allah itu dikatakan, kehendak-Nya sedang berlangsung, puasa sedang dilakukan . Mungkin jadi benar, jika pertanyaannya berbunyi: “Apakah anda besok akan puasa?” atau “Apakah puasa anda hari ini akan selesai sampai maghrib?”.
Katakan “mungkin tidak” untuk sesuatu yang direncanakan tidak akan dikerjakan. Katakan “ya” untuk sesuatu yang memang sudah atau sedang berlangsung. Katakan “insya Allah” untuk setiap rencana yang ingin kita wujudkan. Bukan hanya formalitas. Bukan hanya tambahan pencarian pahala. Tapi lebih dalam dari itu adalah kelurusan akidah dan kesadaran akan kelemahan diri.
Semoga tidak keliru…..
Suatu ketika seorang costumer meminta saya menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai target yang dia buat. Ketika saya bilang “insya Allah”, spontan dia berkata : “Jangan insya Allah, ini harus selesai sesuai target, kamu sanggup atau tidak?”. Lho…memangnya ada yang lebih dari ungkapan ‘insya Allah’?.
Sejenak saya berburuk sangka, mungkin aqidah orang ini sedikit bengkok ya. Karena merasa bahwa manusia bisa menjadi penentu dalam mewujudkan rencananya. Padahal hanya Tuhan yang menentukan wujud atau tidaknya segala hal. Bahkan kita tak kuasa untuk memilih, hanyalah Dia yang memutuskan. Jika kita mengaku berkemampuan memilih dan mewujudkan, maka kita telah mempersekutukan-Nya (28 : 68).
Tapi kemudian muncul lagi prasangka baik saya. Mungkin bukan kebengkokan aqidah yang dia derita, tetapi hanya persepsi yang salah mengenai makna ungkapan “insya Allah” ini.
Karena manusia tidak bisa menjadi penentu, maka ketika kita mengungkapkan sebuah rencana hendaknya kita kaitkan rencana itu dengan kehendak-Nya, insya Allah, jika Dia menghendaki. Tanpa ungkapan ini, janganlah sekali – kali kita menjanjikan sesuatu, karena Kanjeng Nabi pernah ditegur Tuhan setelah berjanji bahwa besok akan menyampaikan kisah ashabul kahfi (18 : 23 – 24).
Inilah ketajaman sikap. Inilah aqidah murni tanpa mempersekutukan-Nya. Inilah kesadaran dan keyakinan bahwa kita bukan sekutu-Nya. Bahwa semua rencana dan usaha kita hanya akan terwujud jika Dia menghendaki-Nya.
Ungkapan insya Allah adalah sebuah komitmen, bahwa kita akan berusaha mewujudkan rencana kita, tetapi bersamaan dengan itu kita menyadari, seberapa hebat usaha kita, niscaya tidak akan terwujud jika Dia berkehendak lain. Dengan kata lain, insya Allah itu berarti ungkapan ‘Ya’ bagi sebuah rencana orang beriman.
Kekeliruan lain pun sering terjadi, ketika “insya Allah” digunakan oleh seseorang yang berencana untuk tidak melakukan sebuah pekerjaan. “Apakah anda akan datang ke rumah saya besok?”, lalu dijawab : “Insya Allah”, dengan maksud “tidak”. Padahal insya Allah berarti “Ya”.
Kekeliruan pun sering terjadi ketika kita mengatakan insya Allah bagi sesuatu yang sedang berlangsung. “Apakah anda sedang puasa?”, lalu dijawab : “Insya Allah”. Padahal pada saat insya Allah itu dikatakan, kehendak-Nya sedang berlangsung, puasa sedang dilakukan . Mungkin jadi benar, jika pertanyaannya berbunyi: “Apakah anda besok akan puasa?” atau “Apakah puasa anda hari ini akan selesai sampai maghrib?”.
Katakan “mungkin tidak” untuk sesuatu yang direncanakan tidak akan dikerjakan. Katakan “ya” untuk sesuatu yang memang sudah atau sedang berlangsung. Katakan “insya Allah” untuk setiap rencana yang ingin kita wujudkan. Bukan hanya formalitas. Bukan hanya tambahan pencarian pahala. Tapi lebih dalam dari itu adalah kelurusan akidah dan kesadaran akan kelemahan diri.
Semoga tidak keliru…..
Selasa, Juli 15, 2008
Mereka Menyekutukan-Nya
Banyak dijelaskan di dalam Al Quran bahwa orang-orang kafir Makkah di masa pra-islam mempercayai bahwa pencipta alam semesta adalah Allah.
Kalau demikian, lalu kenapa mereka tetap disebut sebagai orang-orang kafir?.
Masalahnya, karena mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan Pencipta, tetapi mereka tidak beribadah dan berdoa secara ikhlas kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah swt. berikut :
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah. Jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu?, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?”. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku. kepada- Nya lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”.
(Az Zumar (39) : 38)
Makanya orang-orang kafir Makkah disebut juga kaum musyrikin, yakni orang-orang yang menyekutukan Allah. Karena mereka mempercayai Allah sebagai pencipta, tetapi beribadah dan berdoa kepada yang lain.
Baik kaum musyrikin Makkah maupun orang-orang yang sebelumnya, telah mensejajarkan beberapa makhluk dengan Allah swt. Seperti dikisahkan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah adalah salah seorang dari yang tiga". Padahal tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.
(Al Maidah (5) : 73)
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Yang demikian itu adalah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Mereka dilaknat Allah, bagaimana mereka sampai berpaling?”.
(At Taubah (9) : 30)
“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka berbohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan”.
(Al An ‘am (6) : 100)
Padahal manusia itu diperintah untuk beribadah kepada Allah secara ikhlas, memurnikan pengabdian kepada-Nya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.
(Al Bayyinah (98) : 5)
Kalau demikian, lalu kenapa mereka tetap disebut sebagai orang-orang kafir?.
Masalahnya, karena mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan Pencipta, tetapi mereka tidak beribadah dan berdoa secara ikhlas kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah swt. berikut :
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah. Jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu?, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?”. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku. kepada- Nya lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”.
(Az Zumar (39) : 38)
Makanya orang-orang kafir Makkah disebut juga kaum musyrikin, yakni orang-orang yang menyekutukan Allah. Karena mereka mempercayai Allah sebagai pencipta, tetapi beribadah dan berdoa kepada yang lain.
Baik kaum musyrikin Makkah maupun orang-orang yang sebelumnya, telah mensejajarkan beberapa makhluk dengan Allah swt. Seperti dikisahkan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah adalah salah seorang dari yang tiga". Padahal tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.
(Al Maidah (5) : 73)
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Yang demikian itu adalah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Mereka dilaknat Allah, bagaimana mereka sampai berpaling?”.
(At Taubah (9) : 30)
“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka berbohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan”.
(Al An ‘am (6) : 100)
Padahal manusia itu diperintah untuk beribadah kepada Allah secara ikhlas, memurnikan pengabdian kepada-Nya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.
(Al Bayyinah (98) : 5)
Kamis, Juli 10, 2008
Dengan meminta pertolongan dan barokah-Nya
Yakinkah kita bahwa setiap rencana dan usaha kita akan selalu terjadi? Bukankah seringkali rencana-rencana kita tidak terwujud meskipun segala upaya sudah kita jalankan? Kesadaran terhadap kenyataan ini membuat kita harus kembali kepada keyakinan keimanan kita atas kekuasaan dan kehendak-Nya. Bahwa segala hal itu terjadi, hanya atas kehendak-Nya. Simaklah firman-Nya berikut :
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih yang dikehendaki-Nya, mereka tak punya pilihan, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari segala hal yang mereka persekutukan”.
(Al Qoshosh : 68)
Atas dasar keyakinan terhadap kelemahan diri dan juga keyakinan bahwa semua yang terjadi itu hanyalah terjadi atas kehendak-Nya, maka kita mengharapkan pertolongan Allah ketika manjalankan setiap aktifitas. Sehingga ketika kita memulai suatu aktifitas, meluncurlah ungkapan “bismillah”, “Dengan nama Allah”. Karena kita mengharapkan pertolongan-Nya agar aktifitas kita itu bisa membuahkan hasil sesuai rencana. Dengan kata lain, bacaan basmalah ini terungkap karena kita mengharapkan pertolongan Allah ketika melakukan suatu aktifitas.
Jika rencana dan pekerjaan itu telah terwujud, yakinkah kita bahwa hasil dari pekerjaan yang kita anggap baik itu akan membuahkan kebaikan juga? Siapa yang bisa menjamin? Bukankah seringkali terjadi anugrah kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepada kita, tidak bisa kita gunakan untuk meraih berbagai kebaikan dan kenikmatan yang lain. Terkadang anugrah ilmu untuk kita, tidak bisa kita gunakan untuk kebaikan. Terkadang anugrah harta untuk kita, tidak bisa kita manfaatkan untuk kebaikan pula. Bahkan terkadang ilmu dan harta membuahkan hasil yang ironis, manakala seseorang yang dianugerahi kenikmatan malah menggunakan kenikmatan anugerah-Nya itu untuk berbuat maksiat kepada-Nya.
Kalau keadaannya seperti itu, berarti kita harus mengharapkan berkah dari-Nya. Agar setiap anugrah kebaikan itu bisa tetap menjadi kebaikan bahkan berkembang menghasilkan kebaikan-kebaikan yang lain. Untuk harapan ini pula, kita mebaca basmalah. Supaya segala aktifitas kita disertai berkah dari-Nya.
Inilah bimbingan dari Allah kepada kita agar senantiasa mengingat nama-Nya ketika membuka setiap aktifitas. Sehingga aktifitas kita itu akan ditolong dan diberkahi oleh-Nya. Dan kita pun menemukan banyak bimbingan praktis tentang penyebutan nama Allah mengawali setiap aktifitas ini di dalam berbagai hadits dari Rasulullah Muhammad saw.
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih yang dikehendaki-Nya, mereka tak punya pilihan, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari segala hal yang mereka persekutukan”.
(Al Qoshosh : 68)
Atas dasar keyakinan terhadap kelemahan diri dan juga keyakinan bahwa semua yang terjadi itu hanyalah terjadi atas kehendak-Nya, maka kita mengharapkan pertolongan Allah ketika manjalankan setiap aktifitas. Sehingga ketika kita memulai suatu aktifitas, meluncurlah ungkapan “bismillah”, “Dengan nama Allah”. Karena kita mengharapkan pertolongan-Nya agar aktifitas kita itu bisa membuahkan hasil sesuai rencana. Dengan kata lain, bacaan basmalah ini terungkap karena kita mengharapkan pertolongan Allah ketika melakukan suatu aktifitas.
Jika rencana dan pekerjaan itu telah terwujud, yakinkah kita bahwa hasil dari pekerjaan yang kita anggap baik itu akan membuahkan kebaikan juga? Siapa yang bisa menjamin? Bukankah seringkali terjadi anugrah kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepada kita, tidak bisa kita gunakan untuk meraih berbagai kebaikan dan kenikmatan yang lain. Terkadang anugrah ilmu untuk kita, tidak bisa kita gunakan untuk kebaikan. Terkadang anugrah harta untuk kita, tidak bisa kita manfaatkan untuk kebaikan pula. Bahkan terkadang ilmu dan harta membuahkan hasil yang ironis, manakala seseorang yang dianugerahi kenikmatan malah menggunakan kenikmatan anugerah-Nya itu untuk berbuat maksiat kepada-Nya.
Kalau keadaannya seperti itu, berarti kita harus mengharapkan berkah dari-Nya. Agar setiap anugrah kebaikan itu bisa tetap menjadi kebaikan bahkan berkembang menghasilkan kebaikan-kebaikan yang lain. Untuk harapan ini pula, kita mebaca basmalah. Supaya segala aktifitas kita disertai berkah dari-Nya.
Inilah bimbingan dari Allah kepada kita agar senantiasa mengingat nama-Nya ketika membuka setiap aktifitas. Sehingga aktifitas kita itu akan ditolong dan diberkahi oleh-Nya. Dan kita pun menemukan banyak bimbingan praktis tentang penyebutan nama Allah mengawali setiap aktifitas ini di dalam berbagai hadits dari Rasulullah Muhammad saw.
Rabu, Juli 09, 2008
Selalu dengan Nama-Nya
Seandainya tiba-tiba seseorang mengatakan kalimat : “Dengan pena”, dan tidak ada kata-kata lain yang menyertai kalimat yang diucapkannya itu, maka yang mungkin terlintas di dalam pikiran kita adalah anggapan bahwa kalimat tersebut tidaklah utuh karena tidak memberikan makna yang jelas.
Sebenarnya, kita bisa mengetahui maksud perkataan orang itu, jika kita mengenal situasi yang melatarbelakanginya.
Mungkin orang itu mengatakan “Dengan pena” sambil mengarahkan kalimat tersebut kepada orang lain yang akan menulis tetapi mengambil pensil.
Mungkin juga orang itu mangatakannya setelah ada orang lain yang bertanya kepadanya, “Dengan apa kau tulis surat ini?”. Kemudian dia menjawab, “Dengan pena”.
Dan masih ada kemungkinan lain yang merupakan situasi yang melatarbelakangi meluncurnya ungkapan “Dengan pena” dari orang itu sehingga potongan kalimat tersebut menjadi bermakna bagi pendengarnya.
Jadi, ungkapan “Dengan pena” dari orang itu hanyalah merupakan bagian dari sebuah kalimat. Sedangkan bagian kalimat yang lainnya dijelaskan oleh situasi yang menyertai pada saat kalimat tersebut diungkapkan.
Begitupun jika tiba-tiba kita mendengar seseorang membaca “Bismillah”, “Dengan nama Allah”.
Bacaan ini merupakan bagian dari sebuah kalimat yang utuh. Artinya ada bagian lain dari kalimat ini yang tidak dikatakan. Jika kita mengetahui bagian kalimat yang tidak dikatakan ini, maka kita bisa mengetahui apa sebenarnya seuatu yang ‘dengan nama Allah‘ itu ?”.
Tidaklah sulit untuk mengetahui bagian kalimat yang tidak diungkapkan yang menyertai bacaan basmalah. Kita bisa mengetahuinya dari apa yang dilakukan pembaca basmalah pada saat mengucapkannya. Jika setelah membaca basmalah, orang itu kemudian membaca Al Quran misalnya, maka makna bacaan basmalah orang itu adalah ‘Dengan nama Allah, saya membaca Al Quran’. Jika setelah membaca basmalah kemudian orang itu makan, maka makna bacaan basmalah orang itu adalah ‘Dengan nama Allah, saya makan’. Begitupun ketika bacaan basmalah ini menyertai aktifitas yang lainnya.
Ketika seorang mukmin membaca basmalah sebelum melakukan sesuatu, berarti orang itu melakukan aktifitasnya ‘dengan nama Allah’.
Ada banyak dalil yang membimbing kita untuk menyebut nama-Nya di awal setiap aktifitas. Diantaranya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”
(Al ‘alaq (96): 1)
“Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan”.
(Al an’am (6) : 121)
“Maka makanlah dari apa yang ditangkap (binatang pemburu) untukmu. Dan sebutlah nama Allah atas binatang pemburu itu (ketika melepaskannya)”.
Al Maidah (5) : 4
“Dan Nuh berkata : Naiklah kalian ke dalam kapal dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”.
Huud (11) : 41
Dari Ibnu Abbas r.a. beliau berkata :
“Bahwa Rasulullah saw. tidak mengenalkan pemisah surat (Al Quran) sampai diturunkan bismillahir rahmaanir rahiim”
(H.R. Abu Dawud dan Al Hakim)
Setelah itu para sahabat selalu memulai bacaan Al Quran dengan basmalah.
Bacaan basmalah disunatkan dibaca di awal wudlu berdasarkan sabda Nabi saw. :
“Tidak sempurna wudlu seseorang yang tidak menyebut nama Allah”
(H.R. Ahmad dan Ashabus Sunan)
Disunatkan pula ketika akan makan berdasarkan sabda Nabi saw. :
“Ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang paling dekat denganmu”
(H.R. Muslim)
Disunatkan pula ketika akan melakukan hubungan badan, berdasarkan sabda Rasulullah saw. :
“Seandainya seseorang dari kalian ketika bermaksud mendatangi istrinya membaca “bismillah, Allahumma jannibnasy syaithona, wa jannibisy syaithona ma rozaqtana – dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah syetan dari kami dan jauhkan syetan dari anak yang Engkau anugrahkan kepada kami-”, maka sesungguhnya akan ditakdirkan bagi mereka seorang anak yang tidak akan diganggu oleh syetan selamanya”.
(H.R. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)
Masih banyak dalil-dalil lain yang menjelaskan pembacaan basmalah di awal suatu aktifitas.
Langganan:
Postingan (Atom)